[CERPEN] PESAN

October 06, 2019


PESAN
Cerita yang bermula dari sebuah sapaan.
---

Aku menatapnya dalam-dalam ketika ia mulai berjalan mendekati podium kecil di tengah restoran. Penyanyi dan semua personil bandnya menyingkir dengan sigap. Ia mulai membuka lipatan kertas yang baru saja diambilnya dari saku celana.

"Tes... Tes..." Ia mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas mikrofon.

Mau apa dia? Pikirku. Bernyanyi jelas tidak mungkin. Pidato? Untuk apa?

"Untuk gadis yang kini direngkuh kesepian, dengarkanlah," katanya. Suaranya sedikit bergetar. Aku tahu ia gugup karena suasana mendadak hening saat ia mengeluarkan suaranya.

"Puisi adalah pesta. Seperti ulang tahun atau pernikahan, tetapi benci perayaan. Ada beranda di halaman belakang buat setiap tamu yang datang. Aku biarkan orang-orang berbincang dan bersulang dengan diri sendiri.

Aku mungkin tidak berada di sana — aku sedang duduk menemani diriku di taman kota atau perpustakaan atau terjebak pesta berbeda dalam puisi yang belum dituliskan."★

"Di Halaman Belakang Puisi Ini."

"Di Halaman Belakang Puisi Ini." Aku menggumamkan judul puisi tersebut berbarengan dengannya.

Ia masih ingat puisi favoritku. Sebuah puisi dari M. Aan Mansyur yang kala itu pernah kubacakan di depan kelas.
---

"Gue nggak ngerti maksud puisi yang lo baca barusan," katanya setelah aku kembali duduk di kursiku.

"Selanjutnya, Imam." Ibu guru memanggil namanya karena ia tepat duduk di kursi belakangku.

Ia tampak tidak gugup sama sekali berada di depan kelas. Sebelum memulainya, ia malah cengengesan tidak jelas. Entah kenapa. Aku sendiri hanya ingin tahu seberapa bagus puisi yang ia buat, sampai akhirnya...

"Puisi apaan tuh kok gue kayak familiar, ya?" Aku bergumam saat ia mulai membaca bait pertamanya.

"Itu, kan, lagunya Fiersa Besari." Rani, teman semejaku langsung menyahut.

"Ah, yang bener?"

"Iya, judulnya Garis Terdepan."

"Anjir, nggak kreatif amat sih suruh bikin puisi malah pake lirik lagu." Aku malah jadi kesal sendiri.

Seluruh kelas bertepuk tangan, kecuali aku, ketika ia selesai membaca puisi—lirik lagu yang dipuisikan maksudku. Kenapa sih ada bocah seperti dia yang tidak mau repot berpikir untuk menulis sebuah puisi? Padahal puisi itu kan seni. Kenapa dia harus memakai lirik lagu milik orang lain? Apa susahnya sih bikin puisi?

Ia masih tetap cengengesan ketika kembali duduk di kursinya.

"Gimana puisi gue? Bagus, kan?" tanyanya sembari mendekatkan kepalanya ke arahku.

"Bagus dari Hongkong! Lo pake lirik lagu siapa tuh?" jawabku ketus.

"Yah, ketahuan deh. Abisnya gue pusing mikirin kata-katanya. Nggak bisa gue mah bikin puisi. Nggak jago kayak elo. Ajarin dong makanya."

"Males!"
___

"Kiara yang manis, tolong ya bantuin gue bikin puisi. Minggu depan masih ada tugas puisi nih. Please."

Sebuah kertas dan cokelat berlogo ayam tergeletak di atas mejaku. Siapa lagi kalau bukan Imam. Ia pasti sedang berusaha merayuku untuk mengajarinya membuat puisi. Tidak akan kubiarkan ia mendapat nilai bagus di tugas puisi kali ini.

Apa-apaan kemarin itu? Nilainya jauh lebih bagus daripada aku. Padahal yang ia bacakan hanya lirik lagu. Bayangkan! Hanya lirik lagu dan ia mendapat nilai 90? Gila! Aku yang susah payah memikirkan diksi puisi semalaman hanya dapat nilai 88? Ini tidak adil.

"Lo mau nyogok gue, Mam?" Aku membanting cokelat dan kertas itu di atas mejanya. Lagi. Ia cuma cengengesan.

