Kisah Aneh dalam 5 Tempat Berbeda

October 15, 2019


Apakah kamu pernah menemukan seseorang yang baik dan mau menolongmu? Apakah kamu pernah memintanya menemanimu keliling kota padahal kamu baru pernah bertemu dia satu kali? Apa kamu pernah punya perasaan aneh yang tidak seharusnya ada pada seseorang? Aku pernah.

Malam sudah terlalu larut ketika hari itu aku dan dia bercakap-cakap melalui DM Instagram. Diskusi serius mengenai hubungan dua orang dan masa lalunya. Hal-hal kecil, candaan, gurauan, bahkan rayuan gombal pernah ada disana. Aku tidak tahu apakah hari itu aku merasa tersanjung atau malah biasa saja. Berbunga-bunga? Mungkin saja, tapi pikiranku masih waras untuk tidak menindaklanjuti segala macam rayuan gombalnya. Jawabannya cuma satu: dia sudah punya kekasih. Mari tersenyum.

Hari-hari berikutnya dia masih sering melempar gurauan yang sama. Pernah pula seperti ini, "Tidur, dek. Jangan mimpiin aku, ya!" atau "Kamu kangen aku ya?".

Kalimat-kalimat semacam itu terus berpola hingga aku meladeninya dengan pikiran, "Ah dia kan cuma teman, nggak apa-apa dong dibales bercandaannya. Gak perlu dibaperin." Begitu selanjutnya sampai hari ini, kami masih saling melempar candaan yang sama. Aku? Tentu saja masih menyimpan perasaan aneh yang sama, tapi lagi-lagi pikiran warasku mengingatkan. Terima kasih, pikiran!

Malam sebelum aku menginjakkan kaki di kotanya aku sempat mengabarinya. Kubilang kalau aku akan pergi ke sana esok siang. Tak lupa kusampaikan kalau aku ingin diajak jalan-jalan. Tentu saja ia mengiyakan sembari berpikir akan mengajakku kemana. Untungnya aku tipe orang yang nurut dibawa kemana saja. Hayuk weh asal ada temennya.

Siangnya, di kereta, aku kirim pesan WhatsApp padanya, "Aku sudah di kereta yaaa..." Ceklis satu. Kubiarkan pesan itu menggantung tanpa jawaban. Mungkin ia masih tidur. Lalu kutaruh ponselku ke dalam tas, kupasang earphone ke telinga, kemudian aku tidur di kereta yang beruntungnya sedikit penumpang. Lumayan bisa selonjoran.

Tiga puluh menit sebelum sampai, ia membalas pesanku. "Naik Joglokerto? Mau aku jemput?"

Aku seketika tersenyum. Ingin kuiyakan tawarannya, tapi akhirnya, "Nggak usah, Mas. Aku naik gojek aja ke penginapan."

Hari itu aku tau, ada orang baik yang siap menolongku di kota itu.
---

Sore di Museum Nasional Jogja.

Aku mengabarinya sekaligus memintanya menemaniku keliling kota. Kubilang terserah dia mau mengajakku kemana. Aku nurut. Dia bilang, "Buka bareng aja yuk. Nanti aku jemput." Aku setuju.

"Tapi aku nggak bawa helm hahaha," tulisnya di pesan WhatsApp.

"Apa-apa nggak kalo aku nggak pake helm? Kalo nggak kenapa-napa ya aku mah oke."

"Biar kayak Milea? Haha." Dia mulai bercanda. Akhirnya dia pulang dan mengambil helm untukku.

Sambil menunggu, aku duduk di bawah patung-entah-apa-namanya bersama dua orang teman; satu laki-laki dan satu perempuan. Kami berencana buka puasa bersama, entah dimana tempatnya. Dan tentu saja, aku menunggu orang itu.

"Jadi, Tiw,, orang yang kita tunggu itu pacarmu?" kata teman laki-laki temanku.

"Bukan. Dia teman."

"Alah, bilangnya teman, padahal mah... Pacar juga gapapa," dia meledek. Aku tertawa.

"Teman kok. Nih dia udah WA katanya udah di depan museum."

"Yaudah samperin sana pacarnya, kasian." Temanku masih keukeuh menyebut orang ini sebagai pacarku.

