[Book Review] The Catcher in the Rye by J. D. Salinger

October 26, 2019


Judul: The Catcher in the Rye | Pengarang: J.D. Salinger | Penerbit: Banana | Tahun Terbit: Cetakan Ketiga, Juni 2015 | Tebal Buku: 296 hlm. | ISBN: 979-99986-0-3


Saya lupa kapan tepatnya membeli buku ini. Rasanya sih sudah lama sekali. Tapi karena kebiasaan buruk saya yang sangat suka menunda baca buku, jadilah baru sempat membacanya di tahun ini. Padahal saya sudah sangat tertarik sejak ada pembahasan buku ini di grup Klub Buku Indonesia.

Waktu itu 2017, ketika saya dan 3 teman laki-laki memutuskan untuk buka puasa bersama, salah satunya si Yoga Akbar. Saya ingat saat dia bertanya, "Lu udah baca The Catcher in the Rye, Wi?"

Saya lantas bilang belum dengan cepat. Alasannya karena belum siap saja. Apalagi saya tahu buku ini katanya bisa bikin orang depresi. Makanya saya memilih untuk menundanya dulu sampai siap membacanya dalam keadaan sehat.

Tapi, memang dasar sayanya aja yang agak nyeleneh, saya membaca buku itu tepat ketika saya lagi mudah sekali terpicu dengan hal-hal demikian. Iya, saya membaca buku ini setelah nangis-nangisan nonton film Joker. 

Bukan main. J. D. Salinger keren abis, apalagi pas masih muda.

Oke bukan itu poinnya. Maksud saya, J. D. Salinger nggak ngasih clue apa-apa di blurb bukunya, selain...

"Mengapa buku ini disukai para pembunuh?"

Ya, mengapa?

Saya sempat mengira, apakah buku tentang psikopat? Apakah buku ini akan berisi tentang pembunuhan? Apakah buku ini tentang bagaimana orang baik tersakiti lalu berubah jadi jahat?

Seketika saya takut. Takut kalau menyukai buku ini.

Saya masih bertanya-tanya sampai berusaha mencari fakta dari blurb buku itu.

Kamu tau John Lennon? Salah satu anggota dari The Beatles. Ia mati ditembak oleh seseorang yang bernama Mark David Chapman. Dalam peringkusannya, Chapman ternyata membawa buku The Catcher in the Rye dan bilang kalau ia terinspirasi oleh Holden Caulfield, tokoh utama dalam buku ini.

Sisi mana sebenarnya dari Holden yang bisa memicu seseorang untuk membunuh?

Sesungguhnya... buku ini serupa perjalanan hidup Holden Caulfield yang awalnya diceritakan kalau ia dikeluarkan dari sekolah serta sudah 4 kali gagal di sekolah sebelumnya. Holden hanya jago di Bahasa Inggris, tapi tidak dalam pelajaran lainnya. Ia suka sastra dan suka menulis.

Justru ketika ia dikeluarkan dari sekolah, Holden merasa kalau ia berhasil keluar dari sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya. Idealis sekali memang si Holden ini. Ia selalu mempercayai apa yang ia anggap benar. Dan saya cukup salut juga sebenarnya.

Tapi sebagai remaja, kestabilan emosi Holden juga digambarkan oleh banyak peristiwa. Ketika ia merasa sudah lepas dari belenggu "sekolah yang memuakkan dan penuh kemunafikan" ia masih takut untuk kembali ke rumah. Alasannya apalagi kalau bukan orangtua?

Pengecut sekaligus berani

Holden Caulfield bukan cuma anak-anak biasa. Holden Caulfield adalah kita semua.

Saya yakin, semua yang dituliskan J. D. Salinger tentang Holden adalah realitas yang dari banyak orang. Ketakutan-ketakutan dan rasa tertekan yang dialami Holden pasti pernah menyambangi kita semua. Konflik internal yang selalu ada di diri masing-masing orang.

Saya sendiri merasa relate ketika Holden menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Lalu ia mulai berandai-andai, "Aku membayangkan apabila..." Semacam itulah yang ada di pikiran.

Dengan pikiran-pikiran tersebutlah buku ini jadi seperti catatan peristiwa. Deskripsi yang panjang bikin cerita ini jadi lebih asyik untuk diikuti. Sama seperti pikiran manusia yang suka menyangkutpautkan satu kejadian dengan kejadian lain, Holden pun demikian.

Dalam satu kejadian, ia ingat sesuatu yang berkaitan dengan kejadian tersebut, lalu menceritakannya secara detail, baru kembali ke cerita awal. Rasanya seperti membaca dongeng. Tapi saya merasa seperti itulah saya—atau mungkin kita—kalau sedang bercerita pada orang lain.

Rasa haru sempat menyelimuti saya ketika Holden bercerita tentang adiknya, Phoebe. Betapa ia amat sangat menyayangi adik bungsunya itu. Betapa ia tidak mau adiknya ikut terlibat dengannya ketika ia memutuskan untuk kabur. Dialog-dialog yang tercipta antara mereka sangat sederhana, tapi punya makna yang besar.