"Nggak gitu, Ra. Gue kan cuma minta bantuan sama lo buat bikin puisi. Ajarin lah. Jangan pelit-pelit jadi orang. Nanti kuburannya sempit. Hehehe."

"Nggak mau."

"Please... Daripada gue pake lirik lagu lagi. Nanti puisi lo kalah saing sama gue, lho."

Sial. Kok bisa-bisanya ia mengancamku seperti ini? Aku jelas tidak rela kalau nilai tugasnya kali ini lebih bagus dariku lagi. Apalagi ia curang!

"Oke. Gue bantu lo deh. Terpaksa!"

"Yes!"

"Jangan seneng dulu lo. Nih, lo baca ini dulu." Aku menyerahkan buku kumpulan puisi favoritku kepadanya.

"Tidak Ada New York Hari Ini? Emang New York udah tenggelam apa gimana, Ra?" Aku melotot dan ia langsung diam. "Iya, iya, gue baca. Gak usah melotot gitu lah. Nanti cantiknya ilang." Aku sudah siap untuk memukul kepalanya dengan buku paket Kimia yang sedang aku pegang, tapi ia langsung menghindar.
---

Orang-orang di restoran bertepuk tangan. Kali ini aku juga. Aku tak pernah tahu kalau ia masih mengingat puisi favoritku. Ia tak pernah sesuka itu pada puisi. Bahkan saat ia memintaku mengajarinya membuat puisi semasa sekolah dulu.

"Puisi itu sulit dipahami. Aku nggak bisa menikmati itu dengan sekali baca," katanya waktu itu.

"Ya, aku juga awalnya begitu."

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..."

"Sejak kapan kamu tau puisi Sapardi?"

"Sejak aku ingin mencintaimu..."

"Hahahaha."

"Kenapa kamu ketawa? Aneh ya kalo aku baca puisi?"

"Ya, begitulah. Berapa banyak puisi yang kamu baca?"

"Berapa, ya? Aku lupa. Banyak sepertinya, tapi nggak semua aku ngerti. Cuma puisinya Sapardi yang itu yang bisa dengan mudah aku pahami."

Ingatan itu berakhir ketika seseorang menepuk pundakku. Aku harus segera pergi.
---

Oktober 2018, suatu pagi di hari ulang tahunku.

Aku menemukan sebuah bingkisan di laci mejaku. Kotak persegi yang dibungkus rapi menggunakan kertas kado, lengkap dengan pita berwarna biru. Aku bergegas ke toilet dan membukanya di sana.

Sebuah jam tangan... dan selembar kertas berisi... puisi!


"Imam? Nggak salah ini dia bikin puisi sebagus ini?" Aku diam-diam mengagumi kemajuannya dalam membuat puisi.

Tunggu, puisi ini apa maksudnya? Apa jangan-jangan...

Pikiranku mulai berpikir yang tidak-tidak. Apa Imam menyukaiku? Tapi tidak mungkin. Ia kan selalu jahil padaku. Bahkan aku pun selalu bersikap ketus padanya. Kalau dilihat dari puisi ini sih rasanya ia memang suka padaku. Tapi masa sih?

"Nggak. Nggak mungkin." Aku berusaha menepis pikiran anehku sendiri.
---

"Aku boleh tanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kenapa waktu itu kamu mengirimiku puisi?"

Ia menghela napas. "Karena aku tau kamu suka puisi. Dan aku mau kamu menjadi alasan untuk setiap puisi yang aku buat. Walaupun... ya puisiku nggak bagus-bagus amat." Ia menggaruk kepalanya yang aku yakin hanya pengalihan rasa gugupnya.

"Tapi yang kemarin itu bagus kok. Aku suka. Belajar darimana kamu?"

"M. Aan Mansyur. Penulis favoritmu."

"Sudah kuduga."

"Boleh aku tanya satu hal lagi?"

"Ya?"

"Kamu nggak minta dibikinin puisi sama orang lain, kan?"

"Kamu segitu nggak percayanya sama aku? Aku bikin itu begadang, lho."

"Hahaha. Iya, iya. Aku cuma memastikan aja."

"Senang?"

"Untuk?"

"Puisinya?"

"Nggak." Ia sudah akan membuka mulutnya. "Tapi aku bahagia."

Ia tersenyum dan menggenggam tanganku erat.
---

Jam tangan pemberian Imam masih aku pakai sampai sekarang. Tepat pukul 9, keretaku datang. Suaranya saat membacakan puisi tadi masih bergema di kepalaku.

