[Book Review] Sihir Perempuan by Intan Paramaditha

September 14, 2019


Judul: Sihir Perempuan | Pengarang: Intan Paramaditha | Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama| Tahun Terbit: April 2018 | Tebal Buku: 158 hlm. | ISBN: 978-602-03-4630-4

Entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu untuk memilih membeli buku ini. Saya rasa karena judul dan gambar sampulnya yang terlihat menarik. Warna merah dan hitam yang menjadi perpaduan unik bagi saya. Ditambah gambar seorang perempuan merokok yang menurut saya mencoba mendobrak stigma di masyarakat selama ini.

Sihir Perempuan bukan sebuah novel, tapi berbentuk kumpulan cerita-cerita pendek. Ada 11 cerita yang masuk di buku ini dan 5 di antaranya pernah terbit di media cetak nasional.

Perasaan saya campur aduk sewaktu membaca buku ini. Karena ternyata isinya lebih kelam daripada yang saya bayangkan. Mula-mula saya sudah disuguhi cerita tentang hantu yang sebenarnya bukan hantu. Hantu sebagai perumpamaan ini ternyata lebih menyakitkan.

Saya tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Tapi Sihir Perempuan punya sudut basic cerita yang semuanya tentang perempuan dan sudut pandang perempuan. Sepertinya saya ingat alasan saya membeli buku ini. Saat itu saya sedang membaca bukunya Okky Madasari - Entrok, yang setelahnya saya berusaha mencari buku-buku karya penulis perempuan Indonesia.

Sihir Perempuan membawa saya pada perspektif lain tentang perempuan yang kerap terjadi selama ini. Salah satu cerita yang menarik perhatian saya berjudul Mak Ipah dan Bunga-Bunga. Sungguh sebuah balas dendam yang luar biasa.

Ketika membacanya saya teringat kamu. Entah karena saya pernah berpikir bahwa suatu hari nanti saya akan bisa tinggal bersamamu, di rumahmu, bertemu keluargamu, seperti yang pernah kamu rencanakan pada waktu itu atau ada pikiran lainnya. Kau tahu, kan, saya ingin setuju dengan itu? Saya sudah berharap sekaligus membayangkan—sebuah kesalahan yang selalu saya lakukan—untuk tidak berpura-pura menyukai tempatmu apalagi minta pulang seperti yang dilakukan Marini. Enggak, saya nggak akan seperti itu.

Saya juga mau kok disuruh mengobrol dengan tetanggamu, walaupun mungkin kamu yang enggan. Tapi mungkin saya nggak akan ketemu dengan orang yang seperti Mak Ipah. Kau tahu, Mak Ipah punya bunga-bunga di rumahnya yang ia rawat setiap hari. Tapi ternyata bunga-bunga itu nggak seindah kelihatannya. Bunga-bunga itu menyimpan rahasia terkelam dan terpahit di hidupnya.

Lalu kenapa Mak Ipah terlihat menyayangi bunga-bunganya? Mungkin ini hebatnya perempuan, dia tetap bisa kelihatan baik-baik saja dibalik kepahitan hidupnya bahkan untuk sesuatu tak terduga yang pernah ia lakukan. Saya juga nggak menyangka, dendam yang demikian dalam bisa membuatnya jadi seseorang yang berbeda dan mati rasa.

Horor, mitos, dan dongeng-dongeng gelap yang disuguhkan dalam sudut pandang feminis berhasil membuat saya kembali berpikir. Apakah posisi kami, sebagai perempuan, akan selalu seperti cerita-cerita di dalam buku ini? Yang kerap terintimidasi oleh kaumnya sendiri di masyarakat?

Jawabannya pasti kamu sudah tahu, kan?

Sebelum tulisan ini berakhir, saya berharap bisa punya kekuatan sihir. Terutama sihir untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk atau menghilangkan memori sekalian.

Obliviate!

Lho, kok jadi pake mantra Harry Potter?

You Might Also Like

0 comments