Tidak Perlu Kemana-Mana

July 31, 2019



Author's note: Ketika membaca cerita mini punya seseorang (kamu bisa baca di sini), saya—tiba-tiba saja—ingin membuat tulisan lain, dari sudut pandang lain, yang masih berhubungan dengan cerita tersebut. Dan jadilah ini. :)
___

Aku melihatnya dari kejauhan. Lelaki berkemeja putih yang berjalan menyusuri pantai sambil menunduk. Aku tidak tahu orang itu. Namun, dari sekian banyak orang di pantai ini, aku memilih memperhatikannya.

Beberapa kali aku melihatnya menghela napas panjang dan terduduk begitu saja di atas pasir. Jarak kami sudah semakin dekat, tapi aku tak berani lebih dekat lagi. Ia menangis. Tepat ketika matahari jatuh di ujung sana.

Aku terkesiap ketika ia berdiri dan terlihat seperti akan pergi. "Hai, apa kau baik-baik saja?" Akhirnya aku memberanikan diri bertanya padanya.

Anak rambutku tertiup angin ketika mata sendunya menatapku.  "Ya, tentu. Tidak pernah lebih baik dari ini." Ia mulai berjalan meninggalkanku yang masih tergugu di tempat semula.

Ragu, kususul langkahnya perlahan. "Kau mau ke mana?" Ia menoleh.

"Kenapa memangnya?" Ia membalikkan tubuhnya menghadapku. Aku tidak punya jawaban pasti untuk itu. 

"Kau mau ikut denganku?" tanyaku lagi. Ia mengernyitkan keningnya. Aku mengisyaratkannya untuk mengikutiku. Dermaga adalah tujuanku.

Ia masih diam saja. Kesedihan semakin jelas tergambar di wajahnya. Alasanku cuma satu: membuatnya tetap di sana, tidak pergi kemana-mana dan mendengarkan kesoktauanku saat ini.

"Duduk," aku menyuruhnya duduk di sampingku. "Kau tadi menangis?"

Ia tampak tidak siap dengan pertanyaanku barusan, tapi tak menanggapiku lebih jauh. Ia tetap diam. Senyumnya terasa getir di mataku.

"Beberapa hal di dunia ini memang harus ditinggalkan, tapi beberapa hal lain juga harus dihadapi di tempat yang sama sampai selesai."

"Maksudnya?"

"Kau tidak perlu kemana-mana. Pergi jauh belum tentu menyelesaikan masalah. Inti masalahmu ada di sini," aku menunjuk ke dadanya. "Kalau di sini belum selesai, sejauh apapun kau pergi, tetap tidak akan selesai."

Ia mulai menengadah, menatap langit malam yang gelap gulita. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana."

Aku tersenyum. "Mulailah dari sini, di tempat ini. Lalu kembalilah ke tempat kau merasa damai tanpa perlu pergi kemana-mana."

Ia beranjak dari sebelahku dan kali ini dengan senyum yang tidak lagi dipaksakan.
---

Ditulis pada:
Akhir Juli, lewat tengah malam.

You Might Also Like

2 comments