Untuk Semesta: Surat

February 04, 2020


Hai, Semesta.
Do you miss me? No? Okay.

By the way, I have some information for you. Tentang yang kemarin aku janjikan untuk mencari tahu apakah seseorang bisa mati karena tersedak air liur saat tidur. Then, I got it. Ternyata bisa! Gila, ya?

Jadi, aku baru saja membacanya dari portal The Asian Parents di Google. Tersedak air liur saat tidur ternyata memang bisa menyebabkan kematian. Salah satu korbannya itu personil boyband Boyzone, namanya Stephen Gately. Kamu tahu dia? Aku sih enggak. Hehehe. Tapi alasan sesungguhnya sih karena sebelumnya ia terlalu banyak mengonsumsi alkohol. Hingga akhirnya isi lambungnya keluar melalui mulut saat ia tidur dan membuatnya tersedak.

Tapi, riwayat kematiannya di Google disebabkan oleh Ederma paru-paru. Kayaknya aku mesti cari tahu lagi tentang penyakit yang satu itu.

Katanya, tersedak saat tidur juga bisa jadi salah satu indikasi seseorang terkena Obstructive Sleep Apnea (OSA) alias penyumbatan aliran udara saat tidur. Gejalanya sesederhana sesak napas.

Membaca fakta itu aku cukup kaget sih. Karena aku memang pernah mengalami sesak napas selama tidur. Tapi nggak pernah lagi memeriksakan diri ke dokter karena kupikir penyakit masa kecilku nggak akan kambuh lagi. Fyi, aku dulu pernah punya penyakit pernapasan. Dan beberapa kali mengalami tersedak ketika tidur.

Beberapa penyebab lain yang bisa menimbulkan tersedak saat tidur adalah refluks asam lambung. Mungkin ini yang terjadi padaku dua hari lalu. Dengan posisi tidur yang tidak berbantal, cairan lambung bisa kembali naik ke mulut, sehingga air liur diproduksi dengan cukup signifikan untuk membersihkan asam lambung tersebut.

Oke, cukup penjelasannya kalau begitu.

Selanjutnya, aku mau tanya. Kapan terakhir kali kamu mengirim surat? Surat fisik, ya. Bukan surat elektronik.

Kadang-kadang aku rindu berkirim surat. Dulu sekali, waktu aku masih SMP, aku pernah punya sahabat pena (sapen). Alamat mereka kudapatkan dari majalah Bobo. Sapen pertamaku dari Jogja. Kami berkirim surat beberapa kali sampai bertukar foto. Tapi, sekarang kami malah nggak tahu kabar satu sama lain.

Mengirim surat ke kantor pos juga jadi salah satu yang menyenangkan buatku. Harus beli perangko dulu, nunggu beberapa hari untuk bisa dapat balasan, dan yang paling penting adalah ketika suratnya sampai ke rumah. Kayaknya senang banget. Sama senangnya kalo ada kurir datang bawa paket belanja online. Hahaha.

Serius, deh. Bagiku, berkirim surat fisik itu punya bagian tersendiri. Aku ingin bisa lagi menulis surat secara fisik di zaman teknologi sudah semaju sekarang. Bukan cuma soal isi pesannya, tapi lebih ke arah effort dan usahanya. Jujur, aku lebih suka membaca tulisan tangan daripada font-font yang ada di layar.

Aku baru menyadari, benda-benda seperti surat bisa disimpan sampai kapanpun, termasuk memori dan kenangannya. Aku masih menyimpan beberapa surat dari sapenku dan ya, seperti yang kubilang, aku tiba-tiba jadi ingat masa sekolahku waktu itu.

Kalau sekarang, dengan era digital ini, memang mudah menyimpannya dalam bentuk selain fisik, tapi entah kenapa kesannya sangat berbeda. Menurutmu bagaimana?

I miss the old moment.  And a letter can bring us to the old memories, right?

Salam,

Aurora.

Kotaku, 4 Februari 2020.

You Might Also Like

2 comments

  1. Asik juga bikin konten surat-surat kayak gini. Lagi ikutan challange apa nih kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi menchallenge diri sendiri aja nih hahaha. Karena sedang tidak ada ide mau menulis apa wkwk. Tapi bikin surat-surat begini juga termasuk ide deng hehehe.

      Delete