Untuk Semesta: Sakit

February 06, 2020


Hai, Semesta.

Aku sungguh bahagia mendapat kabarmu setelah 4 surat yang kukirimkan tak jua mendapat balasan. Sebelumnya, terima kasih sudah mau membalas surat-suratku meski dalam keadaanmu yang sekarang. Aku dalam keadaan baik, tentu saja.

Bagaimana denganmu? Masih di rumah sakit? Atau sudah di rumah? Aku harap keadaanmu lekas pulih. Aku sangat kaget dan sedih mendengar kau mengalami kecelakaan itu. Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana. Menyusulmu ke sana dan menemuimu tentu aku belum bisa. Jadi, sehat-sehatkanlah dirimu. Jangan telat makan dan jangan begadang.

Semesta... Kau pandai sekali memancingku untuk bercerita tentang awal mula aku memanggilmu dengan nama itu. Kau tahu betul ya kalau ingatanku selalu tajam dan detail?

Hari itu hari Senin. Kau menunjukkan padaku sebuah buku berjudul Antariksapedia yang sedang kau baca. Kau begitu menyukai buku itu dan berencana untuk pindah ke Mars.

Sebenarnya tidak ada alasan khusus aku memanggilmu Semesta, tapi melihat kesukaanmu membahas tentang alam semesta membuatku berpikir untuk menyematkan panggilan itu padamu. Sampai sekarang, setiap kali aku pergi ke toko buku dan menemukan buku-buku tentang alam semesta dan sebagainya, aku selalu mengingatmu.

Kau tahu, seorang teman pernah bilang padaku, kalau kamu bingung memberi hadiah apa pada seseorang, cobalah beri dia buku yang ketika kamu  melihat buku itu kamu akan langsung ingat dia. Dan aku menemukan korelasinya sekarang. Kau tetap satu-satunya Semesta yang aku kenal.

Omong-omong, apa dokter bilang ingatanmu akan pulih dengan sempurna? Apa kau akan bisa mengingat segala momen yang pernah kita lewati?

Aku masih sangat ingin mendengar banyak hal darimu. Semoga kau ada waktu untuk membalas yang satu ini. Lekas pulih, ya.

Salam,

Aurora.

Kotaku, 6 Februari 2020.

You Might Also Like

0 comments