Catatan 2 Tahun Lalu yang Menjelma Kenyataan

November 11, 2019



Facebook selalu mengingatkan kita pada memori-memori yang telah usang. Membawa kita kembali untuk bercermin. Hal-hal apa saja yang pernah terjadi di masa lalu, baik menyenangkan atau menyakitkan. Beberapa masih terasa sakitnya, beberapa yang lain membuat kita menertawakannya seolah kita pernah melakukan suatu kebodohan.


Sama halnya dengan November kali ini. Facebook beberapa kali membawaku pada tulisan-tulisan lama yang pernah aku bagikan beberapa tahun silam.

Setelah membaca ulang... aku sadar. Aku sudah terjebak di fase yang sama.

Apa aku boleh berkata kasar sekarang?

Salah satu tulisan paling menjerikan hari ini bisa kalian baca di bawah ini.
-///-

Aku Mencintaimu, tapi Dia Juga

Seseorang bertanya padaku perihal perasaanku padamu. Ia bertanya, apakah aku benar-benar mencintaimu selama ini?  Aku hanya tersenyum, sedang ia menggeleng heran.

"Bagaimana kalau ada orang lain yang menyukainya juga?" Pertanyaannya membuatku  kaget.

"Tidak tahu."

"Kenapa?"

Aku diam sejenak. "Perasaan itu bukan suatu hal yang bisa ditentukan. Kamu nggak bisa menentukan pada siapa perasaanmu berlabuh, tapi kamu bisa membuatnya jadi begitu ketika kamu sudah percaya."

"Kalau kemudian orang itu mencintai orang yang kamu cintai, kamu mau bagaimana?"

"Entah. Biar saja. Kamu tidak pernah bisa memaksa."

"Memaksa apa?" katanya.

"Memaksa perasaanmu untuk tetap tinggal ataupun pergi sekalipun. Jadi, jangan pernah repot-repot memaksa perasaan orang untuk tinggal dan jangan susah payah memaksa orang untuk pergi ke tempat lain," balasku.

"Jadi, tidak apa-apa jika ada orang lain yang menyukai lelakimu?"

"Ya. Kupikir perasaan itu punya kebebasan. Aku selalu percaya, kalau orang yang kita cinta hari ini bisa dengan mudah berpaling ke orang lain, berarti dia bukan orang yang cukup menghargai perasaanmu. Kecuali..."

"Kecuali apa?"

"Kecuali kamu tidak punya komitmen."

"Kenapa?"

"Tanpa komitmen, perasaanmu bebas, tetapi kamu tidak bisa menuntut apapun ketika dia berpaling. Kamu tidak bisa bicara bahwa ia tidak menghargai perasaanmu karena pada kenyataannya kamu bisa melakukan hal yang sama--kalau kamu sampai hati melakukannya. Ya, seperti itulah."

"Jadi, apa kamu baik-baik saja kalau ada orang lain yang mencintai lelakimu?"

"Tidak pernah ada yang baik-baik saja ketika hal itu terjadi, tapi... kamu selalu tidak bisa melakukan apa-apa jika ternyata lelakimu lebih memilih searah dengan yang lain," tutupku jujur.
-///-

Sudah selesai?

Ya, itu tulisanku 2 tahun lalu. Yang entah dalam keadaan apa aku menulisnya, tapi aku merasa tulisan itu sangat terasa menyakitkan di waktu sekarang.

Bisa jadi, 2 tahun lalu aku menulisnya hanya dengan sebentuk khayalan di kepala. Ketika tema itu dilempar, aku membayangkan kalau ada perempuan yang menyukai lelakiku dan aku tidak bisa apa-apa.

Aku tidak tau bagaimana persisnya saat itu. Tapi membacanya di hari ini membuatku berasumsi, apa yang aku tulis 2 tahun lalu telah menjadi kenyataan di tahun ini.

Ya, ada seseorang lain yang menyukai lelakiku (pada waktu itu).

Dan aku tetap tidak bisa apa-apa ketika lelakiku memiliki (kemungkinan) untuk searah dengannya. Karena kenyataannya, kami tidak punya apa-apa untuk dipertahankan. Sekuat apapun aku menahannya agar tidak pergi, hatinya tak pernah bisa dipaksakan.

Aku ingin belajar jadi dewasa, yang berani melepaskan dengan ikhlas. Pun denganmu yang sudah seharusnya melepaskannya ketika ia sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Katamu dia selalu punya pilihan, kan? Dia sudah memilih dan kamu berhak bahagia. Aku pun juga. Kita semua juga.

Jangan hidup untuk saling menyakiti apalagi menyakiti diri sendiri.

Aku rindu kamu, selalu.

Cileungsi, 11-11-2019.
21:29.

You Might Also Like

6 comments

  1. Kalau si orang ini juga punya perasaan yang sama ke seseorang yang naksir dia, apalagi jenis hubungannya si protagonis lagi dekat atau bahkan udah pacaran, itu emang tai banget sih. Tapi ya gimana, perasaan tuh teramat kompleks. Mau bertahan sama komitmen, bisa aja hubungannya kurang layak. Atau udah sebisa mungkin buat bertahan, nyatanya susah sekali membohongi diri sendiri. Maka, muncullah pilihan alternatif itu. Dengan memilih berakhir, atau selingkuh. Syukurlah yang terakhir gue belum pernah. Karena itu bakal menyakiti lebih banyak pihak.

    Tulisan fiksi bisa menjadi kenyataan ini emang kadang-kadang sialan juga. Gue pernah bikin cerpen soal teman baik yang gue taksir, lalu kami terpaksa menjauh karena beberapa alasan, dan begitu kontakan lagi dia cuma mau ngabarin soal pernikahannya. Itu gue bikin 2017. Murni iseng karena kangen sama dia. Kebetulan gue emang suka akhir cerita yang menyedihkan ketimbang bahagia. Sialnya, gue enggak nyangka itu malah kejadian dua tahun kemudian alias sebulan lalu. Hahaha.

    Tapi selain hal buruk, tentu ada juga kok kisah bahagia yang akhirnya kejadian. Orang-orang sih nyebut itu "dream note". Apa yang ditulis bakal masuk ke alam bawah sadar, kemudian tanpa sadar bakalan terwujud suatu hari kelak.

    Tahun 2015 gue bikin kisah cinta iseng yang cuma dipendam di draf. Tokohnya ini bisa bertemu cewek di acara bedah buku atau toko buku atau sejenisnya, kemudian pacaran. Setahun berikutnya hal itu jadi kenyataan. Walaupun udah putus juga, sih. Wqwq.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Brengsek banget sih emang, Yog kalo kejadian beneran kayak gitu. Sesuka-sukanya gue sama orang, seanu-anunya gue pernah bilang "banyakin gebetan", gue tetap tidak bisa berbohong apalagi sampai hati buat selingkuh. Gue jujur-jujur saja waktu bilang mau ketemu orang yang dulu pernah jadi gebetan. Memang sih kejujuran itu menyakitkan ya. Tapi ya daripada diem2 ketemuan. Wkwk.

      Dream note ya... Gue gak banyak tau soal ini. Tapi kalo kejadiannya beneran kayak gitu, berarti bener yang kayak lo bilang. Alam bawah sadar gue menyimpan itu semua lalu jadi kenyataan.

      Kalo hal yang bahagia, gue lupa sih ada yang udah pernah kejadian apa belum ya?

      Delete
  2. Sedep, tapi saya ngga pernah diingetin apapun dari fesbuk karena saya anaknya cuek.

    ReplyDelete