The End of The F***ing 2019

December 31, 2019


Pffft.

Akhirnya tahun yang cukup melelahkan ini selesai juga. Saya semakin tua, tetapi entah sudah melakukan hal baik apa di tahun ini. Kadang-kadang, saya merasa tidak ingin meneruskan tahun-tahun berikutnya kalau masih dengan diri dan pemikiran yang seperti ini. Tapi rasanya juga egois sekali kalau cuma gara-gara itu saya ingin berhenti. Padahal, diri saya juga sudah berjuang melewati banyak masalah. Ya, kali ini saya mau mengapresiasi diri saya sendiri.

Selamat, Tiwi! Kamu sudah berhasil sampai di titik ini. Terima kasih sudah berjuang dan tidak menyerah walaupun ya, banyak hal-hal tidak terduga yang saya yakin kamu sangat-sangat sesali. Tidak apa-apa, saya tetap sayang kamu. Selanjutnya, mari berjuang lagi untuk tahun-tahun berikutnya. Jangan mati dulu, ya!

2019 was over, but I'll do a little flashback.

Januari sungguh jadi pembuka yang datar-datar saja. Sebab waktu itu saya nasih freelance, belum ada pekerjaan tetap. Kerjaan saya tiap hari cuma main, ongkang-ongkang kaki, nonton film, baca buku, rebahan.

Iya, rebahan is the best activity.

Sampai kemudian Februari datang. Saya lagi keranjingan nontonin vlognya Jerome Polin dan lagi aktif-aktifnya belajar bahasa Jepang lagi setelah lama nggak belajar. Saking semangatnya sampai bisa dibilang bucin sama Jerome, alias mimpi saya buat ke Jepang jadi menggebu-gebu lagi. Februari masih saya isi dengan kegabutan yang cukup berfaedah...

salah satunya saya belajar bikin sushi di rumah demi memuaskan hasrat keinginan makan sushi setiap minggu. Hahaha. Dari yang awalnya berantakan, sampai bentuknya udah layak makan kayak yang dijual-jual itu. Saya bahagia bisa bikin sushi sendiri. Hehehe.


Di Februari juga saya datang ke acara Workshop Karuta dari Japan Foundation. Sampai saya ngikutin semua season anime Chihayafuru dan Live Actionnya. Seru banget sih main karuta. Padahal saya sebelumnya sama sekali nggak paham apa itu karuta.

Hal menyebalkan yang terjadi di Februari adalah... SAYA GAGAL KE JOGJA! Ya, gara-gara nggak dapet izin sih, terus kebetulan ada interview kerja, yang akhirnya gagal juga.

Maret juga datar-datar saja kecuali satu orang yang tiba-tiba datang lewat DM Instagram, terus tau-tau ilang begitu saja. Saya sempat bikin tulisan di sini. Hahaha

Langsung skip ke April-Mei-Juni aja, ya. Tiga bulan ini saya merasa nggak ada yang spesial. Masih menjadi job seeker, usia nambah 1 tahun, lalu ya sudah begitu saja. Nggak ada hal-hal menarik yang bisa diambil dari pengangguran kayak saya. Hahaha.

Oh, Mei saya punya cerita agak mendebarkan. Dimulai dari mengucapkan ulang tahun ke seseorang, sampai pertemuan yang diisi dengan hening di Blok M. Di Juni, saya juga gagal lagi ikut MIWF 2019, padahal seingat saya udah sampai diterima jadi volunteer. Sedih lah pokoknya.

Juli jadi permulaan yang panjang. Entah kenapa saya terjebak pada satu kegiatan, rutinitas yang biasanya membosankan, tapi jadi menyenangkan. Seseorang yang tiba-tiba datang, lalu mengubah hari-hari saya jadi penuh gairah kehidupan. Entahlah, kalau mengingat hal-hal menyenangkan itu rasanya memang sangat sulit percaya bahwa itu bukan mimpi.

Juli dan telepon-telepon panjang. Juli dan pesan-pesan singkat yang berkelanjutan. Juli dan kata-kata cinta yang entah bohong atau hanya karena terbawa suasana. Juli dan catatan-catatan baru di hidup saya. Juli dan ketidakpercayaan saya terhadap orang ini. Juli dan ketakutan saya yang sedikit demi sedikit ia singkirkan. Juli dan keberadaannya yang tidak terduga...

dan saya menerimanya dengan ketidakpercayaan dan keraguan.

