Tidak Ada Percakapan Malam Ini

October 08, 2019


Draft September  2019,  setelah kepulanganmu.

Aku melihat kekosongan di kolom chat kami. Kini riuh berpindah di kepalaku—mungkin juga kepalanya. Aku tidak tahu di mana letak ketidakbenaran saat ini. Apakah aku yang terlalu sesumbar dan berharap ia mau mengerti atau justru memang aku yang tidak mengerti sama sekali situasi ini.

Aku ingin menunggu sampai esok. Namun, ketidaktahuan tentang pikirannya terlalu memusingkan untuk kupikirkan. Sehingga, aku merasa dijebak oleh ketololanku sendiri.

Aku tidak lagi menunggu sampai esok.  Aku ingin bisa bicara seperti biasa, tetapi sepertinya ia masih enggan. Aku tidak ingin mendebatnya, apapun itu. Juga tak ingin membuatnya pergi dari tempatnya sekarang.

Mulanya aku pikir ini akan mudah, melihat kekosongan di kolom chat seperti saat ketiadaan sinyal di gunung. Ternyata aku tetap tidak sanggup, bahkan untuk waktu jeda yang sesingkat itu.

Kenapa tidak meneleponnya saja?

Aku mau, tapi tidak mau menangis di telepon. Hanya saja, sepertinya aku akan benar-benar menangis di telepon kalau bisa meneleponnya.
---

Langit Bogor jam satu dini hari menurunkan hujan yang deras. Aku meringkuk ke dalam selimut dan mulai berdoa kalau-kalau di kotamu juga turun hujan. Aku merindukan pelukan itu. Sangat. Tapi tidak tahu bagaimana cara meraihnya kembali.

Suara-suara di kepalaku bermunculan lagi. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya bisa aku tanyakan padamu malam itu saja tertahan jadi gumaman yang didengar oleh dinding kamar, bahkan kipas angin.

Apa aku tidak seberkesan itu?

Pertanyaan pertama yang tak mampu aku tanyakan sampai hari ini.

Apa kamu tidak merasa kehilanganku?

Pertanyaan kedua yang masih belum juga kudapatkan jawabannya.

Aku menunggu banyak hal. Aku tahu kau juga. Tapi, apa tidak bisa menjadi kita yang demikian menyenangkan seperti kala itu?

You Might Also Like

8 comments

  1. Replies
    1. Jangan bersedih, Nad. Cukup aku aja. Tapi sekarang lagi berusaha untuk bahagia lagi kok :)
      Pengen ke Jogja lagiii wkwk

      Delete
  2. Ku nggak tahu berkomentar gimana harusnya ini...

    Bogor katanya dingin banget ya ac-nya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bogor yang deket puncak itu dingin, tapi kalau yang di rumahku panas. Ya, namanya juga Bogor pinggiran. Perbedaannya jelas kelihatan. Apalagi dekat rumahku lagi banyak pembangunan, jadi nggak ada dingin-dinginnya sama sekali.

      Delete
  3. Tanyakan Tiw.

    Supaya tidak menjadi pikiran di kepala. Nanti stress dan mengganggu pikiran lainnya.

    Apapun jawaban yang didapet, setidaknya kamu sudah berani menyelesaikannya dengan baik.

    Hahahahahaha itu sih aku ya, orangnya yang begini. Jadi saranku boleh dilakukan, boleh tidak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah kok, Kak. Hehehehe.

      Kadang-kadang aku berani bertanya, tapi tidak siap dengan jawabannya. Padahal seharusnya ketika aku berani bertanya aku harus siap sedia dengan jawaban apapun ya? Hahaha

      Tapi terima kasih kak Fasya. :)

      Delete