Untuk Aurora: Pindah

February 07, 2020



—untuk Aurora

Tahu-tahu bulan berganti dan banyak yang telah terlewati, Aurora. Ibu makin murung dan ayah tak bisa berbuat apa-apa.

Dengan ayah aku juga tak begitu senang, keadaan sedang tidak baik tapi ia terus saja marah-marah sedang aku tak bisa berbuat banyak. Tapi ini bukan yang seharusnya untuk kau ketahui. Jadi lewatkan saja.

Jangan kau heran, aku mulai menaruh perhatian terhadapmu, sampai-sampai aku bertanya dua kali pada ibu ada atau belum surat dari kau.

Ibu yang mula-mula tak peduli kini mulai bertanya-tanya. Apa anakku sedang kasmaran, katanya, sampai begini cemas menunggui sesuatu yang belum pasti. Ibu bilang begitu karena tahu bahwa kau seorang perempuan.

Dan mulailah​ aku ceritakan serba sedikit tentangmu. Kebetulan saja aku dan ibuku suka bercerita, jadi sukalah aku gantian mendengarkan ketika tiba giliran ia bercerita tentang masa mudanya.

Dalam rumah kami yang sempit dan lengang ini, kalau tidak capek, sering ibu ceritakan tentang apa saja yang ia rasa perlu untuk dibagikan: kegembiraan, masa muda, dan terkadang tak ketinggalan juga yang sedih-sedih.

Aku tak melarangmu dekat dengan siapapun, kata ibu lagi, hanya kau tahu sendiri apa yang boleh atau tidak kau lakukan. Dan aku dengarkan itu dengan sedikit tersinggung, kurasa ibu terlalu cepat menghakimi. Bahwa kedekatan ini belumlah apa-apa, 'kan, begitu? Oh, maaf, kau tak ikut tersinggung, bukan? Jangan, jangan tersinggung, Aurora. Tak semua kedekatan berujung pada hubungan yang ranum kawin-mawin, maksudku, kedekatan lelaki-perempuan bukan hanya dalam hubungan abstrak yang disebut pernikahan. Meski seringnya tak ada yang tulus dalam hubungan begini.

Tapi, dari cerita-ceritanya aku ingin percaya bahwa tiap kenekatan dan tindakan sembrono patut dicoba selagi muda. Bahwa kegembiraan atau mala petaka yang datang itu lain perkara. Aku diam-diam mengimani semua itu dan memulainya dari hal-hal​ yang paling kecil.

Dan untuk ini tak usah kau khawatirkan: aku sudah lebih baik sejak dokter membolehkanku pulang. Surat-suratmu membuatku ingat, bahwa pada sore hari yang biasa-biasa saja di sebuah bus kota, aku bertemu seorang perempuan yang kuingat garis bibirnya lebih banyak melengkung, yaitu kau sendiri, Aurora. Senyummu tak aku lupa.

Tapi aku keburu pindah dan kita tak bisa banyak bertemu. Apa Hanafi menyampaikan semua kepadamu? Kuharap iya, sebab aku titipkan pula padanya alamat baruku di Solo jika kelak kau tiba-tiba ada urusan di sini. Tapi kurasa Hanafi bisa dipercaya, toh, suratmu sampai juga padaku tanpa tersesat.

Nah, Aurora, demikian surat ini aku tulis dengan perasaan gembira, malah merasa tersanjung masih ada orang yang mengingatku dengan baik.

Dengan ketulusan hati,
S.

You Might Also Like

0 comments