[Book Review] Perfume: The Story of a Murderer by Patrick Süskind

August 17, 2019


Judul: Perfume: The Story of a Murderer | Pengarang: Patrick Süskind | Penerbit: Dastan Books | Tahun Terbit: Cetakan 18, Maret 2014  | Tebal Buku: 401 hlm. | ISBN: 978-979-3972-46-6


Sekali lagi ia menutup mata. Aroma taman menghambur masuk. Dan aroma itu, aroma magis yang paling berharga itu, ada di antara mereka. Wajah Grenouille dibakar gairah. Darah naik ke kepala. Tubuh ini nyaris tak bisa dikendalikan. Untuk sesaat, waktu terlipat dua atau malah lenyap sama sekali karena detik itu ia tak mampu menjejaki ruang dan waktu. Tak salah lagi. Aroma yang keluar dari taman ini adalah atoma gadis berambut merah yang ia bunuh malam itu 
---

Sejak menonton filmnya beberapa tahun lalu, saya merasa film Perfume: The Story of a Murderer akan menjadi film favorit saya. Sebab, adegan demi adegan terasa sangat menarik perhatian. Apalagi plot utamanya yang berkisah tentang pembuatan parfum di masa lampau—terlepas dari unsur pembunuhannya.

Sampai rasa penasaran saya mulai menggebu, saya mengulik banyak hal, termasuk soal bukunya. Apa yang orang-orang bilang tentang film yang diadaptasi dari buku bisa saja tidak sesuai dengan bukunya, ternyata tidak saya temukan dalam film ini.

Berdasarkan visual dari film Perfume, saya sudah menahan diri untuk tidak berekspetasi terlalu tinggi kalau ternyata apa yang saya baca dari buku memang banyak perbedaan. Namun, ketika mulai membacanya di prolog, saya langsung teringat pada filmnya. Seketika jatuh hati.

Kalimat demi kalimat dalam buku Perfume sangat merepresentasikan apa yang saya tonton di filmnya. Bukan cuma gambaran sekilas, tapi secara detailnya pun saya dapat.  Apa yang ada di buku diterjemahkan sama persis ke dalam filmnya.

Perjalanan Jean-Baptiste Grenouille sebagai seorang yang memiliki indera penciuman luar biasa ini ternyata sungguh menarik. Dari sejak ia dilahirkan di pasar, nyaris terbuang bersama tumpukan kotoran dan jeroan ikan, sampai akhirnya dirawat di panti asuhan, juga benar-benar sedemikian menarik.

Latar cerita yang terjadi di abad kedelapanbelas di Perancis juga mau tak mau membuat saya serasa menyusuri negeri itu di masa lampau. Semua narasinya terasa ringan dan membuat saya berimajinasi tentang apa saja yang terjadi pada zaman itu.

Parfum di Perancis pada masa itu menjadi amat sangat digemari oleh para bangsawan. Sebab, wewangian para saat itu memang menjadi representasi atas seseorsng. Digambarkan dalam bukunya—juga filmnya—bahwa para bangsawan memang punya pesanan aroma parfum tersendiri yang sesuai dengan kepribadiannya.

Kalau bisa dibilang, Perfume lebih menceritakan perjalanan Jean-Baptiste Grenouille sebagai seorang peracik parfum. Namun, memang ada yang mengejutkan dari perjalanannya tersebut. Ya, ia ingin bisa menyimpan aroma tubuh manusia—terutama seorang perempuan, gadis—dalam sebuah parfum.

Jujur saja, porsi adegan pembunuhan para gadis-gadis yang dilatarbelakangi alasan tersebut malah lebih sedikit dibanding proses perkembangan pembuatan parfum itu sendiri. Beberapa yang saya ingat adalah tentang pengekstrakan bunga dengan cara direbus sampai sarinya menjadi essence extract. Cara lainnya juga dengan mengeringkan bunga atau bahan parfum yang lagi-lagi nantinya akan diambil minyak dari bunga tersebut.

Ada satu cara lagi yang dijelaskan di buku ini, yaitu dengan menggunakan lemak dari binatang. Proses yang satu ini menurut saya lebih rumit, namun lebih menjanjikan untuk menghasilkan sebuah parfum.

Perburuan Jean-Baptiste Grenouille pada gadis-gadis muda untuk membuat aroma dari tubuh mereka dianggap sebagai tindakan kriminal orang masyarakat. Sebab, ia harus membunuh gadis-gadis itu terlebih dulu.

Perfume bagi saya punya ending yang mengejutkan yang awalnya tidak mampu saya prediksi apa maksudnya dari film. Di bukunya dijelaskan secara gamblang dan jujur saja saya masih belum bisa menerima endingnya yang demikian.

Intinya sih bukunya menyenangkan dan menambah wawasan baru~~

You Might Also Like

2 comments

  1. Biasanya sih emang ending di buku dengan di film itu beda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya di buku dan di film sama. Cuma du film nggak dijelaskan kenapanya. Kalo di buku ada penjelasannya.

      Jadi agak membingungkan saja filmnya tu.

      Delete