Dua bait terakhir puisi favoritku sudah menjelaskan banyak hal.

"Aku mengundang kau juga. Datanglah. Masuklah. Tak ada kamera tersembunyi yang mengawasimu seperti di tiap sudut kota. Di puisiku hanya akan kau temukan tubuhmu jatuh ke lengan seseorang. Dia menciummu hingga kau lupa kau pernah merasa ditinggalkan. 

Kau boleh membayangkan dia adalah aku atau siapa pun yang kau inginkan."★

Aku selalu menyimpannya sebagai puisi termanis di halaman terakhir buku hidupku. Bait-bait yang selesai setelah gerimis. Atau cerita-cerita singkat sebelum beranjak tidur.

Sampai hari ini. Aku mengingatnya sebagai bocah yang mengajakku bicara duluan, bahkan sebelum teman lain melakukannya.

"Hai, Manis. Kenapa rambutmu diikat seperti ekor kucing?"

"Hai, Manis. Kenapa bacaanmu melankolis sekali, sih?"

Dan dari sanalah semua itu bermula.[]

★ Puisi berjudul "Di Halaman Belakang Puisi Ini" karya M. Aan Mansyur dalam buku Tidak Ada New York Hari Ini.


Cileungsi, Oktober 2019.

You Might Also Like

8 comments

  1. Bikin puisi kayak Aan Mansyur susah. Gue sering coba praktik, tapi hasilnya kegagalan semua. Hahaha. Tapi sepertinya setiap penyair yang gue coba tiru tekniknya emang enggak ada yang berhasil. Zaman baru kenal Jokpin dan SDD, mengekor mereka juga gagal. Mau sok kayak Rendra, tapi suara kurang lantang. Lalu dari sekian banyak pensyair hingga akhirnya ketemu Subagio, semakin frustrasi. Jadi sadar diri aja setiap menulis puisi.

    Bagian mengutip karya orang lain buat dijadikan seolah-olah karya sendiri itu menjijikkan. Tapi kalau emang mau sekalian enggak ketahuan menyontek, terjemahkan aja lirik lagu Jepang. Itu semacam puisi yang terlalu indah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang susah bangettttt. Parah gue gabisa ngikutin tekniknya. Terlalu tinggi huhu. Gue baca buku puisi juga kayaknya itu itu aja. Belom coba cari yang lain.

      Iya kesel gue dulu ada temen yang begitu. Pengen gue gaplok rasanya saking dia malesnya gamau bikin puisi sendiri. Nah, bisa juga ya pake terjemahan lirik lagu jepang. Bahkan biasanya lebih ngena wkwk

      Delete
  2. Imam udah berniat ngegebet sejak awal! titik udah.

    aku pernah di posisi imam itu, nggak tau gimana bikin puisi, teman deketku juga begitu, tapi alih-alih buat minta diajarin ama org yang pandai, kami biasanya bakal lebih memilih baca buku puisi. beda halnya kalo udh niat atau naksir, mah, kita pandai juga bakal pura2 nggak buat diajarin.

    untung berakhir bersambut ya, Mam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah. Aku ingat cerita temanku yang begini. Dia super jahil sama salah satu teman kelas. Setiap hari bahkan. Ternyata memang naksir hahaha.

      Apapun ya kalau suka atau naksir pasti berusaha sebisa mungkin agar dinotice haha.

      Delete
  3. Wooooow! Keren, nih! (Gambar puisinya boleh minta? Hehe)

    Omong-omong, kenapa fonnya kecil banget? Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleeeh.

      Ngg... Terlalu kecil ya? Nanti saya perbaiki deh. Terima kasih masukannya kak!

      Delete
  4. Gue pikir puisinya pake tanda bintang karena pas akhir nanti bakal ada semacam disclaimer gitu. Gak ada ya ternyata. Haha. Ampuni hamba yang tidak mengerti cara menikmati puisi. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anu... Tadinya mau begitu, tapi karena udah dijelasin di dialog jadinya gue pikir gak usah wkwk. Jadi tanda bintang cuma penanda aja kalo itu puisi orang, bukan gue yang bikin. Hahaha.

      Tapi kalo menimbulkan persepsi lain, baiklah gue cantumin aja di akhir deh. Haha

      Delete