Dua Gelas Kopi Susu Dari Toko Keluarga

December 20, 2019


Apa kamu pernah merasa berdebar ketika bertemu orang yang sama padahal waktu memisahkan begitu lama? Apakah kamu pernah merasa aman bersama seseorang walaupun kamu tau dia tidak sebaik yang kamu kira? Apakah kamu pernah membiarkan dirimu jadi apa adanya di hadapan seseorang tanpa takut mendapat penghakiman?

Aku pernah.
___

Gerimis masih belum reda ketika aku turun dari ojek daring yang mengantarku ke tempat pertemuan. Aku menekan nomor teleponnya, dimatikan.

"Di mana?" ketikku pada kolom pesan. Ia membalas dengan jawaban yang sebelumnya sudah ia beritahukan padaku. "Oke kesitu," balasku lagi.

Aku berusaha menahan degup jantung yang mulai berlari. Rasanya aneh sekali. Setiap kali bertemu dia, aku harus mengalami fase berdebar seperti ini. Padahal ini sudah pertemuan kesekian dengannya.

Ia duduk sendirian di sebuah pojok minimarket berlogo huruf K berlingkaran, sibuk dengan ponselnya dan tidak menyadari kedatanganku.

"Halo," aku meraih tangannya. Hendak salim seperti biasa. "Ih, kumisan." Ia tampak semakin dewasa sesuai usianya. Sekilas aku teringat dengan seorang senior di kampusku dulu. Namun, ia tampak lebih kurus dari terakhir kali kami bertemu.

Ia hanya terkekeh meresponku dan melanjutkan aktivitas bersama ponsel dan rokoknya. Aku memilih duduk di depannya, tak melakukan apa-apa. Ia masih dengan gaya yang sama, sweater abu-abu yang biasanya dan kacamata. Tas ransel hijau botol serupa warna kerudungku dan sepatu dengan logo ceklis.

"Mau makan apa?" Pertanyaannya sudah seperti pegawai restoran. Datar dan tidak bernada. Ia bertanya langsung karena sebelumnya aku mengeluh lapar di kolom pesan dan dijawab dengan, "Iya nanti makan. Aku juga belum makan."

"Nasi." sahutku. "Aku belum makan siang soalnya." Ditambah cengiran lebar. Ekspresinya tetap datar dan kaku. Aku mulai bingung menghadapi kecanggungan ini.

"Di food court yang kamu makan waktu itu aja gimana?" tanyanya.

"Boleh. Yuk."

Kami lalu berjalan, tanpa ada obrolan basa-basi panjang. Overthinking-ku sudah dimulai sejak tadi. Apa kiranya yang bisa mengisi kekosongan ini. Bertanya soal pekerjaan, tidak buruk. Atau soal hidupnya?

Atau tentang kalimat-kalimat panjang yang sudah ia baca dari buku yang sebelumnya aku berikan?

Atau mau ke mana setelah ini?

Atau Filosofi Kopi ramai sekali, ya? Padahal ini hari Senin.

Akhirnya kalimat terakhirlah yang kulontarkan padanya.

"Iya, padahal kopinya biasa aja menurutku. Ya, namanya tempat nongkrong," katanya.

Di eskalator, kami membisu kembali. Aku berusaha meredakan debar yang semakin kuat. Kenapa harus begini lagi, sih?

"Kamu mau makan apa jadinya?"

"Nasi."

Ia tertawa kecil. Sial. Aku suka caranya tertawa.
---

Di tempat makan.

Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan dengannya. Tapi, bagaimana caranya, ya? Bagi orang lain, ini terlihat mudah. Tinggal bicara, direspon, lalu selesai. Bagiku ini perkara hidup dan sekarat.

Isi kepalaku benar-benar minta dimuntahkan, tetapi yang keluar dari mulut cuma patahan-patahan kata yang tak beraturan. Dalam hati aku berharap, semoga ia mengerti maksudku.

Orang-orang berlalu lalang. Lalu ia bilang, "Emang boleh ngerokok, ya?" Ia menunjuk stiker "No Smoking" yang tertempel di dinding resto dan melirik ke arah bapak-bapak yang merokok.

"Nggak boleh karena ruangan ber-AC mungkin." jawabku tidak nyambung.

"Bukan. Aku bukan ngomongin itu. Tadi pelayannya negur bapak-bapak yang ngerokok itu," jelasnya.

"Oh, iya. Kok bapaknya masih ngerokok aja, ya?"

"Nggak tau."
---

Malam belum sepenuhnya larut, tetapi hal-hal di pikiranku sudah tersampaikan. Di luar gerimis masih belum juga reda. Ramai riuh orang-orang seolah tak terhambat oleh apapun.

"Mau kemana abis ini?"

"Kamu mau ngerokok, kan? Ya cari tempat aja buat ngerokok."

Sepanjang jalan ramai. Kursi-kursi di depan minimarket tempat ia menunggu tadi juga sudah dipenuhi orang. Akhirnya...