Aku berjalan ke depan museum di tempatnya duduk di atas motor seperti abang gojek menunggu penumpang. Ketika dia melambaikan tangan, aku merasa sudah lama sekali tidak bertemu orang itu. Memang kami hanya bertemu satu kali, nyaris dua kali kalau aku tidak gagal berangkat ke Lampung waktu itu. Dia muncul dengan sweater abu-abu dan kacamata. Aku sempat mengira dia salah orang, tapi itulah dia, yang dulu kutemui tanpa kacamata. Mungkin matanya lelah melihat deretan huruf koding sistem komputer. :(

"Jadi mau kemana?" tanyanya.

"Hehe, enggak tau." Jawaban terngeselin versiku ketika ditanya orang-orang.

Akhirnya kami pergi ke warung sate kambing yang aku lupa nama daerahnya. Warung sate rekomendasi darinya yang ternyata disitu dia enggak pesan sate sama sekali malah pesan tongseng.
---

Maghrib di warung sate kambing.

Di warung sate itu pula teman laki-laki temanku berkenalan dengan orang itu. Lalu, teman laki-laki temanku bertanya, "Kenal Tiwi dimana?"

"Fam trip..."

"Tinder ya?"

Keduanya bicara berbarengan, tetapi suara lirih orang itu tak terdengar. Mendengar kata Tinder, orang itu meladeninya dengan seksama, "Iya, di Tinder kita ketemunya. Best match." Aku tertawa sekaligus kaget. Kenapa dia menjawab seperti itu? Mimik mukanya serius pula. Obrolan mereka berlanjut sampai...

"Serius ketemu di Tinder? Jadi ini pacarmu, Tiw?"

Aku belum sempat menjawab, lalu dia sudah membalas, "Iya, aku kan pacar ketiganya Tiwi."

Eh, apa-apaan nih? Enak aja! Begonya, aku diam saja. Nggak tau mau jawab apa ketika teman laki-laki temanku tertawa dan orang itu masih pasang tampang serius. Wah, fitnah ini fitnah. Aku mana pernah punya pacar apalagi sampai tiga! Tapi kok perasaanku mulai aneh lagi waktu denger dia bicara seperti itu? Duh... gawat ini gawat.
---

Malam di Malioboro.

Ketika teman laki-laki temanku pamit pergi lebih dulu, aku, orang itu, dan teman perempuanku duduk di kursi panjang. Orang itu tentu duduk di kursi yang terpisah. Aku diam, memandangi satu persatu orang yang berjalan, entah dengan tujuan atau tidak. Teman perempuanku pamit ke toilet. Tinggallah aku dan dia yang duduk di kursi berbeda berjarak kurang dari satu meter.

Lima menit pertama kami cuma diam. Aku juga tidak tahu harus memulai percakapan seperti apa. Dia bolak-balik membuka aplikasi WhatsApp. Mungkin kekasihnya sedang bertanya perihal apa yang dilakukannya di malam minggu saat itu. Atau entah dia sedang membalas pesan kliennya perihal pekerjaan. Sampai tiba-tiba...

"Ih, mau-maunya suruh bawa es krim..." katanya.

Aku menoleh ke arah sepasang muda mudi; lelakinya membawa dua es krim di tangan kanan dan kiri, sementara si perempuannya membawa tiga buah kantung belanjaan.

"Lho masih mending, kan? Biasanya cowoknya suruh bawa belanjaan," kataku.

Dia tertawa. Lalu kami bergunjing perihal lelaki yang seringkali disuruh nunggu perempuan di mall, salon, swalayan, dan tempat bermain anak-anak. Dia juga bercerita kalau dia pernah dititipkan keponakan dan disuruh menemaninya main mandi bola sampai bosan. Gantian aku yang tertawa.

Malioboro masih ramai ketika temanku kembali datang dan dua temanku lainnya bertemu tak sengaja di situ. Lalu mereka berkenalan. Lalu teman laki-lakiku bertanya, "Ini siapa, Tiw?" sambil menyalami orang itu.

"Masnya asli Jogja?" Teman laki-lakiku bertanya pada orang itu.

"Nggak, saya aslinya Jawa Barat," katanya.

"Cirebon bukan?"

"Bukan."

"Lho kirain tadi Cirebon. Itu pacarnya Tiwi orang Cirebon." Hm sebuah fitnah tak kunjung selesai. "Tadi kamu bilang di Cirebon, sama pacarmu, kan, Tiw?"

