Untuk Semesta: Masa Lalu

February 13, 2020


Hai, Semesta.

Hujan turun seharian ini dan aku tak pergi kemana-mana lantaran sakit kepala menyerangku sejak kemarin malam. Mungkin karena sempat kehujanan sepulang kerja. Tiba-tiba saja aku merindukan pertemuan kita di bus kota waktu itu. Kapan kiranya kita bisa bertemu lagi, ya?

Sebelumnya, terima kasih sudah mau percaya untuk menceritakan banyak hal kepadaku. Kuharap ibumu baik-baik saja. Kau tahu, perempuan memang begitu adanya. Menyimpan semua kesakitan seorang diri, tapi tak pernah sedikitpun ingin terlihat bersedih di depan orang yang disayanginya. Maka, pekalah sebelum kau kehilangan beliau.

Aku yakin, ibumu bercerita karena sudah tidak mampu menahannya sendirian. Dan kuharap, kau akan selalu bersedia mendengarkan beliau bercerita, apapun kondisimu. Sekiranya kau bingung, kau boleh membaginya kepadaku.

Omong-omong, aku cukup senang membaca ceritamu yang bertemu kembali dengan teman lama. Rasanya menyenangkan sekali mengingat hal-hal kecil di masa lalu saat kita masih kanak-kanak.

Berbeda denganku. Ah, sejujurnya aku tak ingin menceritakan pengalaman buruk ini padamu, tapi biarlah kau tahu bahwa kehidupan memang selalu punya dua sisi yang bertolak belakang.

Saat itu usiaku masih 5 tahun. Baru saja memasuki Taman Kanak-Kanak di dekat rumahku. Ada beberapa teman yang menjadi teman bermain sekaligus musuh dalam selimut. Oh, maaf, kalimatku sungguh jahat memang. Tapi begitulah kenyataan.

Seorang anak perempuan menjadi teman baikku di suatu kesempatan. Orang-orang sudah tahu kami berteman karena rumah kami yang berdekatan. Orangtua kami pun saling mengenal dengan baik, setidaknya itu yang dilihat orang-orang. Tentang perangai buruk orangtuanya, aku tak ambil pusing, meskipun beberapa orang kerap membicarakannya dengan ibuku.

Suatu hari, aku berkunjung ke rumahnya. Sebagai teman main, tidak ada yang salah dengan itu, bukan? Aku merasa baik-baik saja awalnya. Meskipun tiba-tiba aku dirundung perasaan tidak enak ketika temanku dan salah seorang teman lain mulai berbisik-bisik di depanku. Kau tahu, kan? Seberapapun aku menyangkal, aku tetap berpikir bahwa mereka membicarakan aku dalam bisik-bisik itu.

Aku tetap diam di tempat, tak bergerak. Sampai temanku bilang, "Ngapain kamu di sini? Kita nggak mau main sama kamu."

Aku tetap diam, tetapi berusaha mempertanyakan alasannya dengan suara bergetar. Jujur saja, Semesta, aku bukan anak yang berani sewaktu kecil.

"Pulang aja sana!" Ia berteriak keras padaku. Aku memutuskan untuk berdiri dan keluar dari rumahnya dengan perasaan kesal.

Sayangnya, saat sedang memakai sendal, ia tiba-tiba menjambak rambutku. Aku ingin membalasnya, tapi temannya yang lain ikut menahanku. Aku sempat berlari, tapi ia mengejarku dengan kecepatan tinggi dan nyaris melemparku dengan sendal. Aku sudah menangis waktu itu, Semesta. Aku ketakutan, entah kenapa.

Bukannya terus berlari, aku malah tiba-tiba berhenti. Dan ia tetap mengejarku, menjambak rambutku lagi sampai ikat rambutku terlepas. Sayangnya, tak ada orang yang melihat kejadian itu. Dan aku menyesal kenapa tidak menampar wajahnya dengan sendal saja waktu itu.

Ah, maaf. Aku jadi menceritakan hal buruk itu padamu. Walaupun tertimpa banyak kenangan baru, ternyata kenangan buruk itu tetap membekas di ingatan sampai sekarang.

Berbaik-baiklah dengan temanmu selagi bisa, Semesta. Berbaik-baiklah dengan semua orang. Supaya tidak ada orang yang selalu teringat akan kenangan buruk seperti aku.

Salam,

Aurora.

Kotaku, 13 Februari 2020.

You Might Also Like

1 comments