Cerita Tentang Bercerita

January 31, 2020


Saya menyadari kalau bercerita secara rutin kadang membingungkan. Apa lagi yang harus saya tulis? Apa lagi yang harus saya ceritakan tanpa mengulang cerita yang sama? Katanya, sebuah ide bisa ditulis ke dalam multigenre.

Tapi, ternyata nggak semudah itu.

Saya baru saja menyelesaikan event 30HariBercerita di Instagram tanpa bolos satu hari pun. Ini mengingatkan saya pada event serupa yang pernah saya ikuti seperti: #30HariMenulisSuratCinta dari @PosCinta di blog selama bulan Februari; event Novemberous yang diadakan di Facebook selama bulan November; dan event 30HariTemanNulis oleh @bookmate_ di Instagram juga. Sebuah konsep yang sama, tapi beda platform.

Pada intinya, semuanya menuntut kita untuk bercerita, bertutur, dan membagikan ide di kepala. Bagi saya, event semacam ini sama menyenangkannya, sama rumitnya, sama membingungkannya.

Saya sendiri mencoba disiplin untuk membagikan ide cerita melalui 30HariBercerita dan 30HariTemanNulis pada Januari ini. Alasannya sudah pasti mengeluarkan isi pikiran yang terlalu menumpuk. Awal-awal saya antusias, makin lama makin kebingungan. Meskipun tidak "membolos", tapi saya merasa apa yang saya tuturkan melalui caption Instagram menjadi tidak bermakna.




Salah satu tulisan saya yang direpost sama akun @30HariBercerita.

Apakah kita butuh jeda dalam bercerita?
Saya rasa perlu. Apa yang selalu kita kerjakan setiap hari nyatanya seringkali membawa kejenuhan. Sesuka apapun itu. Sama halnya kayak menulis. Buat saya, sesuka apapun saya sama menulis, saya juga perlu istirahat sejenak.

Bercerita selama 30 hari berturut-turut ternyata menguras pikiran juga. Walaupun bisa saja saya hanya sekadar menulis satu paragraf, tapi niat saya bukan untuk itu. Saya menaruh effort yang lumayan untuk mengikuti event ini. Jadi, setidaknya hasilnya harus bisa bikin saya puas setelah menulis.

Bercerita itu mudah buat sebagian orang, tapi bisa jadi sulit untuk orang yang nggak terbiasa.

Kemarin, akhirnya saya melihat caption panjang milik salah satu teman di Instagram, satu hari setelah ia berulang tahun. Ia tidak terbiasa membuat caption panjang, walaupun cerita-cerita di blognya sangat menyenangkan. Di captionnya ada kalimat, "Kata orang kalo bikin caption jangan panjang-panjang, nggak ada yang peduli. Tapi bodo amaaat."

Lantas, ia tetap menceritakannya di caption tersebut meski dengan kalimat pembuka semacam itu.

Jadi, kembali ke topik bahasan bahwa jeda itu perlu. Bukan berarti kita nggak suka lagi sama menulis, tapi menurut saya lebih kayak mencari perspektif baru. Sama kayak nulis skripsi, maunya cepat selesai, tapi kita perlu riset juga untuk menemukan sudut pandang baru. Sama juga kayak pedekate, ngobrol setiap hari itu nggak salah, tapi jeda diperlukan supaya kita tahu seberapa butuh kita terhadap pasangan.

Naon sih, yang terakhir tidak nyambung pisan.

Intinya,  jeda ada untuk memberi ruang penyegaran. Bukan suatu yang salah kok kalau kita butuh jeda. Tapi, ya, jedanya setiap orang beda-beda. Ada yang hitungan jam, ada yang butuh sehari, seminggu, sebulan, atau mungkin setahun. Nggak bisa disamakan.

Bercerita itu boleh buat siapa saja.
Enam tulisan saya di blog selama Januari isinya curhat semua. Ini yang ketujuh dan akan jadi tulisan curhat yang lumayan panjang. Saya selalu mengecek ke daftar bacaan blog kalau-kalau ada tulisan baru dari teman-teman yang bisa saya baca.

Kenyataannya, seminggu belakangan saya malah menemukan 3 tulisan serupa. Tulisannya Bang Adi, tulisannya Yoga, dan tulisannya Kak Dian. Mereka sama-sama bicara soal kesulitan bercerita.

Seperti Bang Adi yang bilang kalau curhat di blog seakan tidak menyenangkan lagi karena orang-orang akan menganggap hal itu alay, norak, dan terlihat lemah. Atau seperti Yoga yang bilang kalau lebih baik menuliskan hal lain daripada keluhan curhatnya dianggap tulisan sampah. Atau juga seperti Kak Dian yang lebih memilih memendam isi pikirannya atau menuliskan keluh kesahnya daripada bercerita langsung kepada orang lain.

Saya enggak tau apakah memang sedemikian sulitnya untuk bercerita? Memang, penyelesaian sebuah masalah nggak cuma lewat curhat. Siapa tahu mereka memang lebih suka memendamnya dan membiarkannya selesai dengan sendirinya.

Kalimat pamungkasnya memang akan selalu sama:: tergantung individu masing-masing.

