Ngobrolin "Setan" Kredit Bersama Sobat Riba

November 15, 2019


"Gue kemarin abis ditelpon CS Kartu Kredit lagi, Wi." kata Fajar setelah aku memasang seat belt.

"Terus, lo tergiur?"

"Ya, enggak lah. Gue tolak."

"Kirain setelah beberapa kali ditawarin, lo bakalan tergiur."

Obrolan di tengah kemacetan kadang jadi hal yang menyenangkan. Diselingi lagu-lagu Aimer, penyanyi Jepang kesukaan Fajar yang belakangan juga ikut aku dengarkan, terus menemani perjalanan kami. Jalanan Cibubur terasa tidak pernah lengang, padahal waktu itu akhir pekan.

Kami memang sengaja menyempatkan waktu untuk hangout di salah satu mall di Cibubur. Tidak cuma berdua, tapi kami akan menemui salah satu teman di sana. Namanya Haekal dan ia sudah lebih dulu sampai di mall.

Tidak dipungkiri, dua orang teman laki-laki ini memang yang paling sering aku ajak hangout. Alasan yang pertama, cuma mereka yang paling mudah diajak. Kedua, kami masih punya obrolan yang nyambung satu sama lain. Ketiga, ya memang lagi gabut aja butuh hiburan. Awalnya kami punya grup berisikan 5 orang, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Sayangnya sekarang hanya bersisa kami bertiga yang masih sering bertemu.

Setelah memesan minuman dan memilih duduk di luar ruangan, Haekal mulai menyalakan sebatang rokok. Aku dan Fajar yang tidak merokok, seperti biasa, meneror Haekal dengan pertanyaan klasik.

"Kapan lu mau kaya kalo ngerokok mulu?"

Yang ditanya cuma mesam-mesem nyengir enggak jelas. Aku cuma geleng-geleng kepala sambil menyeruput es kopiku.

"Eh, Kal, gue ditawarin kartu kredit lagi, lho," kata Fajar. "Maksa lagi yang ini mah. Pake bujuk-bujuk gue biar apply kartu kredit."

"Anjir, segitunya, ya."

"Gue kalo ada yang nelpon dari CS kartu kredit atau minimal nomor kantor jarang banget gue angkat. Karena udah tau pasti nawarin kartu kredit ya paling asuransi. Males gue. Hahaha." Aku menimpali.

Setan Kredit yang Terus Menghantui

Kami lantas membicarakan pengalaman-pengalaman "setan kredit" lainnya. Fajar bilang salah seorang temannya pernah terlilit hutang dengan 17 pinjaman online. Gila, kupikir. Satu pinjaman online saja sudah sangat merepotkan. Bagaimana 17? Dikira sweet seventeen bawa berkah apa?

Hidup dengan utang atau kredit memang tidak dipungkiri sih. Bukan munafik, tapi akupun pernah berhutang, walaupun dalam jumlah kecil dan bukan berhutang pada bank apalagi pinjaman online.

Dalam hal membeli barang pun aku lebih memilih untuk membelinya secara tunai. Tidak dengan sistem kredit atau cicilan. Karena selain lebih mahal, ya ketakutanku adalah nggak bisa bayar di tengah jalan.

Nggak bisa aku pungkiri, beberapa orang di lingkungan tempat tinggalku juga ada yang terlilit hutang. Berawal dari kredit, hampir setiap hari rumahnya didatangi penagih kredit. Rasanya aku mau marah, kalau nggak bisa bayar ngapain ambil cicilan sih? Tapi kadang kebutuhan berkata lain, kan? Kita nggak tau bagaimana kondisi kehidupan mereka. Bagaimana keadaan finansial mereka.

Makanya waktu dengar temannya Fajar kena utang dari 17 pinjaman online ini aku langsung...

Yalord, uteke ning ngendi sih? Ngutang kok yo akeh men. (

Sedih, tapi kesal.

Kayak, emang nggak ada solusi lain selain berhutang?