"Nggak, Kak. Aku kan bilang keretanya baru sampai Cirebon." Aku berusaha meluruskan.

"Hm, siapa lagi tuh? Aku mah emang cuma pacar ketiganya Tiwi." Orang itu menambahkan. Wajahnya masih serius. Aku kaget sekaligus terjangkit perasaan aneh itu lagi.

"Oh, pacarmu banyak, Wi? Ini yang ketiga?" tanya teman laki-lakiku.

"Iya!" Kujawab dengan kesal sekaligus mengikuti drama yang sudah ia mainkan.

Menuju angkringan kopi joss, kami duduk melingkar berlima. Percakapan ajaib dimulai lagi. Kali ini dari teman perempuannya teman laki-lakiku yang bertanya pada orang itu dimana ia bisa kenal aku. Dijawabnya lagi dengan kata pamungkasnya, "Tinder. Kita best match, tapi aku cuma dijadikan pacar ketiga."

"Oh, iya, Mas? Bukan pacar kelima?" Aku jawab dengan sedatar mungkin. Wajahnya masih biasa-biasa saja.

"Serius? Emang bisa ya nemu yang match 100% gitu di Tinder?" teman laki-lakiku malah bertanya serius.
---

Malam hingga dini hari di Mudita Kopi.

Kamu akan tau kemana aku pergi bersamanya malam itu. Kamu akan tau sebaik apa ia yang mau mengantarku jam 1 dini hari ke penginapan yang jaraknya 30 menit dari rumah kostnya. Sampai ketika masuk gang, ia bicara, "Aku kayak lagi nganter anak gadis pulang ke rumahnya karena lewat gang begini. Tapi aku belum pernah sih kalo nganter ke rumah."

"Oh gitu." Jawaban terklise yang aku berikan ketika aku nggak tau mau jawab apa lagi.
---

Sore di jalanan menuju Alun-Alun Utara

Aku pergi lagi bersamanya, dengan dua orang teman lainnya. Di motor saat sore yang sungguh aku sangat suka suasananya, dimulai lagi percakapan aneh. Aku bilang padanya kalau aku akan bertemu teman di Masjid Gedhe Kauman. Kubilang juga kalau temanku itu  jadi volunteer di sana.

"Sholeh dong temenmu."

"Bukan sholeh, tapi sholehah."

"Oh perempuan, kukira laki-laki."

"Kalo laki mah udah kujadikan gebetan, Mas!"

Dia tertawa. "Dasar nggak bisa lihat yang bagus dikit. Tapi aku juga gitu sih. Kalo ada yang bagus ya tetep digebet."

Gantian aku tertawa. Rasanya ingin kutoyor kepalanya lalu bilang, "Heh, Mas, inget udah punya pacar!" tapi kuurungkan karena pikirku kalau belum menikah ya masih boleh menggebet siapa saja. Hehehe. Jadi kubiarkan saja dia punya gebetan banyak, aku juga begitu kok.

Suasana alun-alun saat sore sungguh sangat asyik sekali. Ngabuburit yang cukup membuatku ingin berfoto dengannya hanya berdua, tapi kuurungkan dengan pertanyaan, "Buat apa sih, Tiw?" Hahaha. Akhirnya kami hanya jalan-jalan muterin alun-alun karena pas ke Tamansari udah tutup. Terima kasih, lho.

Lalu, ada satu hal lagi yang aneh. Entah saat itu kami sedang membicarakan apa, yang jelas aku ingat ketika aku bicara begini kepadanya, "Iya, ya, sama kamu aja aku ditinggalin."

Dia menoleh ke arahku dengan wajah masih sama seriusnya seperti sebelumnya, "Iyalah, males sama kamu cuma dijadiin pacar ketiga."

Lagi. Ingin kutempeleng saja kepalanya atau kudorong ke jalanan. Aku diam saja, nggak bisa balas gurauannya.

Setelah maghrib dia mengantarku ke masjid menemui temanku. Lalu bilang, "Besok pulang pagi?"

"Iya."

"Hati-hati ya."

"Iya, makasih ya, Mas." Aku menyalaminya seperti salam kepada seorang kakak. Di titik itu entah kenapa aku merasakan kalau dia melepasku pulang seperti seorang kakak ke adiknya.