Baca: Meanwhile, This Morning.

Agustus dan rupa-rupa hal mendalam yang terasa mulai membingungkan. Membagikan hal-hal pribadi pada orang lain yang sebelumnya tidak saya pikirkan. Saya jatuh, tanpa ampun. Mungkin lebih tepatnya menjatuhkan diri. Entah bagaimana kata-katanya seolah meyakinkan, atau mungkin saya saja yang bodoh. Hahaha. Sayangnya, karena kata-katanya yang terlalu menarik bikin ekspektasi saya jadi melambung.

Agustus jadi tempat kebimbangan merambati pikiran. Saya harus apa, membiarkan dia menahan saya, atau berlari untuk hal yang sudah saya tunggu sejak lama? Kenyataannya, saya membiarkan diri saya "ditahan" olehnya. Oleh kata-kata semacam, "Mungkin kamu akan lebih baik bersama dia dibanding sama saya."

Di saat yang sama dia bilang, "Saya nggak habis pikir kamu masih memikirkan orang lain bahkan ketika kamu sudah sama saya."

Saya baru sadar kalau itu kalimat yang cukup manipulatif untuk menarik saya, tanpa saya sadari kalau dia pun melakukan hal yang sama terhadap saya—memikirkan orang lain ketika sudah bersama saya. Mungkin saya kurang pengalaman saja. Sudah, tidak apa-apa. Agustus saya masih menyenangkan karena saya masih penasaran dengannya, dengan semua isi di dalam kepalanya.

Selain soal romansa, saya juga sempat mendaki gunung lho. Jadi, 2019 saya ngga datar-datar amat. Hahaha. Waktu itu saya ke Gunung Ciremai tepat waktu pemadaman yang beberapa hari itu dan Gunung Ciremai kebakaran setelah saya turun. Satu kegiatan yang cukup bikin saya bisa lepas dari kebucinan dan sumpeknya pikiran waktu itu.


September serupa roller coaster. Rasa penasaran yang memuncak dan mungkin rindu juga. Tidak tahulah, semua campur aduk. Senang, sedih, haru, marah, kecewa, sampai depresi ada di September.

Nggak apa-apa, Tiw. Jangan nangis.

Kalimat yang sama yang pernah seseorang katakan ke saya, tapi ya tetap saja saya nangis. Hahaha.

Baca: September Reminder

Oktober jadi titik balik kehidupan saya pasca bertemu orang itu. Rasa sakit dan segalanya teralihkan dengan pekerjaan baru. Ya, walaupun masih belum sepenuhnya. Rasanya masih campur aduk ketika seseorang yang tadinya begitu peduli dan ada setiap hari, lalu tiba-tiba hilang begitu saja dan menganggapmu bukan siapa-siapa. Saya nggak suka perasaan semacam itu. Hahaha.

November juga masih sama. Pekerjaan yang sebelumnya saya lepas dan berganti ke pekerjaan baru lagi. Suasana hati masih sama riuhnya, tapi sudah terkendali. Sudah bisa berpikir waras kalau seseorang itu memang... duh, saya nggak mau berkata jahat, tapi memang dia demikian sih. Saya nggak nyangka aja ada orang setega dia yang memainkan peran sebagus dia juga. Nggak tahu, dia aktor kawakan dari dulu kali.

Sabar, Tiw, sabar. Hubungan dua orang yang kandas itu bukan cuma salah satu orang, tapi ya salahnya dua orang itu. Wah, saya memang belum pengalaman. Sama dia ini saya jadi punya pengalaman pertama yang pahitnya ngalahin jamu brotowali. Entah saya yang bodoh atau memang dia yang pandai memanfaatkan keadaan—terutama kelemahan saya yang nggak enakan dan terlalu baik ini, sampai akhirnya... ya gitu deh.

Sudah dihibur dengan nonton konser pun ternyata masih sedih juga. Coba baca dulu ceritanya di sini.

Desember dan kenyataan yang mengejutkan.

Saya ingin banyak-banyak istigfar di Desember. Banyak bersyukur juga sih karena bisa sampai di akhir tahun dengan segala kerumitan hidup. Ya, sejak kapan sih hidup manusia nggak rumit? Ya, sejak dulu lah.

