Dibalik Surat Aurora dan Semesta

February 29, 2020


Februari kemarin saya sempat memutuskan untuk rehat dari instagram. Sayangnya, saya tidak sanggup. Hahaha. Saya cuma bertahan rehat selama 10 hari sampai akhirnya saya kembali lagi dan memberi makan Instagram dengan hasil editan foto serta fiksi mini ala-ala dan tulisan-tulisan absurd lainnya.

Omong-omong soal fiksi mini, saya menemukan seseorang di suatu akun Instagram yang menulis beberapa fiksi mini dalam sebuah caption yang kemudian direpost oleh akun @30haribercerita. Boleh dibilang saya langsung jatuh hati pada tulisannya. Saya amat sangat mengagumi seseorang yang bisa dengan mudah membuat fiksi mini dengan plot twist dari kalimat yang super singkat.

Berawal dari sana, saya mencoba menuliskan fiksi mini yang kemudian dibaca olehnya. Saya pikir waktu itu, saya bakalan ketemu teman belajar nulis fiksi mini yang oke. Saya udah senang duluan aja, padahal belum kenal. Hahaha.

If you read this, do you remember our conversation about the kite and "memindahkan Januari ke Mei"? Hahaha.

Hal-hal sederhana kayaknya bisa dia ubah jadi tulisan yang apik. Jujur, ini kekaguman saya nomor dua. Walaupun fiksi mininya tetap juara bagi saya.

Oke, sampai di Februari, saya sempat punya rencana menulis surat cinta rutin selama 29 hari berturut-turut. Konsepnya sendiri adalah surat berbalas oleh dua tokoh imajiner: Aurora dan Semesta. Pada waktu itu saya yakin akan menuliskan semuanya sendiri, baik dari sudut pandang Aurora ataupun Semesta. Saya pikir saya akan mampu. Namun di hari keempat, saya merasa sempat kehilangan arah. Sempat berpikir juga untuk mengajak orang lain berpartner dalam menuliskan konsep absurd saya ini, tapi tak cukup berani untuk benar-benar mencari yang mau menuliskan surat balasan untuk Aurora.

Sampai akhirnya suatu malam, seseorang menghubungi saya. Mas "Fiksi Mini", begitu saya menyebutnya karena memang nggak tau namanya. Dan nekatnya, saya langsung mengajak Mas "Fiksi Mini" untuk menuliskan surat balasan sebagai "Semesta" dan saya tetap menulis sebagai "Aurora".

Di awal-awal surat Aurora terkirim, orang-orang yang membaca sempat keheranan. "Kok namanya Aurora, Wi?" atau "Lho, kirain ini cerita tentang kamu." Saya baru menyadari bahwa tulisan dalam surat Aurora memang punya gaya tulisan khas saya. Dari sini pun saya belajar kalau saya belum mampu mengubah gaya tulisan saya bahkan ketika itu menjadi fiksi, tapi ini bisa jadi keuntungan kalau saya mau curhat terselubung. Hahaha.

Sebelumnya, mari kita panggil Mas "Fiksi Mini" dengan nama Mas S (ini asli susah banget untuk bisa bertanya nama aslinya karena sebelumnya dia nggak mau ngasih tau dan nama instagramnya pun hanya "Muggle"). Setelah bujuk rayu saya lemparkan, baru dia mau memberitahukan nama aslinya, tapi tetap mari kita panggil dia Mas S. Kabar baiknya, dia mau menjadi partner menulis saya sebagai "Semesta".

Jadi, surat balasan dari Semesta itu semua dia yang tulis. Kalau ada yang sudah baca, pasti bisa membedakan tulisannya. Tulisan Mas S sungguh nyastra, sedangkan tulisan saya isinya tulisan cewek sekali yang menye-menye banyak omong nggak jelas. Tapi saya bersyukur dengan kesediaan Mas S yang mau membantu saya menulis, setidaknya surat dari Semesta isinya jadi agak berbobot daripada cuma keluhan tanpa arah seperti punya Aurora.

Kenapa pakai nama Aurora dan Semesta?
Enggak tau. Ngasal aja sebenernya. Saya lagi suka sama kata "semesta" dan yang relevan dengan itu, untuk sebuah nama—yang kepikiran di otak saya cuma "Aurora". Jadilah dua nama itu saya pakai sebagai tokoh imajiner.

Tapi, secara kebetulan—saya baru sadar di minggu ketiga Februari—inisial nama Aurora sama dengan inisial nama saya. Sedangkan inisial nama Semesta juga sama dengan inisial nama Mas S. Padahal, saya membuat nama itu sebelum Mas S bersedia menuliskan surat dari Semesta. Entah kebetulan atau cocokologi dari saya, ya biarin ajalah ya.

Tapi bukankah tidak ada yang kebetulan di dunia ini?

Sekiranya itulah cerita mengapa ada tokoh Aurora dan Semesta dalam blog saya. Sampai hari ini atau hari-hari selanjutnya, saya nggak tau apakah saya dan Mas S akan tetap saling menulis bersama atau tidak. Yang jelas, kami—semoga—tetap bisa bertukar kabar dengan baik. Atau mungkin bisa berbincang tanpa dihalangi jarak. Begitu kiranya keinginan kecil saya hari ini.

Untuk semuanya, terima kasih banyak sudah mau membantu menjadi "Semesta", Mas S. Sukses selalu untukmu, ya!


Salam,

Yang mengaku jadi "Aurora" .

You Might Also Like

2 comments