Sama halnya dengan membuat kartu kredit. Aku pernah berpikir, kartu kredit itu memudahkan kita kalau mau beli sesuatu. Alias gesek aja dulu, bayarnya belakangan. Begitu, kan? Bahasa kasarnya sih, sama aja ngutang dulu, tapi dengan cara elegan dan berkelas.

Tapi buatku yang belum butuh-butuh amat dan nggak tau bisa bayarnya apa enggak, ya jelas kartu kredit bukan prioritasku.

Kayak waktu itu, pas awal-awal masuk kantor, salah seorang teman langsung nawarin:

"Hai, sobat riba, adakah yang mau bikin kartu kredit bareng aku?"

Hening seketika. Tidak menggeleng, tidak juga mengangguk. Aku? Pura-pura fokus dengan kerjaan. Padahal dalam hati, siapa pula mbak-mbak ini, belum kenal sudah menyapa dengan sebutan sobat riba.

Aku tidak akan bikin kartu kredit denganmu, mba~

Membicarakan kartu kredit dan segala finansial di usia sekarang emang riskan banget. Kami banyak bahas soal tabungan juga. Termasuk nabung emas, sampai tabungan deposito di salah satu bank, atau nabung saham yang sampai saat ini masih jadi tujuanku, tapi belom terlaksana seperti terakhir kali aku ngobrol dengan Adit di Januari lalu.

Selain itu, sistem paylater juga nggak luput kami bahas. Pasalnya, Haekal dan Fajar sama-sama kerja di bidang perhotelan/pariwisata. Jadi obrolan kami malam itu juga nggak jauh dari: "Ayok kita liburan, pake paylater aja." Hahaha.

Sistem paylater ini emang lagi-lagi nggak jauh beda sama ngutang. Bayarnya ntar-ntaran, tapi udah nikmatin duluan. Habis liburan senang-senang, terus tinggal pusing cara bayarnya. Mampuslah kau!

Terus kenapa kami menyebut hal semacam ini sebagai "setan kredit"? Ya karena sistem kredit-kredit ini sebenarnya sangat menggiurkan kayak setan dan segala bujuk rayunya. Gimana enggak, mau beli barang atau beli apapun bisa langsung. Pake kartu kredit pun batas limitnya juga kadang banyak, kan? Cuma yang jadi kesulitan adalah ketika nggak bisa bayar.

Dan yang mengherankan adalah kenapa banyak orang yang mau pinjam di pinjaman online tanpa tau detail persyaratannya? Cuma modal KTP dan duit yang cairnya cepet karena kepepet, tapi ujungnya jadi ribet.

Apalagi penawaran pinjaman online ini kayak jamur di musim ujan. Alias bertebaran setiap hari dari pesan-pesan masuk di ponselku, ponselmu, dan ponsel kita semua. Saking banyaknya, bikin orang yang lagi kepepet itu bisa nggak pikir panjang dan langsung ambil pinjaman.

Soal kartu kredit dan paylater, semua memang balik lagi ke masing-masing orang. Kalo memang butuh, ya silakan digunakan sebaik-baiknya, tapi kalo dirasa belum perlu, nggak usah pake juga gak apa-apa. Jangan cuma karena gaya-gayaan, apalagi ikutan trend doang. Jangan.

"Udah, Kal. Lo mending ambil kartu kredit, terus foya-foya," kata Fajar.

"Nah, abis itu pake paylater buat jalan-jalan. Gausah nabung, gausah." kataku menambahi.

"Sialan lu berdua. Dasar setan kredit!"

Kami bertiga cuma tertawa dan memikirkan bagaimana caranya liburan tahun depan bisa terealisasi tapi duit nggak abis-abis?

Ya, kerja dulu lah, cuy. Diem doang mah mana bisa.

Yaudah, kerja dulu, liburan kemudian.

Fajar - gue - Haekal

Cileungsi, November 2019.
00:30.