Setiap kali mendapat cerita julid dari banyak orang, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Manusia kenapa begini banget, ya?

Anjing yang bajingan dan bermulut sampah!

Wow, saya bisa berkata kasar sekarang. Hahaha. Maaf, beribu maaf. Kata senior saya, kalau saya udah sampai berkata kasar secara gamblang, artinya ada hal-hal yang benar-benar menyakitkan. Hahaha. Saya sih setuju aja karena memang benar, saya kalau marah nggak pernah sampai memaki orang dengan kata-kata kasar. Trauma euy dan itu tidak baik bagi mulut perempuan. Hehehehehe.

Ih, kok saya banyak ketawa banget. Udah gila kali saya.

Desember sebenarnya adalah waktu dimana saya menerima banyak fakta. Menggenapi keingintahuan dan kekepoan yang sebenarnya malas saya cari tau. Tapi tiba-tiba saja kabar-kabar datang dengan sendirinya. Dan saya bertekad bulat untuk tetap berkata kasar dalam tulisan ini. Saya sangat ingin bilang, "Bangsat, ya, Anda!" secara langsung, tapi lebih bagus lagi kalau orangnya baca aja di sini. Hehehe.

Ya, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Mari hidup lebih baik.

Sebelum menutup tulisan ini, Desember memberi saya hal-hal yang cukup membahagiakan juga kok. Bertemu orang lama yang sebelumnya sudah saya tunggu, tapi harus teralihkan karena saya sedang menjalin hubungan dengan orang lain. Sampai cerita-cerita panjang yang juga tidak terduga tapi cukup melegakan.

Baca: Dua Gelas Kopi Susu Dari Toko Keluarga

Well, 2019 taught me a lot. Jangan gampang percaya sama mulut lelaki, terutama. Hahahaha. Nggak, bukannya pesimis dan menyamaratakan semuanya, ya. Cuma ya waspada aja. Kedua, banyakin bersyukur, soalnya hal-hal yang terjadi pasti ada hikmahnya, mau sekecil apapun. Ketiga, cepet move on kali. Perjalanan masih panjang, Nggak perlu nangis-nangis lebay kayak kemarin, buang-buang energi.

Eh, tapi siapa yang nggak nangis kalau dijahatin sampai segitunya. Jahatnya nancep ke psikis sih.

Keempat, sayangi dirimu, minum yakult tiap hari.

Kapan terakhir kali kamu minum yakult, Tiw?

Kelima, yuk sambut 2020 dengan kerja keras agar bisa jadi sultan. Hehehe.

Begitulah kehidupan di 2019 yang sungguh menguras energi. Terima kasih, ya! Saya akan lebih baik lagi di 2020. Resolusi? Apa itu resolusi? Nggak punya. Cuma pengen kaya raya aja...

dan jadi orang bodo amat.

Bye, 2019!


Menara Mulia, Desember 2019.
14:00

P.S. Postingan blog sebulan ke depan adalah postingan terjadwal. Entah kerajinan atau sok sibuk, semua draft akan naik posting saja.

You Might Also Like

8 comments

  1. berarti 2019 lebih mearasakan gimana roller coster sebuah hubungan ya.

    tetap semangat,2020 kerja keras sampe tetangga mengira semua harta kita adalah hasil pesugihan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul hahaha. Pekerjaan juga sih.

      Semangat juga kak! Semoga cepat kaya raya!

      Delete
  2. Pengin juga sebetulnya kilas balik begini, tapi kalau ingat setahun penuh nyaris semuanya tentang kegagalan kok rasanya mending enggak usah bikin. Meski begitu, ternyata ada keberhasilan sedikit, yakni bikin dua buku digital. Dua-duanya serba dadakan pula. Gue cuma menghimpun tulisan-tulisan lama. Namun, gue tetap gembira masih punya keberanian di dalam diri. Bisa mengurangi kebencian terhadap tulisan sendiri (biarpun kemudian hari tentu bakal saya benci lagi jika mencoba baca ulang).

