Untuk Semesta: Berpisah

February 02, 2020


Hai, Semesta. How's your day?


Pagi tadi aku baru membaca berita dua hari lalu tentang sebuah kapal yang ditemukan kembali setelah hilang selama 95 tahun di Segitiga Bermuda. Apa rasanya ya tenggelam di lautan? Sesedih apa orang-orang atau bahkan keluarga dari mereka yang ditinggalkan?

Sebuah perpisahan kadang datang nggak terduga seperti itu, ya? Pasti menyakitkan sekali. Perpisahan yang direncanakan saja kadang masih menyisakan luka, apalagi yang datang tiba-tiba? Pasti sangat-sangat menyesakkan.

Semesta, aku boleh tanya satu hal padamu? Apa kau pernah merasa kehilangan? Atau merasa amat terpuruk akan suatu perpisahan?

Kata orang, perpisahan ada untuk kebaikan bersama. Perpisahan hadir karena garis singgung hidup antara satu dengan yang lainnya sudah selesai. Perpisahan membuat hidup kita lebih bermakna karena katanya manusia baru bisa menghargai keberadaan suatu hal ketika hal tersebut sudah tidak ada. Apa benar begitu?

Aku pernah menghadapi banyak perpisahan. Yang tiba-tiba seperti sebuah kematian, atau yang terencana seperti perpisahan dua orang yang kembali asing.

Perpisahan pertamaku mungkin lekat dengan kematian. Seseorang yang menggendongku sewaktu kecil, memberiku banyak kasih sayang, sampai membiarkanku ikut ke stasiun demi mengantarnya pulang. Aku masih terlalu kecil untuk bisa mengerti bahwa kematian mengambilnya dariku secara tiba-tiba. Sampai aku sadar, bahwa seseorang itu sudah tidak bisa kutemui lagi wujudnya di dunia.

Kadang, aku masih tidak percaya kalau beberapa perpisahan membuatku jauh lebih terpuruk. Perpisahan keduaku juga masih dekat dengan kematian. Salah seorang teman saat aku masih SD, pergi tepat setelah seminggu kami baru saja belajar kelompok. Aku lagi-lagi tidak percaya, betapa kematian merengkuhnya sangat erat ketika kami—teman-temannya—masih senang bermain lari-larian di sekolah.

Sampai kabar duka itu datang, kelas kami seperti dirundung aura kelabu yang pekat. Kesedihan memeluk kami lebih daripada pelukan seorang sahabat. Kami menangis. Perpisahan yang sungguh tragis.

Mengapa bicara tentang perpisahan selalu semenyedihkan ini, ya?

Perpisahan terakhirku bukan dengan kematian. Tetapi dengan sebuah ekspektasi yang mencekikku sampai nyaris sekarat. Kau tahu, Semesta? Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu nyata adanya. Hahaha. Aku pernah underestimate untuk hal semacam itu sebelumnya. Ya, karena aku memang tidak tahu dan tidak pernah berharap merasakannya. Apakah ini karma buatku? Mungkin saja.

Aku menganggapnya sebagai seseorang yang hadir tepat waktu. Segalanya terasa begitu pas, begitu didukung oleh waktu. Semua keteraturan. Semua keramahan dunia seakan menggiring garis pertemuan itu semakin dekat.

Perpisahan? Belum pernah aku merasakan yang satu itu selain dengan kematian, seperti yang aku bilang tadi. Dengannya, semua serba tepat dan akurat.

Sayangnya, ada tangan lain yang turut serta mengubah jalur keseimbangan kami dengan amat cepat. Kapal kami oleng dan kemudian tenggelam, persis seperti kapal di berita yang aku baca tadi pagi. Karam, meninggalkan luka yang dalam.

Perpisahan itu menyeretku ke arus yang tidak bisa aku hadapi sendirian. Aku sudah terlanjur bergantung dengan kehadirannya yang tiba-tiba, menjadi candu, lalu menjadi sebuah kebiasaan yang kalau ia tak ada, artinya aku ikut terseret oleh kepergiannya. 

Aku menghargainya bukan hanya sebagai persona yang mengisi kekosongan hidupku. Tapi juga sebagai guru yang mengajariku banyak hal.

Aku mencintainya, sangat. Tapi tidak ingin terlalu berlebihan berharap bahwa akan ada keajaiban yang mampir ke garis hidup kami lagi.

Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi melantur begini. Intinya, perpisahan selalu membuat hidupku memburuk. Aku selalu tidak siap dengan apapun bentuk perpisahan. Sayangnya, ada banyak keadaan yang mengharuskan perpisahan itu ada. Siap atau tidak siap sekalipun.

Jadi, aku mau dengar perpisahan terburuk dan terbaikmu. Bagaimana caramu menghadapinya? 

See ya. Semoga tidak ada lagi perpisahan yang menjerikan di hidup kita semua.

Salam, 

Aurora.

Kotaku, 2 Februari 2020.

You Might Also Like

4 comments

  1. Sama dong. Perpisahan terburuk ya ditinggal pas lagi sayang2nya, ditinggal pas lg udh berencana mau melangkah ke jenjang yg lebih serius. Hahaha
    Tp skrg kami berteman baik, kami sama2 berdamai, meski ada rasa yg ih apaan sih. Tp yaudah. Ada Tuhan yg memang selalu menentukan rencana2 manusia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semesta emang suka bercanda yang keterlaluan ya :') Kadang apa yang direncanakan malah berantakan, tapi semoga ada hikmah yang bisa diambil ya, Mbak El.
      Alhamdulillah kalau berteman baik. Semoga setelah ini bisa dipertemukan dengan yang lebih baik lagi. Aamiin.

      Delete
  2. Mencoba untuk menjadi ikhlas akan terasa ringan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, ikhlas memang sangat diperlukan, tapi bagaimana kalau ternyata belum bisa ikhlas? :D

      Delete