September Reminder

September 30, 2019


Sudah lama rasanya saya nggak bikin rangkuman dari hidup saya sendiri perbulannya. Tahun lalu sempat bikin, tapi karena kegiatan yang dilakukan cuma itu-itu saja, jadinya agak malas nulis. Soalnya tiap bulan sama aja. Monoton dan membosankan. Pantesan ditinggalin (lagi). *Nggak ada hubungannya, cuy!*

Di September saya punya dua (atau tiga, ya?) hal besar yang mungkin akan saya bahas dan mungkin akan jadi pengingat buat diri sendiri. Sebab, hal-hal kecil kadang nggak cukup buat bikin saya sadar kalau hidup perlu perencanaan dan tidak perlu ekspektasi berlebihan.

Bertemu Orang Baru yang (Mungkin Saja) Menyenangkan
Ada banyak orang di dunia ini yang berpeluang untuk saya temui. Termasuk orang yang satu itu. Saya nggak akan menyebut namanya. Rasanya, saya sudah kenal dia sejak lama, mungkin sekitar satu tahun yang lalu, tapi hanya sekadar menyapa sesekali. Bahkan kami tidak mengetahui keberadaan satu sama lain.

Sampai di waktu yang tepat, garis hidup saya dan dia bersinggungan. Saya menganggapnya sebagai seorang teman baru yang masuk ke lingkaran hidup saya. Tidak bermaksud apa-apa karena memang begitulah prosesnya. Saya suka berteman dengan siapapun dan darimana pun ia berasal.

Dan ini terjadi pada saya dan dia yang mulai menyelami kehidupan masing-masing. Bertanya ini itu, memberi makan keingintahuan, sampai akhirnya waktu membiarkan saya bisa melihat wujudnya secara nyata. Ya, menyenangkan sekali bisa bertemu teman yang selama ini hanya berkomunikasi melalui dunia virtual.

Ia persis di foto karena memang ia orang yang sama. Saya pun demikian, katanya. Sama semuanya. Sama pendiamnya juga.

September minggu pertama masih terlihat begitu menggembirakan. Namun, waktu seakan bergulir layaknya sebuah permen kapas. Oke, ini analogi ngawur, tapi saya merasa demikian.

Manis,

menyenangkan,

tapi cepat habis

dalam sekali makan.

Hidup kami pun selesai bersinggungan.

Original picture by webtoon Matahari Setengah Lingkar


Patah Hati Membuat Saya Belajar Banyak Hal
Jujur, saya nggak menyesali apa yang sudah terjadi. Kata orang, ambil hikmahnya saja. Makanya, saya hanya akan mengambil hal baik dan membuang yang buruk. Hidup, kan harus tetap berjalan, apapun keadaannya. Sebab, waktu nggak akan pernah menunggu sampai kita siap.

Tepat ketika dia memilih keluar dari lingkaran hidup saya, seharusnya saya tidak lagi menahannya. Karena, dia punya hak atas itu dan saya bukan siapa-siapa yang berhak mengatur hidupnya.

Saya bingung harus bicara apa. Tapi yang ia katakan semuanya masuk akal. Terutama soal ekspektasi di pikiran masing-masing. Jangan terlalu cepat berasumsi. Jangan terlalu dalam menaruh harapan. Dan jangan mau berhalusinasi. Semua hal itu akan saya ingat, mungkin sampai kiamat.

Kenapa saya patah hati? Ya, karena hati saya dipatahkan. Ternyata ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu menyakitkan juga, ya? Baru tau saya. Tapi nggak apa. Ini sebuah pengalaman walaupun malesin banget kalau harus diingat lagi. Intinya saya belajar untuk bisa menghargai keputusan orang lain, juga menghargai pilihan yang saya ambil sendiri.

Atau...

tidak menyesali apa yang sudah terjadi walau sebenarnya saya agak menyesal juga. Seharusnya dari awal nggak usah sekalian. Tapi ya namanya juga penyesalan, datangnya selalu di akhir. Kalo di depan kan namanya pendaftaran.

Garing banget lo, Tiw!


Memulai Hal Baru di Tempat Baru serta Orang-Orang Baru
Udahan dulu ya galau-galau soal romansanya. Kalau kata Mba Suhay Salim,

"La ilah, putus doang berisik amat."

Yhaaa! Emang paling bener dah kata Mba Suhay kalo usia 20-an itu otaknya belum jadi!  Udah paling bener nontonin video QnA netizen ini. Rasanya kayak ditampar bolak-balik, tapi ya udah langsung sadar dari halusinasi. Saya rekomendasi banget ini videonya.


Nah, jadi kabar baik di bulan September ini adalah... saya sudah mulai bekerja lagi. Alhamdulillah. Kalau sebelumnya saya baca cerita resign di blognya Febri dan ikut sedih karena punya teman senasib, sekarang saya malah akan mencoba bertahan di pekerjaan baru ini. By the way buat Febri semoga lekas dapat pekerjaan baru juga, ya!