    Widih, cerita lu tahun 2019 banyak romansanya, ya? Sebuah perkembangan, kah? Soal mulut lelaki yang lu tulis jangan terlalu percaya atau mesti waspada itu, buat gue terasa konyol masa, Wi. Gue belum tahu ini valid atau enggak, tapi perempuan bukannya emang gampang terpukau dengan hal-hal manis yang dia dengar? Sedangkan lelaki itu dengan hal manis yang dia lihat?

    Gue sih sekarang mulai santai aja dengan pernyataan para perempuan terhadap gue. Apalagi para mantan yang mungkin juga penilaiannya enggak jauh beda dengan apa yang lu tulis. Kayaknya sebagian orang bakal jadi penjahat di mata seseorang yang ditinggal pergi ataupun meninggalkan. Kalau soal dua-duanya yang salah, itu emang masalah sudut pandang sih.

    Lucu juga mengenang tahun lalu bahwa gue sama sekali enggak berhubungan dengan perempuan selain cuma bisa mengaguminya dari kejauhan, bahkan kehadirannya bisa dibilang cuma hasil menggali kenangan manis yang mustahil dilupakan. Ya, kecuali hubungan sebagai penggemar yang sampai gue bikin ucapan ulang tahun itu juga bisa disebut romansa. Karena gue sendiri bingung, aneh amat bisa kagum sama perempuan yang usianya muda. Mungkin itu cuma kayak perasaan seorang kakak pengin menjaga adiknya. Wqwqwq.

    Gue sebetulnya mulai malas meninggalkan komentar di blog-blog orang lain, pengin baca doang gitu, tapi sialnya sekali komentar bisa panjang. Tai. Ya udahlah, telanjur diketik. Selamat tahun baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bentar, gue napas dulu baca komen lu yang ternyata panjang juga tapi gue seneng kalo lu komen panjang wkwk.

      Pertama, selamat Yog akhirnya terbit juga buku digitalnya. Yang terbaru kemarin belum selesai gue baca. Baru 4 puisi kalo nggak salah. Bagi gue, lo termasuk rajin nulis sih walau nggak dipublish. Jadi untuk bikin buku digital ini pun udah keren. Soal membenci tulisan, gue rasa lo lebih ke arah teliti dan perfeksionis ya. Cmiiw. Tapi bagus sih jadi bisa menilai tulisan sendiri. Nggak kayak gue yang sekali nulis udah ngerasa puas padahal ancur banget hahaha.

      Soal romansa 2019 mungkin bisa dibilang perkembangan sih. Tapi nggak terlalu ngefek. Cuma ya tetap ada pengalaman yang baru mengingat gue sebelumnya enggak mau pacaran hahahaha.

      Yes, all of girls loves a sweet sentence. Tapi kalo kebanyakan ya muak juga hahaha. Kayak minum kalo kebanyakan gula malah jadi eneg dan bisa bisa pait.

      Hahaha perasaan seorang kakak untuk menjaga adiknya? Yakin Yog? Sebelum lu tau dia usianya dibawah lu gimana perasaan lu? Wkwk. Ya kalo kagum gitu sih gue termasuk sering juga. Entah itu juga bisa disebut romansa apa enggak.

      No, jangan malas dong. Gue suka mendapat komentar yang panjang hahaha. Selamat tahun baru juga Yog. Semoga ada banyak kabar baik di tahun inu ya.

      Delete
  3. Tahun 2019 yang penuh roller coaster ya. Cobain setelah ini, bikin kilas balik perjalanan hidup selama satu dekade, pasti seru tuh. Terkadang, dari menelaah masa lalu, kita bisa belajar banyak hal-hal penting untuk kehidupan kita di masa kini.

    Btw, Menara Mulia? Di Jalan Sudirman, Jakarta? Jangan-jangan...kita pernah kerja dan ngeblog dari gedung yang sama? Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bikin kilas balik 1 dekade, mungkin nanti pas 2023 hahaha. Soalnya suka lupa apa saja yang sudah terlewat. Ini aja bikin kilas balik karena ada modal tulisan sepanjang 2019.

      Yap, masa lalu seringnya jadi pengalaman sih biar nggak salah langkah lagi. Kalo masih begitu aja ya tuman namanya wkwk.

      Menara Mulia di Semanggi, Kak. Nah, bisa jadi tuh pernah ngeblog bareng dari gedung yang sama. Hahaha.

      Delete