Untuk Semesta: Rehat

February 03, 2020


Hai, Semesta. Apa kabar kotamu hari ini?


Pagi tadi aku terbangun dengan perasaan gelisah setelah malamnya mimpi buruk. Tenggorokanku cukup sakit karena sepertinya sempat tersedak saat tidur. Ini cukup aneh, sih. Masa iya, aku tersedak air liur sendiri? Tapi, kamu percaya nggak kalau tersedak ludah sendiri bisa bikin seseorang tiba-tiba mati?

Oke, maaf, aku mulai ngawur sepertinya. Tapi besok akan aku coba cari tahu soal itu deh. Siapa tahu aku benar, kan? Hehehe.

Pagi tadi juga, kolom status Whatsapp-ku dipenuhi oleh berita duka. Salah satu tokoh NU, K.H. Salahuddin Wahid atau biasanya dipanggil Gus Sholah meninggal dunia. Jujur, saja aku tidak tahu siapa beliau, sampai akhirnya aku memutuskan untuk membaca beritanya di portal daring.

Masih berhubungan sama suratku sebelumnya, kenapa seseorang yang dipeluk kematian itu selalu meninggalkan kesedihan untuk orang yang masih hidup, ya? Padahal kalau dipikir-pikir, seseorang yang meninggal itu kan artinya sudah beristirahat dengan tenang. Bukankah itu lebih baik daripada istirahat di dunia yang bisa berpotensi maksiat?

Ah, kenapa aku jadi bawa-bawa soal maksiat, sih?

Tapi bener deh, aku sedang berpikir, kenapa orang-orang tidak ingin mati cepat-cepat kalau kematiannya itu diartikan sebagai sebuah peristirahatan panjang? Padahal, kau tahu sendiri, kalau manusia mati, ya sudah itu artinya kita terbebas dengan segala kelelahan dan beban hidup di dunia. Ya, kan? Koreksi aku jika salah.

Kalau aku ditawari untuk mati sekarang, mungkin aku akan bilang iya. Sebab, ada banyak hal yang sudah tidak ingin aku lakukan di dunia. Lelah sekali. Tapi aku nggak ingin meninggalkan dunia dengan cara yang konyol. Kalau bisa, biar Tuhan aja yang panggil. Tapi, di sisi lain, kadang aku takut juga. Takut kalau kematian malah membawaku ingin kembali ke dunia.

Padahal mati adalah sebenar-benarnya istirahat, ya?

Ngomong-ngomong apa arti rehat yang sebenarnya untukmu? Apakah dengan tidur seharian tanpa diganggu? Atau rebahan dan scroll timeline seperti kebanyakan orang?

Kayaknya surat kali ini singkat saja karena... aku lelah dan ingin rebah. Mataku sudah sepet sekali. Selamat istirahat, Semesta.

Salam,

Aurora.

Kotaku, 3 Februari 2020.

You Might Also Like

2 comments