Untuk Aurora: Maaf

February 16, 2020


Aurora,

Pada malam yang diliputi rasa haru dan hujan begini aku lebih banyak merenung dan berpikir. Lebih mengharukan lagi rasanya dapat berbicara dengan nurani sendiri. Bagaimanapun, menulis surat sama dengan menelanjangi diri di hadapan orang. Tapi bukan telanjang dalam artian harfiah, kautahu, melainkan tampilkan diri apa adanya. Tak ada lagi yang aku tutup-tutupi barang secuil pun. Di depan surat begini aku tak takut lagi membuka baju-baju kepalsuan atau kebohongan yang sering aku pakai di dunia nyata.

Kautahu, orang-orang sering bersandiwara di dunia nyata, pun aku tak ketinggalan. Tapi lupakan yang terakhir itu, apa guna aku bicarakan orang lain?

Jangan kau heran, jika pada kesempatan ini hanya ego yang aku munculkan: aku telah memaafkan seseorang yang sebetulnya tanpa ia sadari tindakannya itu menghancurkan rasa empati. Entah dengan sengaja atau tidak.

Butuh berhari-hari bagiku hanya untuk mengumpulkan kepingan-kepingan itu sebelum aku merekatkannya kembali. Sebab tiada cukup kekuatan untuk memaafkan sebelum rasa empati itu kembali utuh.

Tentang apa yang membuatku harus memaafkan memang tak perlu kuceritakan di sini. Ada beberapa hal yang memang tidak perlu diceritakan, dan biar terjaga sebagai rahasia.

Tapi aku benar-benar telah memaafkannya, seperti cara mendiang kakekku memaafkan aku di hari lebaran. Maksudku, cara kakekku memaafkan sama sekali berbeda: ia munculkan kembali ingatan-ingatan tentang apa saja yang membuat marah, benci, sakit hati, kesal, dan seterusnya, dan seterusnya. Ia rasai semua itu dalam hati dan pikirannya, kemudian dihancurkan ingatan itu hingga tak berbekas. Lalu, puncaknya, air mata keluar begitu saja—sebagai tanda bahwa proses memaafkan telah selesai.

Dan maaf bukan lagi soal kata-kata.

Tapi, Aurora, manusia ini pandai betul berkata-kata. Mereka bersembunyi di balik kata-kata dan takut menemui maknanya. Dan dunia ini hanya tinggal sandiwara kata-kata.

Apa mungkin, hal sesakral memaafkan mampu diubah menjadi kata-kata? Kata-kata sering kali kosong, tanpa arti, tanpa makna.

Tapi, Aurora, tapi, kita sudah hidup dalam dunia kata-kata ini bertahun-tahun, dan hidup terus berlanjut. Lagipula, mati bukan berhenti. Kematian adalah pintu menuju ke dimensi yang lain, kehidupan yang lain.

Jangan kau merasa sedih, teman dan persahabatan memang terkadang meninggalkan banyak kesakitan. Tapi tanpa persahabatan orang bakal jadi kesepian. Tak ada manusia yang mampu hidup tanpa persahabatan, sebab yang bukan demikian bukan manusia. Setidaknya begitu kata Pram yang selalu aku ingat.

Dan kuharap kau mampu memaafkan kenangan masa kecilmu itu. Memaafkan dengan setulusnya, bukan lagi dengan kata-kata.

Dari sahabatmu yang selalu berpengharapan baik,

S.

You Might Also Like

0 comments