Ketika Anak Gadis Bapak Pergi Meninggalkan Rumah

September 27, 2019


Saya ingin menghela napas panjang terlebih dahulu sebelum menuliskan segala perasaan saya ke dalam tulisan ini.

Entah sejak kapan, mungkin tepatnya saat masuk SMA, saya selalu punya pikiran untuk bisa tinggal terpisah dengan orang tua. Pergi baik-baik, tentu saja tidak akan diizinkan. Sebab saat itu saya masih bergantung secara keuangan pada orangtua. Dan saya belum punya keinginan untuk bekerja, atau lebih tepatnya belum berani untuk menjadi seorang pegawai di tempat kerja manapun. Alasannya karena masih sekolah.

Minggat adalah hal yang selalu saya pikirkan selama akhir pekan. Berandai-andai seperti  anak gadis dalam sinetron yang sering saya dan ibu saya tonton, yang kalau ngambek sama orangtua bisa pergi ke rumah saudara tanpa harus bilang-bilang dulu. Saya mau seperti itu, tapi sampai detik ini, saya terlalu takut untuk melakukannya.

Hingga saat ini, nggak pernah satu kali pun minggat dari rumah walaupun pikiran saya sedang carut marut dan sumpek. Saya tetap bertahan di rumah. Mungkin saya masih punya perasaan tidak tega untuk meninggalkan ibu dan bapak tanpa izin.

Kenapa sih mau minggat? Kan di rumah enak. Semua serba ada.

Iya, saya tidak memungkiri itu. Tapi saya sempat merasa kalau rumah itu seperti penjara. Setiap kali saya pulang, saya selalu ditanya-tanya. Seperti diinterogasi. Saya tahu itu bentuk perhatian, tapi saya tidak suka. Saya tetap diam saja karena tak sampai hati kalau menyampaikan hal tersebut dan malah jadi menyakiti perasaan mereka.

Ibu tidak pernah mau saya pergi jauh, termasuk soal kuliah. Kalau bapak, saya tidak tahu. Bapak mungkin lebih berharap agar saya bisa sukses, dimana pun itu.

Dan, doa saya dikabulkan Tuhan. Saya pergi merantau saat kuliah. Nggak tanggung-tanggung, langsung beda provinsi meski masih satu pulau.

Saat itu, saya merasa memegang kebebasan secara utuh. Melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya, tapi masih dalam batas wajar. Keluyuran tengah malam, jalan-jalan keliling kota, sampai pulang pagi pun pernah. Pokoknya otoritas kebebasan ada di tangan saya.

Tinggal terpisah dari orangtua memang seperti sebuah tujuan untuk saya. Walau sesekali saya merindukan rumah, tapi ketika ada di rumah, saya tidak serta merta sebahagia itu. Saya tetap menginginkan hidup di luar dari rumah.

Sampai malam tadi, Bapak tiba-tiba terdiam saat saya hendak pergi. Bapak yang biasanya cuek, kini matanya tampak sayu. Saya berusaha menahan diri untuk tidak menangis, pun dengan Bapak. Walau saya tahu, ditinggal dua anak gadisnya pergi itu sama saja dengan kehilangan. Meski cuma sementara dan jarak yang tidak terlalu jauh.

Saya pergi ke Ciputat, bersama adik saya. Sebab, saya sudah mulai kembali bekerja di sini. Mau tidak mau, saya harus meninggalkan rumah (lagi).

Saya lalu teringat percakapan saya dengan seseorang. Ia bilang kalau kami berjodoh dan menikah nanti, ia mau saya tinggal dengannya di rumahnya yang sekarang, di kotanya yang sekarang. Itu berarti saya akan tinggal di pulau yang berbeda dengan orangtua saya. Ia tahu pula kalau orangtua saya akan susah melepas saya pergi.

Saya belum bicara apa-apa. Saya tahu ada kemungkinan-kemungkinan terburuk. Melihat kesedihan Bapak yang seperti itu, saya jadi semakin tidak tega. Saya hanya ke Tangerang Selatan, tapi Bapak dan Ibu sudah demikian sedihnya.

Mungkin ini yang dinamakan patah hatinya orangtua. Melihat anak-anaknya satu persatu dewasa lalu pergi meninggalkan mereka sendirian di rumah. Saya tidak tahu bagaimana kelak kesedihan dan kesepian mereka semakin bertumpuk ketika saya menikah nanti.

Saya selalu punya keinginan untuk pergi dari rumah. Bukan karena saya benci pada rumah. Bukan pula benci pada orang-orang di dalamnya. Saya hanya bosan. Bosan melihat diri saya sendiri yang menginginkan kebebasan.

Saya tidak pernah sanggup melihat Bapak dan Ibu menangis seperti tadi. Tapi saya lebih tidak sanggup kalau mereka yang pergi lebih dulu. Sampai detik ini, saya selalu berharap, mungkin masih taraf bermimpi. Apakah saya bisa mati lebih dulu daripada orangtua saya? Apa kalau begini artinya saya egois?

Saya selalu ingin pergi dari rumah, tapi itu cuma sebuah cara agar saya selalu punya alasan untuk pulang dan merasa rindu ketika sudah lelah.

Ciputat, September 2019.
21:26.

You Might Also Like

6 comments

  1. saya juga punya keinginan itu sejak dulu, sampai terjaid pas zaman kuliah maupun skrg yg tinggal lebih jauh, tapi setiap kali akan pergi dari rumah, itu akan selalu ada perasaan nggak mau. aneh memang, mau pergi tapi saat akan pergi ngerasa nggak mau, ada sebagian diri yang mau tetap tinggal dan membantu di rumah walo orang rumah seringkali menyebalkan.

    dan mungkin, yang dirasakan seorang bapak juga begitu, bisa saja dia kesal melihat anaknya sering ada di rumah, nggak ke mana-mana, tapi saat anaknya akan pergi, dia akan mengalami ketidakrelaan. Mungkin tidak relanya lebih besar lagi. tapi mau gimana lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, di rumah menyebalkan, tapi di luar rumah kadang tidak kalah menyebalkan. Karena sering juga merasa homesick. Tapi nggak mau lama-lama di rumah.

      Kenapa ya bisa gini. Kenapa rumah kadang membuat kita tidak betah untuk tinggal?

      Semoga anakmu kelak tetap betah dan bahagia di rumah ya, Bang Haw...

      Delete
  2. Saya lebih gak tega kalau melihat orang tua yang bersedih karna ditinggalkan anaknya terlebih dahulu. Perasaannya pasti lebih carut marut. Tapi dalam hal apapun, ditinggalkan memang gak pernah mengenakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih. Ada benarnya juga. Ibaratnya mereka merawat dari janin sampai dewasa, tapi harus ditinggalkan lebih dulu :(

      Tidak bisakah saling menunggalkan secara bersamaan?

      Delete