Tapi, buat saya pribadi, bercerita itu sudah jadi kebiasaan. Bagusnya, saya punya beberapa teman yang bisa saya andalkan alias jadi tempat ketika saya butuh cerita. Atau kalau lagi nggak mau cerita ke orang, ya saya akan cerita di blog ini, atau di buku diary, atau di platform lain, atau di grup Whatsapp yang isinya cuma saya sendiri.

Saya terbiasa bercerita ke beberapa teman dekat ketika pikiran lagi sumpek dan tidak bisa saya atasi sendiri. Sama kayak kejadian beberapa bulan lalu yang akhirnya, mau tidak mau, membuat saya harus pergi konseling demi pulihnya kewarasan saya. Atau nekat ke luar kota demi ketemu teman dan cerita banyak hal. Saya terbiasa seperti itu.

Pun ketika ada yang ingin bercerita ke saya. Saya bisa dihubungi oleh siapapun, diceritakan banyak hal, bahkan dari orang-orang yang belum pernah saya temui. Dan saya tidak keberatan untuk itu.

Saya memang senang bercerita, tapi saya juga sangat senang mendengarkan. Hubungan kayak gini seperti timbal balik sih. Hari ini saya cerita tentang kesedihan, orang lain mendengarkan. Di lain hari, mereka yang bercerita dan saya mendengarkan.

"Tiw, ayok nongkrong, gue mau cerita."
"Wi, aku mau nelpon, mau cerita."
"Wi, lagi sibuk nggak? Mau cerita."
"Mba tiw, aku boleh cerita ga?"

Kalimat-kalimat itu entah kenapa malah bikin saya senang. Karena tandanya mereka menaruh kepercayaan sama saya. Dan saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menginterupsi kecuali mereka meminta saran. Saya nggak mau jadi sok tau atas hidup seseorang, walaupun otak saya kadang berpikir demikian.

Kalau boleh bilang sekali lagi, berceritalah ketika kamu bisa. Kepada siapapun, di media apapun. Supaya nggak jadi bom waktu yang tiba-tiba bisa bikin kamu hancur berkeping-keping dalam sekejap.

Memilih rehat dari sosial media
Setelah memutuskan untuk kabur dari Twitter, kali ini saya memilih rehat dari Instagram. Alasannya sederhana, kejenuhan sudah mulai merambati pikiran saya. Saya nggak tau lagi mau ngapain di dua platform itu. Ngoceh di Twitter yang biasanya enjoy, lama-lama jadi annoying bagi diri saya sendiri. Pun dengan instagram yang bikin saya gregetan kalau nggak upload foto atau story.

Makanya, saya akan beralih ke blog, buku, dan film. Alias mau mengaktifkan diri dengan menulis di blog ini atau sekalian bikin cerpen atau entah apalah; lalu membaca buku untuk menggenapi target tahun ini, dan menonton film sambil iseng review di Letterboxd. Saya pikir ini keputusan yang cukup adil buat diri saya sendiri yang selama 2019 sama sekali nggak produktif dimana-mana.

Sekiranya blog ini jadi tempat sampah, semoga itu sampah yang bisa didaur ulang alias masih ada manfaatnya. Bukan cuma sekadar sampah yang yaudah dibiarkan aja sampai membusuk.

Semoga sih nggak cuma jadi wacana. By the way, I enjoyed my life on January. I hope it will be fine until the end of the year.

Sekian.

Cibubur, Januari 2020.
18:16.

You Might Also Like

2 comments

  1. Sebetulnya gue enggak kesulitan kalau hanya sekadar bercerita. Yang bikin susah tuh menemukan cara buat menyampaikannya dengan keren--menurut standar sendiri. Apalagi cerita lewat tulisan tuh jelas beda sama lisan. Jika curhat langsung, kita semua bisa memilih pendengarnya, khususnya orang-orang terdekat yang bisa dipercaya. Nah, di blog kan siapa aja bisa baca. Belum lagi rasa cemas menuturkan kesedihan yang bakal dianggap lemah dan norak. Pencerita yang baik itu pasti perlu metode, gimana mengubah kesedihannya jadi menarik, bahkan mengajak pembacanya merenung atau malah mentertawakan diri mereka sendiri yang punya pengalaman serupa.

    Ingin rehat dari medsos biar sehat, tapi nyatanya kadang-kadang muncul rasa iseng buat buka yang justru menyakiti diri sendiri lagi. Haha.

    Tulisan di blog emang selalu bisa didaur ulang, kok. Masih ada fitur edit atau kembalikan ke draf--tinggal terbitkan ulang dengan versi baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya. Gue setuju sih untuk bagian menemukan cara yang tepat buat bikin cerita jadi menarik. Karena pada akhirnya banyak penulis yang bisa bikin cerita dan membuat orang-orang berkata, "Ah ini gue banget." Padahal ya harusnya kitapun bisa bikin yang seperti itu. Baiklah, mari kita coba bikin cerita yang begitu. Hahaha.

      Oh, sudah pasti iseng buka itu suka dilakukan. Tapi setidaknya kalo gue bener-bener deactive twitter dan gue uinstall. Kecuali IG yang emang gue tinggal aja tanpa deactive wkwk.

      Gue belom pernah melakukan daur ulang tulisan selama ini sih. Saking malasnya dan gak tau mau mengubah kayak apa. Mungkin boleh dicoba nanti. Hahaha. Thanks, Yog!

      Delete