Pertama Kalinya (Mau) Nangis Pas Nonton Konser

December 14, 2019

Sheila On 7 on stage.

"Eh kalau ada konser sheila on 7 di jakarta kabarin ya," someone told me.

Pertemuan kadang cuma wacana. Beberapa kali menemukan jadwal konser yang oke, tapi harganya tidak pas di kantong juga bikin segala rencana berujung wacana.

Akhirnya beberapa bulan lalu, saya nekat beli tiket konser sendiri. Tanpa mengajak orang yang pernah bertanya pada saya waktu itu. Saya pikir, saya memang butuh nonton konser. Selain mau nyanyi-nyanyi, saya juga butuh suasana ramai.

Karena apa? Karena saya mau "tenggelam". Keramaian bikin saya nggak nyaman memang, tapi kadang butuh juga suasana semacam itu supaya merasa lebih punya perasaan yang berbeda saja. Sesuatu yang cuma bisa kamu temukan kalau ada di kerumunan.

Bising, tapi sepi.

Saya nggak nonton konser sendirian sih, saya tetap ajak teman. Apalagi ini konser festival kedua yang rela saya datangi. Biasanya saya agak malas kalau datang ke konser festival. Alasannya ya apalagi kalau bukan kebisingan yang terlalu bikin pusing.

Sebelumnya, saya selalu nonton konser hanya ketika ada salah satu band/penyanyi favorit saya yang tampil. Sejauh ini memang baru Bondan Prakoso, Sheila On 7, dan... iya, iya, Fiersa Besari x Kerabat Kerja.

Tujuannya biasanya selain mau liat penyanyinya ya agar bisa nyanyi bersama orang-orang. Saya nggak gemar karaokean, jadi konser musik adalah salah satu penyambung suara saya yang sumbang, tapi tetap bisa teriak-teriak nyanyi di keramaian.

Jadi, kenapa konser kali ini bikin saya nangis?

Ada dua hal.

Pertama, gara-gara hujan. Saya datang ke venue sekitar jam 5 sore. Disitu Ardhito Pramono sebagai guest star pertama sudah mulai perform. Saya dan Caca—teman yang saya ajak nonton konser—masih harus mengantri untuk menukar wristband. Beruntung karena nggak harus menunggu lama untuk penukarannya.

Kami langsung menuju area panggung setelahnya. Langit sudah begitu gelap dan mendung. Saya pikir nggak akan hujan. Ya masa acara sebesar ini pawangnya enggak jago? Hahaha.

Ternyata hujan tetap turun. Deras banget pula! Saya akhirnya membuka payung. Niatnya mau hujan-hujanan, tapi ingat kalau di tas ada baju ganti. Kalo kuyup semua besok saya pulang pakai baju apa? Akhirnya enggak jadi hujan-hujanan.

Setelah hujan bertransformasi jadi gerimis. Kerumunan sudah mulai menyemut di depan panggung. Kami terjebak di tengah. Hampir setengah konser—ketika Hivi mulai tampil—hujan turun lagi. Saya ragu untuk membuka payung kembali.

"Gapapa, Wi. Buka aja payungnya." Saya masih ragu karena tahu respon apa yang akan saya dapat ketika membuka payung di tengah kerumunan.

Caca kemudian membuka payung saya dan dugaan saya benar.

"Turunin payungnya woi. Nggak keliatan!" Suara orang-orang di belakang mulai terdengar. Kampret. Suasana hati saya lagi nggak baik, kena hujan makin nggak baik, diteriakin juga bikin saya gusar.

Sial. Saya mau lempar ini payung ke muka mbaknya yang neriakin saya. Tapi akhirnya saya memilih minggir daripada baku hantam.

Ini bikin nangis? Nggak sih. Cuma kesal aja. Yang bikin mau nangis tentu saja lagunya Hivi yang beberapa liriknya lagi relate sama keadaan saya. Belum lagi kehujanan bikin saya tambah mellow.


Kedua, apalagi kalau bukan penampilan Sheila On 7. Terakhir saya nonton mereka itu pas tahun lalu di Jiexpo Kemayoran. Rasanya kayak rindu yang ditumpuk akhirnya luruh karena bisa nonton aksi panggungnya mereka.

Lagu-lagu yang mereka bawakan juga sudah saya hapal semuanya. Dan saya nggak menduga kalau mereka akan menyanyikan lagu Hujan Turun. Entah pas karena suasananya lagi hujan atau memang hati saya yang lemah, saya beneran nangis pas dengar lagu ini.

Ingat kembali yang terjadi
Tiap langkah yang kita pilih
Meski terkadang perih
Harapan untuk yang terbaik
Sekeras karang kita coba
Tetap kau tinggal diriku

Waktu hujan turun
Di sudut gelap mataku
Begitu derasnya...
Kan kucoba bertahan...

Tak akan kuhalangi 
Walau ku tak ingin kau pergi
Kan kubangun rumah ini
Walau tanpa dirimu

Nggak tau, saya nangis begitu aja waktu mereka nyanyi. Saya ikut nyanyi, tapi sekaligus merenungi lirik-liriknya yang menohok hati dan pikiran saya. Rasanya kayak dihantam sama kenangan yang sudah berlalu.

Gila, pikir saya. Kenapa kejadian itu masih membekas terus ya? Padahal saya yakin dia udah lupa. Tapi malah saya yang tersiksa gini. Sialan.

Ini cerita nonton konser tersedu sedan yang pernah saya alami. Kapok sih nonton konser festival, tapi nggak sanggup buat beli tiket intimate concert. Jadi, ya sudahlah.



Sekian.

You Might Also Like

4 comments

  1. Eh... di hari dan (sepertinya) waktu yang sama, saya juga lagi nonton konser di tempat yg gak jauh dari tempat mbak nonton konser ini.
    Saya lagi nonton konser band Korea di Tennis Indoor Senayan... :D

    ReplyDelete
  2. Saya juga paling ga doyan ngikut konser festival. Tipikal manusia yang males berada di keramaian, tapi takut kalo sendirian, hahaha.

    Memang kadang kenangan masa lalu yang sudah kita anggap hilang, bisa hadir kembali dengan sebait lirik musik. Gapapa, jadikan nostalgia kita sebagai manusia biasa, hehehe.

    Fajarwalker.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha kayaknya hampir semua orang pernah mengalami keadaan kayak gitu ya. Gak suka keramaian tapi takut sendirian. Satu lagi, konser musik festival bikin capek karena berdiri nintonnya wkwk.

      Hahaha siaaaap. Nostalgia di mana saja dan oleh apa saja.

      Delete