You Might Also Like

8 comments

  1. "...emang nggak ada solusi lain selain berhutang?" kayaknya kalau ada solusi lain, gak akan ngutang sih. Logikanya sih gitu, cuma gue gatau logika lu kayak gimana hahaha

    Terus kenapa juga ada ujug-ujug "kenapa kami menyebut setan kredit?" padahal sebelumnya enggak ada kalimat itu? Luar biasa memang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmmm ya juga ya.

      Lha iya kurang penjelasan. Tadinya mau mengarah ke judul gitu lho, Bang, maksud gue tuuuu. Ehehehehe.

      Yaudah kutambahin dulu yaaa. Makasih lho koreksinya, Bang Firman kesayangan kita semua~~

      Delete
  2. Haduuuuuu saya ngga habis pikir itu sampe yang terlilit 17 utang pinjaman online :" Saya ngurus duit yang belom dipotong sama tagihan ini itu dan cicilan aja kadang masih belum bener managenya. Kadang masih suka kurang :" Apalagi kalo dipotong untuk bayar-bayar utang.

    Aku sempet sih tergiur utk ikutan nyicil beli hape disalahsatu e-commerce, disuruh sama sodara sodara soalnya bahyak yang pada ngredit. Tapi kalo dipikir-pikir, hape saya waktu itu masih baik-baik saja dan kalau memang butuh hape baru lebih baik beli langsung cash saat duitnya ada, sedapetnya aja gamuluk muluk tipe tertentu ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Nad. Aku tidak habis pikir kenapa bisa larinya ke 17 pinjol. Apa tidak belajar dari pengalaman? Hmmm.

      Yaaap. Aku pas beli hape juga nunggu duitnya kekumpul dulu wkwk. Kayak lebih ena aja gitu. Makenya pun jadi tanpa beban haha.

      Delete
  3. Haduh kartu kredit itu godaannya banyak, mana sekarang dimana mana diskonan juga banyak kalo pake kartu kredit. Tapi itu kembali ke orangnya lagi sih, ada yang tahannn banget ada yang kena godaan diskon dikit langsung tancep

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Banyak banget syarat diskon tapi harus pake kartu kredit. Kan bikin tergiur hahaha.

      Delete
  4. Ada kok yang diem doang dapat duit. Orang-orang yang pura-pura jadi patung di Kota Tua. Itu dia diem aja kan kayak patung? Tapi di dekat kakinya ada semacam tempat uang buat siapa pun yang pengin menyumbang. Oke, itu kerja juga deng.

    Gue enggak pernah tergiur buat mengutang sejak kecil, sih. Kalau pengin apa-apa harus nabung atau sisihkan duit jajan, terus jika udah terkumpul semua, baru deh beli apa yang gue mau. Bahkan, kalaupun duitnya kurang, orang tua bakal nambahin, bukan? Gue masih inget banget waktu pertama kalinya beli HP zaman SMK kelas 1 pakai uang sendiri. Terkumpul sekitar 750 ribu dalam setahun karena setiap hari nabung 2-5 ribu. Sayangnya, hari libur enggak dapat jatah jajan.

    Begitu sampai di toko HP, gue malah naksir ponsel yang lebih keren ketimbang yang gue pilih di Tabloid Pulsa atas rekomendasi penjualnya. Harganya 900k. Syukurlah sepupu gue bersedia talangin dulu, nanti di rumah diganti ortu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm. Iya sih, itu diem doang tapi dapet duit. Tapi tetap ada effort. Nggak cuma rebahan aja terus duit datang wkwk.

      Nah, dari dulu kita emang diajarin kan untuk menabung. Kadang mau beli sesuatu dari hasil tabungan juga ada kepuasan berlebih sih kalo gue. Kayak bahagia aja gitu bisa beli barang yang penuh perjuangan. Hahaha.

      Oiya, dulu tabloid Pulsa masih jadi primadona untuk memilih HP yak. Hahaha.

      Delete