Sebuah Rindu Tanpa Temu

September 13, 2019


"Mbaaak, kapan ke Purwokerto? Aku kangen." Sebuah direct message di Instagram menghampiri saya. Dari Diva, salah satu junior saya di kampus.

Di lain waktu, pesan serupa menghampiri saya. "Mbak, pokoknya aku tunggu di Purwokerto, ya. Nggak mau tahu, Mbak Tiwi wajib dateng. Pokoknya kalo nggak dateng, aku marah." Itu dari Astri, junior saya yang lainnya.

Di platform lainnya, masih dengan pesan serupa yang menyuruh saya ke Purwokerto, datang dari Alika. Adik kecil yang manjanya sebelas dua belas dengan Diva.

Membaca tiga pesan itu, saya cuma haha hehe. Tidak mengiyakan, tidak juga menolak, tapi memberi harapan—yang sepertinya palsu. Saya bilang, kalau waktu dan dana memungkinkan, saya akan berangkat ke Purwokerto, tepat di hari ulang tahun KMPA FISIP Unsoed. Hari ini. 13 September.

Nyatanya, saya tidak kemana-mana dan hanya bisa menulis sebuah tulisan dari rumah. Tentang rasa rindu yang menggebu dan hati yang pilu.

Dirgahayu FISIP Unsoed ke-32!

Setelah dua tahun tidak lagi berada di kampus, saya justru semakin ingat bahwa ada banyak hal menyenangkan yang selalu saya lakukan di KMPA. Bahkan hanya sekadar duduk di sekre, menunggu jam kuliah sambil nonton Youtube saja rasanya menyenangkan.

Saya sedang membuka folder foto semasa awal mengikuti kegiatan dan melihat satu persatu foto yang menarik saya pada kenangan masa lalu. Saya yang kikuk dan tidak tahu apa-apa, datang ke sekre yang ramainya bikin saya hampir melangkah mundur. Namun akhirnya, saya tetap memberanikan diri masuk ke dalam sana.

Berada di zona nyaman ternyata enggak selalu enak. Masuk ke organisasi yang katanya pencinta alam juga ternyata nggak semudah itu. Saya yang doyan cari aman, anak rumahan, dan mageran, akhirnya mau mencoba hal baru.

Racun pertama tentu saja dari orang terdekat, sepupu saya sendiri. Dia sudah bergabung di organisasi mapala di kampusnya sejak lama. Dengan banyaknya foto gunung yang bertebaran di Facebooknya, saya mulai "teracuni" untuk bisa mencicipi yang namanya berdiri di puncak gunung.

Maka, masuklah saya ke sana. Di ruang belajar yang sering saya sebut sebagai rumah kedua. Kamu mau makan, ada. Kamu mau tidur, bisa. Kamu mau belajar, ada yang siap berbagi banyak hal denganmu mulai dari A sampai Z. Itu kalau kamu mau. Kalau kamu tidak mau, ya sudah, kamu nggak akan dapat apa-apa.

Saya memilih mau, tapi tak memungkiri ketidakmauan itu juga.

Selama hidup di rumah kedua, tentu saya punya peluang yang banyak untuk belajar. Sayangnya, saya memang se-barbar itu untuk tidak mau mengambil semuanya, padahal seharusnya iya. Bodoh, memang. Tapi menyesal sekarang pun tidak ada gunanya.

Saya ingat, ketika saya sedang semangat-semangatnya latihan Single Rope Technique (SRT) alias teknik naik turun pakai satu tali, saya bisa latihan sampai dini hari bahkan subuh. Dengan ukuran latihan yang cukup "telat"—karena baru latihan di tahun ketiga, yang harusnya bisa di tahun pertama atau kedua—seorang teman seangkatan, Kollin dan Denden, tetap mengapresiasi keinginan saya bahkan membantu saya latihan.

Kalau bisa dibilang, itu masa-masa yang sangat menyenangkan dalam hidup saya. Punya motivasi belajar hal baru yang sangat menggebu-gebu itu ternyata menggembirakan sekali.

KMPA bagi saya bukan cuma organisasi, tapi juga keluarga. Saya punya kakak, laki-laki maupun perempuan, yang bisa saya curhati soal apapun ya cuma di sana. Mau minta jajanin sekalian juga bisa. Saya punya kawan seangkatan dan adik-adik yang sering saya ajak main, juga di sana. Saya bahagia, sekaligus terharu.

Orang-orang di luaran mungkin enggak tau, kenapa saya bisa betah di sekre seharian, selain karena perihal WiFi yang super kencang. Saya sendiri merasa nyaman ada di sana, yang setiap kali selesai kelas, sekre selalu ramai sama orang. Entah lagi pada main game, nonton youtube, ngerjain tugas, tidur siang, atau malah makan gorengan sambil bergosip.

Kalau saya ngomongin soal KMPA, sudah pasti saya nggak bisa memisahkan antara organisasi dan kekeluargaan. Karena kami memang kayak keluarga. Banget. Bahkan sampai sekarang setelah saya sudah nggak di kampus. Masih bisa disebut Keluarga Tanpa Ikatan Darah, nggak, ya?

Ada banyak sekali hal-hal yang ingin bisa saya nikmati lebih lama, tapi pasti saya akan diledek, "Kamu sih Tiw, lulusnya kecepetan." Hahahaha. Ya, mungkin saya harusnya menunda kelulusan 1 tahun lagi waktu itu, ya. Tapi tidak mengapa, saya tetap berharap bisa menikmati banyak waktu dengan kita di dalam ruang yang sama.



Waktu berlalu dan kehidupan terus berjalan. Meski rindu, ternyata saya tetap tidak bisa ke Purwokerto tahun ini. Biar saja sisa-sisa memori di kepala dan gambar di laptop menjadi bahan saya untuk merindu di waktu-waktu selanjutnya. Mungkin ini rasanya rindu, tapi tak berujung temu.

Sudah 32 tahun, usia yang sangat-sangat dewasa, untuk ukuran manusia. Saya sangat-sangat berterima kasih pada ruang yang telah membentuk saya jadi pribadi yang demikian. Memberi banyak pengetahuan dan pengalaman yang mungkin enggak akan saya dapat kalau waktu itu saya jadi melangkah mundur di hari pertama kunjungan ke sekre.

Harapanku tetap sama dari dulu-dulu.S Semoga tetap ada kontribusi positif yang bisa dilakukan oleh KMPA, mengingat keadaan Bumi sekarang semakin memprihatikan. Bisa lebih aware dan menjadi penggerak buat kegiatan berbasis lingkungan, baik di kampus maupun di luar kampus.


Salam lestari!

NA.KMPA/XXVI/244

P.S. Buat Astri, Diva, Alika, jangan meraung-raung ya karena aku nggak jadi datang. Maaf beribu maaf :(

You Might Also Like

0 comments