Salah satu alasan yang bikin saya betah di seminggu pertama kerja di tempat ini adalah karena... suasana kerjanya yang fun banget. Saya banyak belajar dan banyak dibantu sama yang udah berpengalaman. Suasananya bikin saya inget sama sekre semasa kuliah. Semoga selalu nyaman sampai ke depannya.

Saya akan berusaha bertahan karena saya pikir ini memang jodohnya. Setelah sekian lama menunggu jawaban dari Tuhan. Beberapa orang menasihati saya untuk menekuni dulu. Karena ya namanya bekerja, semua ada capeknya. Nggak cuma soal senengnya aja, kan?

Nah, sekiranya begitulah jalan hidup saya selama bulan September. Ada senang, ada sedih, ada galau, ada ceria. Semuanya jadi satu dan saya mensyukuri itu.

Terakhir, semoga hidupmu selalu bahagia, ya. Terima kasih.

Cileungsi, penghabisan September 2019.
29/09/2019, 10:37.

You Might Also Like

6 comments

  1. Topiknya soal patah hati, ya? Hmm, sudah terlalu sering. Apalagi mematahkan hati sendiri, khususnya yang baru sebatas gebetan. Belum memulai hubungan gue sudah sering kalah. Jika udah ada status pacar, gue juga seringnya mencoba menyalahkan diri sendiri entah kenapa. Atau salah keduanya. Gue berusaha enggak cuma menyalahkan pihak sana. Gue berpikir begitu karena pilihannya ada di gue. Selama masih bisa gue pertahankan, bakal gue usahakan terus. Tapi kalau dia udah enggak bersedia, ya dia juga berhak pergi. Jangan sampai dia bersama cuma karena terpaksa. Ya, meski hati ini bakalan remuk. Wqwq.

    Kalau kasus lu ini termasuk cinta digital, kan? Gue pernah sekali seumur hidup. Sama bloger juga. Setelah itu langsung kapok. Makanya sempat menulis buat menghindari pasangan seorang bloger. Sekalipun suatu hari mungkin akan ketemu bloger yang bisa bikin naksir, biasanya harus ketemu dan kenal dulu. Seandainya konteksnya suka pada pandangan pertama, itu buat gue wajar karena udah memperhatikannya langsung. Makanya masih kepikiran mbaknya~ Gue mesti lihat gimana dia berpenampilan, jalan, berbicara (kalau enggak sengaja nguping). Gue paling enggak bisa kalau cuma lihat sebatas foto. Haha.

    Yoi, sudah ada kesibukan baru. Semoga betah sama pekerjaannya, Tiw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha iyaaa september dibikin patah hati setelah mencoba menbahagiakan diri. Sayangnya gue udah gak bisa mengusahakan apa-apa lagi karena dianya udah nggak mau wkwk. Jadi pilihannya cuma ikhlas saja.

      Cinta digital, pas ketemu ternyata tidak sesuai. Sedih :( karena pas ketemu, guenya makin suka, dianya kayaknya enggak. Hahaha.

      Alhamdulillah, Yog! Terima kasih yaaa!

      Delete
  2. Tiwiiii :") mau komen soal patah hatinya tapi ntar aku nangis juga wkakak soalnya rada relate seuprit. Tapi aku salut kamu bisa ngambil pelajaran dari perpisahan itu. Nggak semua orang bisa dengan cepat bisa ngambil hikmah dan pelajaran dari perpisahannya kayak yang kamu tulis di postingan ini :)

    Aku komen soal kerjaan barunya aja deh. Semangat ya, Tiw. Bulan baru kerjaan baru. Oktober boleh identik dengan horor (Halloween misalnya) tapi mari kita isi dengan semangat keceriaan~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang lalu biarlah berlalu. Cukup jadi kenangan dan ambil pengalaman. Aku sudah belajar untuk tidak berlarut-larut. Karena kasian yang nanti jadi pasangan aku kalo akunya belom move on hahaha.

      Siaaaap! Halloween? Ada Love for Sale 2 di Halloween huhu. Ayok semangat juga, Kak Icha! :3

      Delete
  3. Ku nga mau bahas masalah patahhatinya karena agak tertebak. Kutida ingin membiarkan teman saya lamalama bersedih hanya untuk hal yang... ya ngapain seh.

    Btw, makaseeeeh yaaaaak. Doanya. Ku baru tau ada nama saya dan blog saya. Ehe.

    Tekuni kerjaannya yaaaaaaak. Nyamankan. Syukuri.

    Yay.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya gapapa gausah dibahas feb. Karena Oktober harus ceria, bukan September aja yang ceria wkwk.

      Siaaap. Terima kasih juga yaaak. Semoga hal baik selalu menyertaimu~

      Delete