Untuk Aurora: Kepergian

February 24, 2020


Aurora,

Suratmu datang dan aku sama sekali tidak mengetahuinya, malah baru aku baca setelah empat hari surat itu tiba, dan tentu cepat-cepat aku balas selagi sempat. Memang berkirim surat begini melibatkan banyak waktu dan sedikit banyak perasaan. Dan aku memenuhi beberapa syarat tersebut sampai aku menjumpai pekerjaan yang tiada habisnya.

Menunggui surat, kadang, menumbuhkan kerinduan yang membikin dada sesak. Kerinduan semacam itu seringkali tumbuh subur pada gumpalan daging di antara tulang rusuk keempat dan kelima. Mungkin terdengar melebih-lebihkan, tapi kuharap kau mengerti.

Aurora, 

Aku sebetulnya bukan orang yang mudah menangis. Tapi waktu bergulir segalanya berganti. Tak ada yang tahu betul apa yang ada di hari depan, dan selamanya akan jadi misteri.

Dulu aku kira cara terbaik untuk lari dari nasib buruk adalah dengan menjadi manusia yang mampu menanam bahan makanannya sendiri. Sayang sekali, aku tidak berbakat dan hal semacam itu hanyalah muncul dari pikiran yang lugu dan tergesa-gesa. Aku kelewat nyenyak tidur dalam ketidaktahuan, terbuai mimpi-mimpi yang sebetulnya melenakan.

Tapi, hari depan penuh misteri yang aku maksud bukanlah itu, melainkan yang lain lagi, dan ini datang secara mengejutkan dan tiba-tiba: belum lagi aku berangkat ke Maluku, seorang teman ..... Ah, bagaimana kiranya aku memulai cerita ini? Baiklah, seorang teman, temanku, memilih pergi mendahului kami pukul sembilan pagi tadi. Ia menyerah pada penyakitnya setelah sekian tahun bertahan, itupun kalau aku boleh percaya, aku tak ingat betul.

Yang jelas, dalam rentang waktu itu ia sempat menikahi seorang gadis, yang aku tahu sulit bagi perempuan kebanyakan untuk menerima keadaan pasangan yang mengidap penyakit menahun seperti temanku ini. Tapi, gadis itu tahu betul cara menerima dan mengasihi. Manis sekali. Cinta tanpa syarat!

Aku datang ke pemakamannya sore tadi, bersama teman-teman yang lain. Aku iringkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Di sana aku lihat pula gadis itu. Tertunduk, dan tak bisa aku bayangkan bagaimana perasaannya waktu itu.

24 tahun memang terlalu cepat, teman-teman yang lain juga bilang begitu.

Rasanya aku ingin lebih lama lagi melihatnya hidup, meski jarang bertemu. Dan sebagaimana pasangan-pasangan yang lain, aku juga ingin melihatnya berbahagia bersama gadis pujaannya itu, istrinya sendiri.

Aurora,

Betapa menyesakkan menerima dua perpisahan sekaligus.

Aku sebetulnya sedikit banyak tak percaya pada konsep kehidupan setelah kematian, tapi, dengan sedalam-dalamnya, aku berdoa agar temanku ini dimasukkan ke dalam surga bersama orang-orang yang shalih.

Dan maaf, Aurora, jika pada kesempatan begini malah aku gunakan untuk menulis obituari, bahkan pada hari dimana kita bakal lebih susah lagi untuk berkirim surat atau yang lainnya, sebab aku tak yakin punya banyak waktu ketika berada di Maluku. Aku ditugaskan selama sekurang-kurangnya enam bulan untuk mengajar murid-murid sekolah dasar di pedalaman Maluku sana.

Dan sekali lagi, seperti yang aku bilang di awal, bahwa aku sebetulnya orang yang tak mudah menangis, tapi, badanku jadi lemas dan aku menulis ini dengan air mata yang tiba-tiba saja keluar tanpa henti.

Dalam kesunyian malam,
S.

You Might Also Like

4 comments

  1. Sungguh ku merinding bacanya. Semoga mas semesta tetap bisa membalas surat mu sekalipun di pedalaman maluku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akupunnnn. Sedih bacanya :(
      Entahlah, mungkin esok hari ketika tidak bisa berkirim surat lagi, kami akan saling mengirim doa lewat udara :))

      Delete