It's Okay Not To Be Okay

October 31, 2019


Hal-hal menyakitkan tidak pernah mudah dilupakan.

Saya lupa tepatnya alasan saya begitu mengingkari hal buruk yang sudah terjadi sebulan silam. Rentetan kejadian yang tidak terduga dan berujung membuat saya sakit kepala setiap kali terbangun dari tidur. Melihat linimasa Twitter di pagi hari juga tidak memperbaiki suasana.

Ternyata cuitan seseorang bisa memicu kenangan buruk yang saya coba lupakan. Saya tidak tahu apa tepatnya yang membuat saya menangis hampir setiap pagi, lalu mengelabui semua orang dengan berkata, "I'm fine" dan pasang senyum paling manis versi saya.

Kamu pernah dengar Hypophrenia? Saya baru tahu istilah ini setelah berkali-kali merasakannya. Saya yakin semua orang pernah ada di keadaan ini.

Sumber: www.instagram.com/ibunda.id

Waktu itu, saya sedang berusaha fokus bekerja. Saat tiba-tiba air mata saya meluncur begitu saja tanpa bisa saya cegah. Pemicunya apa? Jujur saja, saya nggak tahu. Sebelumnya, saya sempat kirim WhatsApp pada dua orang teman dan bilang kalau saya sangat penat pagi itu. Ya, hanya itu.

Saya penat (dan saya mau mati).

Lalu, saya menangis sampai teman sebelah saya heran dan panik. Sungguh, betapa saya merasa tidak baik-baik saja. Ketika ditanya, saya kembali pasang tampang, "Don't worry. I'm okay right now."

"I can feel your breath, I can feel my death."*

Ketika saya mulai menyadari hal-hal yang membuat saya tertekan, stres, dan merasa tidak baik-baik saja, saya mulai mencoba untuk bercerita. Pada siapapun. Inilah langkah pertama yang saya ambil untuk memulihkan diri dengan membiarkan diri saya tidak sendirian.

Saya dan beberapa teman sempat mengobrol di kedai kopi. Bicara soal healing stress dan saya menemukan sebuah cara agar saya bisa "lari" pada saat itu.

Menulis blog jadi salah satu yang saya pilih. Sama seperti tulisan yang sedang kamu baca sekarang. Saya menganggap tulisan ini adalah bentuk pemulihan diri saya. Tumpahan kenangan yang mungkin bisa saya, kamu, dan kita baca esok hari. Menulis blog bikin saya tenang, entah ada yang baca atau tidak.

Salah satu teman saya bilang kalau ia menumpahkan keresahannya dalam bentuk tulisan di instastory. Menurutnya hal itu cukup membuatnya lega ketika sedang stres. Tidak menutup kemungkinan ketika keresahan itu dibagikan di media sosial, justru malah banyak orang yang merasa senasib. Lalu sama-sama menguatkan, memberi dukungan, bahkan virtual hug.

"Gue membagikan itu bukan karena mau diliat, tapi nggak jarang gue juga ngerasa senang kalau ada yang notice tulisan gue di instagram," kata teman saya waktu itu.

Ya, saya kadang merasa demikian juga. Menulis blog untuk sebuah curahan hati dan sebagai pengingat kalau saya pernah melewati hal-hal menyakitkan di masa lalu. Hingga di masa depan nanti, saya bisa merayakan keterpurukan itu dengan kelegaan.

Seems like nobody's care about you in social media, but some people do.





Artinya, selain membuatmu terpuruk, media sosial bisa juga jadi caramu memulihkan stres. Setidaknya, kamu harus tahu apa yang kamu butuhkan ketika mentalmu sedang enggak sehat. Saya percaya, meski cuma lewat virtual, dukungan-dukungan yang tulus dari siapapun itu tetap bisa membuatmu pulih.

Saya termasuk yang merasakannya. Walau saya juga membutuhkan the real hug from someone, bukan cuma yang virtual, ketika pikiran-pikiran buruk menyerang saya.

Terakhir, apa saya beneran mau mati gara-gara cuitan seseorang di Twitter?

Bisa jadi, iya. Tapi psikolog saya bilang kalo saya cuma perlu ikhlas dan menuliskan apapun yang saya rasakan ketika saya mulai merasa insecure dan menangis. Apa yang terlintas di pikiran saya saat itu boleh saya tuliskan. Terserah di mana saja yang bikin saya nyaman.

Barusan saya memilih menuliskannya di kolom pesan salah seorang teman, lalu saya pindahkan di dalam tulisan ini.

Ia bilang, "It takes time and it's okay not to be okay."

Tidak apa-apa kalau kamu mau curhat di media sosial. Apapun jenis emosinya, curahkan saja. Segalau apapun kamu. Demi kesehatan mental yang lebih baik.
---

Tanpa berniat cari perhatian, saya minta maaf telah begitu banyak merepotkan hidupmu. Tulisan ini sebuah manifestasi dari keresahan-keresahan yang bertumpuk di pikiran. Dengan ini, saya berharap bisa pulih segera.
---

“Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform karya anak bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi.”

*Lirik lagu Trees - Twenty One Pilots

Pamulang, Oktober 2019.
23:51

You Might Also Like

6 comments

  1. Lagi di tengah-tengah kerjaan malah baca ginian. Toloooongg aku jangan sampe kegep. Huehueuhe. Main2 lagi tiw kapan kapan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha tiati lo bang~
      Iya, hayu main lagi bersama yang lain :D

      Delete
  2. Aku pernah dan kayaknya beberapa kali deh tiba-tiba nangis gitu aja, padahal nggak ngapa-ngapain atau bahkan nggak memikirkan apa-apa. Paling-paling ketika nangis malah mikir "I'm bad."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhu, tetap semangat kak! Menangis itu perlu, tapi setelah itu mari bangkit lagi.

      Delete
  3. Menghindari Twitter ketika lagi kumat buat gue perlu banget. Sejak era menfess dan thread viral, mulai banyak racun yang bikin pikiran tambah gila. Nanti begitu udah baikan, baru dah lepaskan sisa-sisa emosi negatifnya lewat twit atau blog. Tapi kalau malu bakal diketawain orang, ya cukup tulis di notes dan pendam sendiri aja.

    Buat cewek, nangis tiba-tiba gitu malu kagak, sih? Haha. Mayoritas cowok pada gengsi soalnya setau gue. Aneh juga, padahal kan sama-sama manusia yang bisa rentan kapan saja tanpa pandang waktu dan tempat.

    Syukurlah gue belum pernah merasa sekacau itu di tempat umum. Kalau di kantor masih bisa kabur ke toilet. Pura-pura berak, padahal lagi mencoba menenangkan diri. Entah sampai menangis atau cukup tarik napas dan buang napas perlahan-lahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Yog. Waktu itu sempet kayak uninstall Twitter dan IG demi ketenangan diri sendiri. Atau ngabur dulu kemana yang ga ada sinyal. Tapi kalo sekarang gabisa kabur-kaburan karena punya tanggung jawab.

      Gue sih malu hahahaha. Karena kayak lagi adem ayem, masih pagi, tau-tau nangis. Menjadi pusat perhatian itu kadang ga enak juga wkwk. Iya, ya. Kalo cowok kayaknya gue jarang liat mereka yang tiba-tiba nangis di tempat umum.

      Semoga lu selalu baik-baik saja ya. Walaupun kayaknya ga mungkin, tapi minimal bisa mengendalikan emosi dengan baik. Kalo di kantor mah pengalihan gue adalah... jalan ke masjid hahaha.

      Delete