Hari itu juga aku tau dia seseorang yang baik mau menolongku di kota itu. Terlepas dari semua guyonan yang nyerempet-nyerempet gombal receh, dia tetap seseorang yang sudah punya kekasih sekaligus seseorang yang menjadi kakak bagiku di sana.

Aku tau dia akan ada di sana ketika aku butuh (mungkin) selama dia tidak sibuk, selama dia bisa. Jadi, terima kasih telah ada yang mau direpotkan. Dia akan jadi salah satu dari banyak kakak laki-laki yang aku banggakan. Hehehe. Semoga perasaan aneh yang aku bilang di awal tadi tidak berlanjut jadi sesuatu yang makin aneh. :)

Cileungsi, 11 Juni 2018.
05:43

You Might Also Like

10 comments

  1. Kalo pacar bisa dibecandain sampe 3, kayaknya kalo yg dibahas itu tentang "kakak", itu tak terhingga, seingetku, hampir semua orang lu panggil "kak". xD

    kalian2 ini kalo ke jogja kenapa pada punya kisah romantis, dah, saya pas ke jogja dapetnya pergunjingan di kelompok LGBT mengenai pasangan dan momen favorit mereka, pas saya dan beberapa teman lagi makan di suatu tempat makan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Persisnya gue memanggil semua orang dengan sebutan "kakak" adalah supaya gue terlihat muda aja, Bang Haw~~

      Kisah romantis? Hm apakah ini romantis buat lu? Gue sih hanya meromantisasi Jogjanya aja. Ya karena emang gue suka kotanya. Tapi kalo lu ketemunya pembahasan LGBT... kok kayaknya seru juga hahaha.

      Delete
    2. Bahkan gue yang lebih muda beberapa bulan alias sepantaran juga pernah dipanggil "Kak". Sok muda ini emang Tiwi. Wqwq.

      Delete
  2. Enak juga ya diajak main dan disambut baik ketika lagi berkunjung ke kota orang. Jadi ingat Teh Fasya--yang entah kenapa suka gue anggap kakak sendiri. Bedanya, ya enggak ada perasaan aneh macam lu dan kakak Jogja itu, sama bercandaan kenal di Tinder yang konyol.

    ((jadi kubiarkan saja dia punya gebetan banyak, aku juga begitu kok))

    Mantap betul. Wahaha. Pada masanya, selepas lulus sekolah dan baru kerja beberapa bulan dan diselingkuhin pacar, gue pernah merasa malas buat pacaran lagi. Terus memilih dekat dengan beberapa cewek. Tapi gue enggak anggap mereka gebetan. Sekalipun ada yang dianggap, sebanyak-banyaknya mah dua. Lalu bingung mau pilih yang mana. Akhirnya tembak salah satu, eh ditolak. Tembak satunya lagi juga ditolak karena ini emang sahabat gue, sih. Perasaan dekatnya dia enggak berlebih sebagaimana gue kepada dia. Saat itulah gue akhirnya sadar, kalau dekat sama orang mending cuma fokus ke satu aja ketika udah suka banget. Tapi entah ceweknya bakal jadiin gue pilihan lain apa gimana. Ya, macam cuma jadi selingan gitu. Gue enggak pernah tahu dia juga dekat sama siapa aja. Hmm.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes,emang paling asik kalo ketemu tuan rumah di suatu kota dan mau menjamu kita dengan baik. Hahaha.

      Ya, sebenernya gue tipe yang gampang suka sama orang. Tapi ya gak serta merta orang-orang yang dekat dengan gue lalu gue anggap gebetan. Hanya beberapa yang gue beneran suka secara serius dan sudah punya intensitas komunikasi yang lebih baik. Bukan cuma suka suka kagum gitu.

      Jadi kalo dibilang banyak gebetan ya sebenernya gak banyak juga sih hahaha. Karena sama kayak lu, gue juga gatau apakah si cowok itu menjadikan gue selingan atau pilihan ke berapa.

      Delete
  3. Saya langsung bisa tau bahwa yang dibahas di sini adalah Imam Nahrawi

    ReplyDelete
  4. Bagian anehnya di sebelah mana sih hey pengikut rasulullah? Bingung gue.

    ReplyDelete