“Anyway, I keep picturing all these little kids playing some game in this big field of rye and all. Thousands of little kids, and nobody's around, nobody big, I mean, except me. And I'm standing on the edge of some crazy cliff. What I have to do, I have to catch everybody if they start to go over the cliff. I mean if they're running and they don't look where they're going. I have to come out from somewhere and catch them. That's all I'd do all day. I'd just be the catcher in the rye and all. I know it's crazy, but that's the only thing I'd really like to be. I know it's crazy.”

Rasa tertekan dan frustasi Holden memang kentara sekali di buku ini. Tapi pada akhirnya ia dibuat menyerah. Saya sempat berharap menemukan plot twist di buku ini, dan ya, saya mendapatkannya dalam bentuk lain. Sebuah kalimat yang bikin saya merasa benar-benar relate dengan Holden yang kesepian itu.

"Don't tell anybody anything. If you do, you start missing everybody."

Apa yang saya baca dari buku ini mungkin akan berbeda ketika kamu membacanya. Saya merasa Holden Caulfield adalah cerminan kita semua. Hidup memang sekejam itu, tapi kembali lagi pada kita mau bagaimana menyikapinya.

Astaga, kalimat penutupnya template sekali.

Yaudah pokoknya gitu. Saya suka buku ini, tapi saya nggak akan bunuh orang. Saya mau membunuh perasaan saya buatmu aja. Bye!

Mampang, Oktober 2019.
07.35.

You Might Also Like

8 comments

  1. Duh, baca beginian malah bikin gue jadi takut dan gamau baca bukunya. Hahaha. Kata orang emang bagus banget sih itu. Tapi ya gimana aku kan anaknya cinta damai. *dilempar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi seru sih bang. Asli ceritanya kayak bikin jadi renungan sendiri.

      Aku juga cinta damai kok bang~

      Delete
  2. Setelah pembacaan ulang 2-3 kali, buku ini bakal terasa terlalu digaung-gaungkan. Lama-lama juga akan berpikir Holden sebetulnya anak manja yang gemar merengek atau menggerutu. Apalagi dia golongan orang tajir, kan? Haha.

    Yang bikin buku ini bagus karena method writing-nya buat menciptakan karakter. Jelas banyak orang yang akan merasa diwakilkan oleh sosok Holden. Dia muak sama kepalsuan dan basa-basi telek wedhus dalam hidup.

    Pertama kali kelar baca novel ini, gue langsung ketularan rasa marah dan bencinya. Itulah kenapa bisa berdampak besar buat seorang pembunuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin gue juga harus baca ulang untuk dapat insight baru. Iya, mereka keluarga tajir, keliatan dari gimana Holden dimasukin ke sekolah-sekolah bagus terus.

      Yes, kalo soal writing methodnya gue suka sih. Bagi gue sendiri susah banget bikin tulisan yang semacam itu.

      Berarti memang benar, buku ini perlu dibaca 2-3 kali buat dapet feel yang beda. Kalo soal ketularan rasa benci dan ada dampak buat pembunuh kayaknya emang akumulasi juga sih dari kejadian-kejadian sebelumnya, ketambahan buku ini jadi makin-makin.

      Delete
  3. Versi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris buku ini feel-nya beda banget. Gue lebih dapet pas baca versi Inggris. Pas baca yang bahasa Indonesia biasa banget, bahkan cenderung gak suka. Dan sehabis baca buku ini gue tetap enggak dapat isi dari "kenapa buku ini akan disukai para pembunuh?" itu, karena ya.. persis kata Yoga: kayak remaja manja yang emang udah seharusnya rebel karena lagi di umurnya buat rebel aja. Nothing really special but the way the writer writes the plot.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue belum baca versi inggrisnya sih, tapi baru membaca diskusi di grup tentang beda versinya yang ternyata emang ngaruh banget. Apa mungkin ada efek dari terjemahannya yang kurang ya?

      Ya, gue setuju juga sih kalo soal rebel pada umurnya. Kayak sebuah kewajaran kalo remaja melakukan hal-hal yang melanggar aturan.

      Delete
  4. Ini salah satu novel favorit saya, Mbak. Senang deh kalau lihat ada yang bikin resensinya.

    Oh ya btw, blurb buku itu bukan dari Salinger. Tapi penerbitnya yang bikin. Biasalah, buat bahan promosi biar menarik hahaha.

    My review is here if you'd like to visit: https://fasyifauzia.wordpress.com/2017/12/30/review-the-catcher-in-the-rye-by-j-d-salinger/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga suka sih sama buku ini. Soalnya yaaa banyak relatenya juga hehe

      Ogitu tah? Baru tau saya. Btw di buku aslinya sebelum cetul ada blurbnya kah?

      Delete