[Book Review] Kinanthi; Terlahir Kembali by Tasaro G. K.

November 23, 2019



Judul: Kinanthi, Terlahir Kembali | Pengarang: Tasaro G.K. | Penerbit: Bentang Pustaka | Tahun Terbit: Cetakan kedua 2013 | Tebal Buku: 536 hlm. | ISBN: 978-602-8811-90-3


"Suatu hari, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau sayangi. Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang engkau kasihi, hidup hari tetap dijalani."

Setelah maju mundur untuk membaca buku ini, akhirnya saya tamatkan juga. Merasa terkena reading slump alias rasa jenuh dalam membaca buku, saya cenderung memilih buku-buku dengan jumlah halaman yang sedikit. Itupun dengan durasi cukup lama untuk membacanya.

Namun, akhirnya saya menemukan kembali cara untuk bisa membaca buku lagi dengan mengikuti tantangan dari suatu akun instagram. Membaca buku sesuai tema ternyata bisa menarik minat saya kembali. Dan terpilihlah buku ini untuk saya baca selama bulan November.

Buku setebal 546 halaman ini akhirnya saya habiskan dalam 2 minggu. Lama juga, ya. Tapi nggak apa-apa, yang penting selesai. Saya bukan tipe orang yang suka meninggalkan bacaan soalnya. Jadi kalau sudah mulai baca, ya harus diselesaikan.

Kinanthi mengingatkan saya pada sebuah pupuh sunda di kala sekolah dasar. Nyatanya, dalam buku ini pun nama Kinanthi diambil dari tembang Jawa.

"Asalnya dari kata kanthi dan tuntun. Artinya, dituntun supaya setiap anak manusia bisa berjalan menempuh kehidupan di alam dunia." (Hlm. 27-28).

Pertama, buku ini akan memberitahu kita cerita detail kehidupan Kinanthi dari usia 12 sampai dewasa. Sebuah lika-liku hidup yang nggak mudah dan membuat saya merasa miris, tapi agak janggal juga.

Plot utamanya memang tentang pencarian jati diri dan cinta. Namun, alurnya dikemas dengan sedemikian rupa dan membuat saya sempat kagum dengan karakter Kinanthi yang tangguh.

Titik balik kehidupan Kinanthi yang melasi sampai jadi seseorang yang disegani juga terasa terlalu panjang. Ada banyak tokoh yang hilang lalu muncul bak sinetron ribuan episode. Tapi saya tetap menyukai detail kecil yang coba disampaikan. Penggambaran perasaan yang membuat kita tahu apa yang sebenarnya dirasakan si tokoh utama.

Buku ini mungkin mengambil realitas 10 atau 20 tahun lalu di pelosok Gunung Kidul yang digambarkan banyak warga perempuannya yang berangkat jadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Timur Tengah. Saya sampai sekarang nggak bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada TKW yang kurang beruntung itu. Kalau mendengarnya dari berita, kayaknya sudah bosan. Tapi hal-hal yang tidak diberitakan mungkin lebih banyak.

Saya pernah baca satu buku semi biografi dari seorang TKW yang bilang penyiksaan di negara Timur Tengah itu nyata adanya. Rata-rata mereka kesulitan meminta pertolongan bahkan kepada dubes RI sekalipun karena masih terikat kontrak kerja.

Cerita di dalam buku Kinanthi pun demikian. Lain cerita ketika saya membaca buku Kedai 1001 Mimpi milik Vabyo yang menceritakan kejadian semacam itu dari segi komedi. Tapi bedanya, Vabyo bekerja di restoran saat itu, bukan sebagai pembantu rumah tangga.

Saya selalu berharap kalau kejadian-kejadian mengerikan semacam itu bisa terhapuskan. Sebab, beberapa saudara saya ada yang menjadi TKW ke negara-negara tersebut. Mendengar cerita-cerita dari buku atau berita kadang bikin saya kepikiran. Walau saya tahu nggak semua orang sejahat itu, tapi kan nggak semua orang sebaik itu juga.

Kembali ke cerita Kinanthi, buku ini jadi sebuah perjalanan panjang tentang pencarian. Ternyata menyimpan perasaan buat orang yang sama selama hampir dua puluh tahun itu melelahkan juga. Memori-memori masa kecil yang menjadi penguat ketika hari-hari buruk datang, menjadi nyala api semangat untuk tetap berjuang, sampai pertemuan itu terjadi keadaan sudah berubah.

Saya enggak tahu, apakah buku ini mengajarkan kita untuk percaya bahwa cinta tak harus memiliki atau tidak. Tapi yang jelas, apa yang menjadi masalah harus diselesaikan. Bukan malah kabur begitu saja.

Buku ini pun lekat dengan tradisi setempat di Gunung Kidul yang masih sangat kental. Entah ini ada kaitannya sama agama atau tidak, tapi saya menyukai tradisi adat semacam ini. Unik dan antik. Sepanjang cerita, ada perdebatan di dalamnya. Mengapa tradisi semacam ini masih dilakukan dengan dalih sebagai perantara doa ke Tuhan? Bukankah Tuhan Maha Mendengar?

Ya, gimana, ya... Saya juga bingung.

Dan untuk endingnya... saya mau tau lanjutannya, please.

Sekian.

Cileungsi, November 2019.
19.41

You Might Also Like

0 comments