Untuk Semesta: Dengar

February 08, 2020


Hai, Semesta.

Hujan sungguh datang begitu derasnya sepanjang hari saat akhir pekan. Sampai beberapa titik di Jakarta kembali tergenang. Rasanya, aku sungguh muak dengan hujan belakangan ini. Walaupun kita harus tetap mempercayai kalau hujan itu sebuah anugerah, kan?

Ah, ya, mungkin kapan-kapan aku harus mengobrol dengan ibumu. Tapi kamu tak perlu tau apa yang akan kami bicarakan karena itu akan jadi rahasia sesama perempuan.

Kau tahu, aku selalu suka bicara dengan ibu siapapun. Beberapa kali ketika aku mengunjungi rumah teman-temanku, ibu mereka selalu bercerita banyak hal kepadaku. Mulai dari resep masakan, sampai cerita-cerita ketika mereka masih muda dulu. Kupikir, mungkin aku akan bisa mengobrol dengan santai bersama ibumu juga. Boleh, kan?

Kadang-kadang, mendengar cerita dari mereka membuatku berpikir, apakah aku akan bisa mengajak anakku untuk mengobrol atau tidak. Karena sejujurnya, aku sungguh senang melihat pola komunikasi yang setara antara ibu dan anak. Hubungan yang dekat seperti layaknya teman sebaya. Sungguh, menjadi seperti itu adalah keinginanku.

Semesta, pernahkah kau mencuri dengar percakapan orang lain? Karena belakangan aku sering melakukan, tetapi lebih banyak tidak sengaja dibanding yang sengaja.

Beberapa hari lalu, aku tidak sengaja mendengar percakapan dua perempuan di toilet. Mereka membicarakan tentang pekerjaan yang memusingkan di kantornya atau bosnya yang semena-mena memberinya pekerjaan tambahan di waktu libur.

Atau sebelumnya, aku pernah mendengar cerita-cerita tentang orang-orang di gedung kantor yang memiliki "simpanan". Atau tentang kejadian bunuh diri di gedung sebelah kantorku.

Entah itu benar atau tidak, tapi kadang-kadang hal itu membuatku takut. Apakah semua yang kita dengar bisa kita percayai dengan mudah? Kalau tidak, bagaimana caranya kita mempercayai omongan seseorang?

Pernahkah kau mendengar seseorang bilang kalau ia menyayangimu, tapi kemudian ia mengatakan hal yang berbeda kepada orang lain? Bahwa ia tidak menyayangimu sedikit pun? Lalu, sampai batas mana kita bisa mempercayainya?

Kenapa kita selalu senang mendengarkan hal-hal bohong tapi manis dibanding hal-hal yang jujur meski menyakitkan? Apa karena kita terlanjut terbiasa dan terlena dengan yang seperti itu?

Ah, entahlah, Semesta. Suratku kali ini mengandung banyak sekali pertanyaan yang menjadi pikiranku. Maaf, ya. Aku cuma lagi suntuk. Semoga kau tidak bosan.

Salam,

Aurora.

Kotaku, 8 Februari 2020.

You Might Also Like

2 comments

  1. Mendengar ini, sama kayak nguping pembicaraan orang dong mba, hehehe. Maaf kukira tadi kek mendengar mmebaca dari alam apa gitu tanpa ada aktivitas orang lain yang kita sebutkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya memang kayak nguping hahahaha. Semacam overheard.

      Delete