Untuk Aurora: Kenangan

February 10, 2020


Aurora,

Aku tak menyangka kalau kau bakal kujadikan tempat berkeluh. Dan kuharap kau tak keberatan. Di dunia yang saban hari makin lapuk ini aku tak tahu lagi harus bercerita ke siapa. Terlebih, tak ada yang pantas betul untuk dipercayai.

Tapi untuk kau adalah hal yang lain lagi. Kau, perempuan dari jenis lain, seorang penyayang dan seorang yang mengertiku sekaligus. Bagaimana kiranya aku tanpa kau?

Semalam, ibu bercerita lagi kepadaku, tapi bukan cerita yang biasa ia tuturkan. Entah kenapa kali ini ibu bercerita dengan mata yang berkilauan oleh air matanya sendiri. Tangannya yang tak semulus dulu bergetar. Aku, anaknya sendiri, tak bisa menahan air mata itu barang setetespun.

Aku tak tahu kalau ibu ternyata menanggung banyak duka. Apa semua ibu seperti itu? Ah, Aurora, ia mampu menyimpan kesakitan-kesakitan begitu banyaknya. Dan betapa manusia ini juga pandai memainkan peran.

Seorang tua pernah bilang kepadaku, ketika aku ikut meliput longsor di Magelang, bahwa kasih sayang paling lembut yang pernah dirasakan oleh manusia adalah ketika berada dalam rahim ibu. Aku ingin membalas kasih sayang yang lembut itu, Aurora. Dengan cara yang sebaik-baiknya.

Aurora,

Kukira soal ibu tak perlu berlarut-larut. Aku sendiri tak ingin kau terjebak dalam kekalutan ini makin jauh. Jadi kuceritakan yang lain saja.

Jauh sebelum aku datang ke Solo, temanku lebih dulu datang ke kota ini. Sampai suatu kali aku bertemu lagi dengannya di dekat kampung Sambeng.

Ia awalnya tak mengenaliku, jadi kuperlukan berlama-lama untuk menunggunya menyadari bahwa yang di hadapannya adalah aku, temannya sendiri. Ia masih sama seperti dulu ketika kami bertemu.

Aku jadi teringat pada sore mendung di bulan Februari waktu kami memancing di kali. Duduk-duduk di atas rumput basah sambil berbual-bual, juga memandangi kail yang tak kunjung dihampiri ikan. Dalam rentang waktu itu menempel pula obrolan yang, entah secara sadar atau tidak, terpaksa keluar dari mulutnya juga: tentang Marsose pimpinan G.C.E. van Daalen yang memulai ekspedisi di Tanah Gayo di zaman lewat, yang berakhir dengan perang dan pembantaian penduduk setempat. "Peperangan," katanya, "selalu merenggut segala yang ada di depan mata. Teman, kerabat, orang-orang terkasih, juga semua yang pernah atau belum diharapkan."

Ia mengatakan itu seperti seorang guru sejarah yang menyisipkan ilmu humaniora. Walau sesungguhnyalah apa-apa yang kami obrolkan itu, dilihat dari sisi manapun juga, terlihat begitu menggelikan, terlebih obrolan itu lahir dari dua orang lelaki pemalas yang menghabiskan sore dengan memancing ikan. "Tapi bukankah perang telah selesai?" sanggahku enteng.

"Perang bisa saja berakhir jika semua yang terlibat telah mati."

Seketika aku jadi sadar, waktu telah begitu cepatnya memakan umur dan pikiran kekanak-kanakannya. Dulu waktu kami kecil, aku mengenalnya sebagai anak yang periang, walau kadang membuatku​ dan teman-teman lain kerepotan ketika harus membereskan pecahan kaca jendela yang hancur karena bola ia tendang seenak jidatnya sendiri.

Kami sekolah di SMP yang sama, meski sampai lulus kami tak pernah sekelas. Waktu itu menjadi episode paling menegangkan, setidaknya menurut kami, ketika suatu pagi kami memukuli anak kepala sekolah yang mulutnya kelewat banal mengatakan temanku ini "anak haram"—yang lahir dari rahim perempuan sundal. Menurutku ucapannya itu kejahatan paling memalukan yang seharusnya ia simpan saja, alih-alih merasa dirinya paling suci, justru dialah orang paling hina yang merendahkan harkat orang lain. Kiranya orang-orang seperti anak kepala sekolah ini tak menyadari bahwa setiap orang punya aib yang bisa terkuak kapan dan di mana saja.

Dan sekarang, Aurora, entah takdir entah apa mempertemukan kami kembali. 

Ternyata sedikit cerita tadi membuatku lupa kekalutan ini barang sebentar. Balas ini selagi sempat, Aurora, yang tentu aku tahu kau disibukkan dengan segala urusan-urusanmu.

Aku sebetulnya ingin menceritakan lebih banyak lagi, tapi aku harus pergi; di luar ibu memanggil-manggilku.

Sahabatmu,
S.

You Might Also Like

0 comments