[Book Review] Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi

September 21, 2019


Judul: Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi | Pengarang: Yusi Avianto Pareanom | Penerbit: Banana | Tahun Terbit: Maret 2016 | Tebal Buku: 450 hlm. | ISBN: 978-979-1079-52-5

"Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan tidur sebelum disembelih," kata Loki Tua waktu itu. (Hlm. 306)

Waktu itu 2016, di Makassar, ketika saya dihadiahi buku ini dari Kak Dhani, perempuan mungil yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri. Tepat di stand buku saat MIWF berlangsung, saya lagi asik melihat-lihat buku yang dijual. Penasaran dengan buku Raden Mandasia yang sudah sering dibahas di grup, tapi belum sempat beli.

"Nih, buat Ntiw." katanya sambil memberikan bukunya kepada saya. Lho, saya kaget bukan main dibelikan buku olehnya. Saya sampai berterimakasih berkali-kali karena... ya ampun kenapa orang ini baik sekali sih? Padahal kami baru bertemu pertama kali saat itu.

Buku Raden Mandasia akhirnya saya pegang dan saya niatkan untuk minta tanda tangan kepada penulisnya esok hari. Kebetulan Om Yusi Avianto, penulis buku tersebut, menjadi salah satu pembicara di MIWF 2016.

Berdasarkan diskusi grup Klub Buku Indonesia mengenai Raden Mandasia, saya cukup tertarik dengan ceritanya. Namun, karena bukunya yang tebal, saya belum membacanya sampai akhirnya menamatkannya 2 tahun kemudian. Parah memang!

"Jangan baca Raden Mandasia pas puasa, woi."

Apa? Kenapa tidak boleh?

"Karena Nyai Manggis bisa membatalkan pahala puasamu..."

Apa? Bagaimana? Kenapa sampai Nyai Manggis bisa membatalkan pahala puasa segala? Hm, mencurigakan.

Saya tidak mengerti, tapi itu salah satu warning buat saya sebelum membacanya. Dan, pertanyaan lain dari Om Yusi pun membuat saya makin penasaran dengan isi bukunya.

"Tiwi yakin mau baca ini? Kalo nggak yakin, bisa kamu balikin bukunya ke stand."

"Yakin, Om!" Saya menjawab dengan lugas.

Sampai dua tahun kemudian ternyata saya nggak kunjung membaca Raden Mandasia. Alasannya selain lagi malas baca buku, ya karena ada reading list lain yang saya utamakan, serta saat itu saya sedang sibuk-sibuknya KKN dan skripsi.

---

Oke, karena prolognya sudah kepanjangan, mari kita mulai membahas buku Raden Mandasia. Saya pikir, Raden Mandasia akan bercerita tentang dirinya sendiri si buku ini. Namun, kita semua akan disuguhkan sudut pandang cerita dari Sungu Lembu, seorang teman karib dari Raden Mandasia.

Awalnya lagi, saya bertanya-tanya kenapa Raden Mandasia bisa sampai dijuluki si pencuri daging sapi?

Ya, karena dia mencuri. Tapi... bukan mencuri yang kayak gitu. Mencurinya ini lebih... elegan. Saya salut pokoknya sama Raden Mandasia.

Sebenarnya, cerita di buku ini sangat-sangat mempesona. Kita semua akan diajak berpetualang ke sana ke mari. Mulai dari jalan kaki, berkuda, melewati gurun, tinggal di rumah dadu alias rumah judi, bertemu Nyai Manggis, berlayar di kapal berhari-hari, sampai ikut perang!

"Banyak orang paham memulai perang, tapi tak pernah benar-benar paham bagaimana mengakhirinya." (Hlm. 406).

Dan yang lebih menyenangkan adalah kita semua akan dibawa menyelami masa lalu... Cerita ini saja sudah berlatar waktu masa lalu, eh dibawa lagi untuk mengingat masa lalu. Apa nggak semakin ambyar?

Hanya saja, masa lalu yang ini ternyata lebih berkesan buat saya ketika membacanya. Kayak, ada banyak pelajaran hidup, seperti kenapa nggak boleh dendam lama-lama sama orang,karena  ya nggak ada gunanya.

Apa yang lebih nikmat dari membaca cerita perjalanan dengan deskripsi yang aduhai? Jujur, saya sangat amat suka sekali dengan deskripsi yang Om Yusi suguhkan di buku ini. Contohnya ada di bab awal, ketika Sungu Lembu terkena panah, deskripsi lengkapnya malah bikin betis saya ikutan sakit saking ngilunya. Remuk, redam, dan menyengsarakan.

Nggak cuma deskripsi soal itu, soal makanan juga sangat-sangat menggugah selera. Terutama... Babi panggang. Astaga, saya membaca deskripsinya saja langsung laper seketika. Tolong, ya, kalau bisa makan saat itu juga, makanlah.

Kalau boleh bilang, ini mungkin pertama kalinya saya menyukai cerita-cerita kerajaan semacam ini. Menikmati cara Sungu Lembu bercerita tentang kebiasaan Raden Mandasia dan rasa dendamnya pada... rahasia lah.

Yang masih bikin saya penasaran sebenarnya kenapa Bapaknya Raden Mandasia bisa punya anak kembar 13 pasang dan laki-laki semua? Wow! Saya aja speechless pas baca. Tiga belas pasang anak kembar yang artinya ada 26 orang!

Kalo saya sih punya 1 pasang anak kembar aja juga gapapa. Hahaha.

Oke, intinya, buku Raden Mandasia saya rekomendasikan kalau kamu mau tau soal Nyai Manggis, eh enggak, maksudnya Raden Mandasia yang suka mencuri daging sapi. Rekomendasi ini berdasarkan pengalaman pribadi dan karena buku ini udah memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016.

Keren, nggak? Pasti dong!

Tapi, jangan heran kalau pas baca buku ini kamu akan terus memaki kayak Sungu Lembu. Saya nggak menghitung berapa banyak kata makian "anjing" yang ditulis di buku ini bahkan sejak awal membacanya. Saya aja beberapa kali ikut geram dan jadi berkata kasar. "Anjing, kenapa jadi gini ceritanya. Bagus bener! Eh maaf, jadi ngomong kasar." Kesal, tapi suka dan tetap dilanjutkan.

Jadi, bacalah~

Terakhir,

"Raden Mandasia adalah hal paling dekat yang bisa kusebut sebagai teman dan kami ternyata saling mengenal sedikit saja." (Hlm. 412).

Pun aku kepadamu.

You Might Also Like

2 comments

  1. Nah ini emang banyak banget yanng bilang seruuuu tapi tebel banget. Hehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bacanya dikit-dikit aja bang. Nanti juga lama-lama abis. Gue juga baca ini nyaris sebulan sih karena ketunda mulu. Tapi tetep selesai hahaha

      Delete