"Mau cari tempat lain? Aku bawa motor kok."

"Boleh deh."

"Ke mana?"

"Ya, terserah. Hahaha."

Aku melihat motornya, lalu teringat pada motor Dilan atau motor sejenis Cortazar (kalau kamu sudah baca buku 24 Jam Bersama Gaspar, pasti kamu tau).

"Motor siapa nih?"

"Motorku lah. Kamu kira aku nggak mampu beli motor?"

"Aku nggak bilang gitu ya, Mas. Hahaha."

"Udah ayo naik."

Aku mulai bertanya alasannya membeli motor itu. Karena menurutku seleranya beda dari kebanyakan orang dalam membeli motor. Orang-orang biasanya lebih suka membeli motor yang simpel dan modelnya kekinian atau motor besar yang mereknya ada max-maxnya itu.

"Biasa, pendendam anaknya. Jadi belinya motor kayak gini. Tapi kalo lebih enak sih emang enakan motor matic," jelasnya sambil menyetir motor.

Dibonceng dengan motor seperti ini, tanpa helm, dan sedang gerimis membuatku ingat percakapan setahun lalu dengannya saat ia hendak menjemputku di Museum Nasional Jogja.

Percakapan absurd yang sampai hari ini tetap menjadi kenangan.

Klik gambarnya buat baca cerita lengkapnya.
Berkeliling dengan motor semacam ini yang aku pikirkan cuma dua: pertama, takut merosot karena bagian belakang jok motornya tidak memiliki tadahan seperti motor pada umumnya; kedua, apakah aliran air dari ban motornya akan nyiprat ke tasku atau tidak.

Diam-diam aku bersyukur, dua hal itu tidak terjadi.

Ingatanku juga kembali ke tahun lalu ketika ia mengantarku pulang di jam satu malam. Sudah lama rasanya tidak jalan-jalan motoran malam seperti ini. Terakhir kali ya bersamanya di Jogja tahun lalu itu. Sisanya, aku selalu pulang di bawah jam 10 malam.

Melihat papan nama sebuah hotel kapsul, aku iseng bertanya pendapatnya soal hotel tersebut.

"Aku pernah nginap di sana dan nggak bisa tidur. Temenku lebih parah, katanya kayak di makam. Tinggal setel murotal, udah kayak simulasi di alam kubur.".

Aku cuma tertawa menanggapi ceritanya. Tapi kupikir-pikir benar juga. Hotel kapsul memang sebuah konsep yang "unik". Aku lebih terpikir kalau hotel semacam ini lebih seperti peti mati. Aku sendiri sepertinya tidak bisa kalau disuruh menginap di sana. Takut dengan ruangan sempit. Apa ya istilahnya? Pokoknya bakalan sesak napas kalau nemu ruangan sempit.

Sepertinya gerimis masih akan terus turun. Akhirnya kami memilih mampir ke Toko Keluarga dan memesan dua gelas es kopi susu sebagai teman mengobrol.

Ekspresinya sudah tidak kaku lagi. Ia sudah kembali seperti orang yang aku kenal beberapa tahun lalu. Dengan begini, aku sudah bisa mulai bicara banyak hal. Kadang-kadang kita hanya harus memulai saja, respon apa yang didapat ya suka-suka orangnya.

Jadi, untuk pertemuan malam tadi...

Terima kasih sudah mau bertemu. Terima kasih sudah mau jadi teman bicara yang bisa mengerti segala keterbatasanku menyampaikan kata. Terima kasih sudah mau mengerti segala maksud dan tujuan dari waktu-waktu yang selama ini ada. Terima kasih sudah selalu mau mendengar keluh kesahku. Terima kasih buat traktiran makannya. Pokoknya, terima kasih, Mas!

Sehat-sehat selalu dan berbahagialah!
Besok-besok masih bisa digangguin, ya? Hahahaha.

Salam,

Tiwi.


Kemang, 17 Desember 2019.
5.20. Nggak bisa tidur semalaman.

You Might Also Like

2 comments

  1. baca tulisan ini sampai habis, jadi kangen sama pacar.
    bedanya, gue gugup karena takut bahan obrolannya habis, padahal masih ingin bersama lebih larut lagi. tapi, sepertinya dia tau hal itu, dan membiarkan waktu dan semesta untuk lebih lama lagi, melihat kemesraan yang kami lakukan. sepertinya dia juga bahagia, sama seperti gue.

    bedanya, motor gue masih matic dan yang ada tulisan, max-maxnya juga.
    ehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Telpon lah ji pacarnya. Atau ajak ketemuan. Kalo soal takut obrolan habis gue juga sama sih. Ga cuma sama pacar, tapi sama semua orang. Wkwk. Kami juga kemarin ada part diem-dieman karena mikir banyak hal. Atau cuma liatin orang-orang.

      Bahagia banget emang ya ji kalo lagi sama orang yang disayang hehe.

      Hahaha gapapa, ga penting apa kendaraannya. Yang penting kan sama siapa :))

      Delete