Untuk Semesta: Sapa

February 01, 2020


Hai, Semesta. Apa kabar?

Sedari pagi kotaku hujan sampai jam sepuluh pagi. Aku terlanjur membiarkan diri didekap selimut dan tak melakukan apa-apa selain membaca berita daring melalui ponsel.

Kabar pagi ini bilang daerah Tangerang banjir lagi akibat hujan semalam. Kabar lain juga masih seputar virus corona yang semakin menjadi.

Jaga kesehatanmu, ya. Kalau pergi, jangan lupa pakai masker.

Aku bukan orang yang mudah lupa tentang sebuah pertemuan. Setiap detail, sapaan, kata pertama, sampai baju apa yang dipakai pun aku bisa ingat. Waktu itu kau memakai kemeja hijau army dengan lengan digulung dua kali, celana bahan, sepatu kets, tas ransel yang kau gendong di depan, jam tangan di tangan kanan.

Dan kalimat pertamamu adalah, "Selalu ramai ya jam segini?"

Kau berdiri di sebelahku, tangan kanan menggantung demi keseimbangan rubuh. Aku tidak tahu kau bicara pada siapa waktu itu, tapi arah matamu terus menatapku yang jelas-jelas ada di sampingmu. Sedang orang lain tak ada yang memperhatikan.

Kau ingat jawabanku, kan? Kita berdua memang tak kebagian tempat duduk ketika menaiki bus itu. Kau yang lebih dulu ada di dalam dan aku naik belakangan dari tempat yang berbeda denganmu.

Tapi bagiku, itu sebuah sapaan yang unik mengingat bus cukup penuh sore itu. Langit pun tidak hujan seperti hari ini. Langit sedang cantik-cantiknya sampai menjelang maghrib.

Sapamu adalah yang pertama kudapat sejak menaiki bus ini berkali-kali. Sapamu juga yang pertama kudapat ketika seringkali orang-orang sibuk dengan ponselnya masing-masing.

Kau tau tidak? Aku sempat tidak dengar ketika kau bilang bus ini selalu ramai karena pada saat itu aku sedang memutar lagu melalui earphone. Tapi entah kenapa mendengar suaramu aku segera melepaskan earphone dan bertanya balik padamu.

Sampai akhirnya kau mengajakku berbincang, lagu di ponselku langsung aku matikan. Pembicaraanmu lebih menyenangkan dibanding sebuah lagu yang bisa kudengarkan kapan saja.

Kata orang, pertemuan pertama itu menentukan kesan. And, you got my attention. Kesan dari sebuah sapaan yang singkat tapi menggelitik.

"Sangat tidak apa-apa menyapa orang baru di keramaian. Siapa tau bisa nyambung kayak gini, kan?" Aku ingat kata-katamu sekarang.

Ibuku pernah bilang, dimana pun, ketika ada yang kita kenal, kita harus selalu menyapa. Alasannya sederhana, katanya, kalau kita menyapa dan ramah dengan orang lain, ketika nanti kita terantuk masalah, orang itu bisa jadi penolong kita. Ya, terlepas dari kepedulian orang, mungkin ibuku punya prinsip: apa yang kita tanam akan kita tuai. Jadi, menanamlah kebaikan, maka kebaikan pula yang akan kita dapatkan.

Tapi masuk akal juga sih. Apakah maksudmu menyapaku juga demikian?

Hm, sebentar, aku bukan tipe orang yang mudah menyapa orang lain, terlebih orang tidak dikenal. Hanya saja, aku suka jika mendapat teman baru, walaupun kadang susah sekali untuk memulai sebuah sapaan.

Mungkin, besok hari, ketika bertemu orang baru, aku akan mencobanya. Tapi lebih baik lagi kalau kita bertemu di suatu kesempatan lain. Oke? Semoga.

Salam,
Aurora.


Kotaku, Februari 2020.

You Might Also Like

2 comments