Untuk Semesta: Sampai Jumpa

February 26, 2020


Hai, Semesta.

Perasaanku campur aduk ketika mulai membaca suratmu kali ini. Aku tiba-tiba saja merasa sedih. Pertama, karena mengetahui bahwa temanmu baru saja pergi meninggalkan dunia ini. Aku turut berduka, Semesta. Kuharap, temanmu bisa ditempatkan bersama orang-orang yang shalih di sisi Tuhan.

Bersedihlah secukupnya, karena tidak baik jika kau bersedih berlarut-larut. Dan tetaplah menjadi teman yang selalu mendoakannya.

Benar katamu, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Semuanya serba abu-abu, semuanya seperti misteri, seperti kejutan yang menunggu kita di ujung labirin. Segalanya begitu tidak pasti, bahkan kehidupan kita sendiri.

Mengingat itu, aku jadi ingin bercerita tentang hari ini. Masih tentang hujan deras yang datang semalaman sampai bikin banjir lagi di beberapa titik. Entah ini bisa dibilang nikmat Tuhan atau malah bencana, yang jelas aku merasa semua orang sudah terbiasa dengan hal itu. Tetapi tidak untukku.

Aku berangkat bekerja masih dalam hujan deras. Memasuki jalan tol yang hampir terendam banjir juga, aku merasa bahwa waktu ternyata sangat sempit. Tiga jam dan aku baru sampai di kantor. Seharusnya aku sudah bisa sampai di Cirebon kalau naik kereta dari Jakarta. Memasuki tol dalam kota, nyaris kosong. Kendaraan hanya bisa dihitung jari.

Aku sampai kantor dengan selamat walaupun parkiran belakang kantorku juga sudah hampir terendam karena sungainya meluap. Lagi-lagi entah, apakah aku harus bersedih atau bersyukur dengan keadaan ini. Faktanya, hidup ini selalu penuh kejutan yang tidak terduga. Begitupun denganmu.

Semesta, bisa jadi ini surat terakhirku yang akan kauterima. Setelah kau pergi ke Maluku nanti, entah bagaimana caranya aku mengetahui kabarmu lagi. Aku sungguh tidak tahu. Padahal, menunggu surat-suratmu datang sudah seperti candu buatku. Tapi tidak mengapa jika akhirnya kita harus terpisah lebih jauh lagi. Karena nyatanya, doa bisa lebih dekat dari apapun. Dan mungkin aku akan melakukannya untukmu.

Suatu hari nanti aku ingin mendengar cerita-ceritamu dari pedalaman Maluku. Segala apapun itu aku ingin mendengarnya. Maka dari itu, aku punya satu permintaan, Semesta. Kabari aku setelah kau pulang dari Maluku. Dan kau harus berjanji padaku akan hal itu.

Aku tidak ingin panjang lebar menuliskan banyak hal di surat terakhir ini. Rasanya semuanya serba tidak teratur, terlebih harus melepasmu pergi. Ini hal kedua yang membuatku sedih ketika membaca suratmu. Tapi, terima kasih telah menjadi teman cerita yang baik. Semoga di hari kepulanganmu nanti, kita bisa bertemu dan bertukar cerita kembali tanpa dihalangi oleh jarak.

Sehat-sehat selalu, ya. Semoga apa yang kau kerjakan menjadi manfaat bagi sekitarmu.

Salam dari ibu kota,

Aurora.

You Might Also Like

0 comments