Saat Ada yang Datang Ke Rumah

July 26, 2019

"Ma, besok teman saya mau datang ke rumah."

"Cewek apa cowok? Teman yang mana? Mau ngapain?"

"Cowok, ma. Teman kampus. Mau pinjem kamera."
---

Begitulah kurang lebih percakapan saya dengan ibu ketika menyampaikan kalau ada teman laki-laki saya mau datang ke rumah. Ya, kalian nggak salah baca. Tiga pertanyaan dalam satu helaan nafas.

Apa yang saya pikirkan waktu itu lebih ke arah merasa was-was. Takut ditanya macam-macam dan lebih jauh soal teman laki-laki yang akan datang ke rumah. Padahal, teman itu memang cuma teman. Namun seringnya, ibu saya berpikir lain.

Kalau boleh jujur, selama 24 tahun saya hidup, amat jarang teman-teman saya—terutama laki-laki—main ke rumah. Ada berbagai alasan tentu saja.

Pertama, saya ragu untuk mengajak teman-teman berkunjung ke rumah. Mindset ini terbangun karena sebuah kalimat dari ibu saya yang membandingkan rumah kami dengan rumah orang lain. "Lihat, rumah orang pada rapih, kenapa rumah kita enggak?"

Padahal dalam benak saya, rumah kami sudah cukup rapi, hanya saja memang sedikit kebanyakan barang. Itu yang membuat saya, belakangan ini, ingin sekalu menerapkan metode KonMari pada rumah kami. Semoga bisa terlaksana dengan segera.

Dengan mindset semacam itu, saya cenderung malu kalau rumah kami nantinya dianggap berantakan oleh teman-teman saya. Padahal sejak dulu saya ingin sekali rumah saya jadi basecamp seusai pulang sekolah atau minimal tempat belajar kelompok.

Sampai suatu hari saya memberanikan diri untuk mengundang teman-teman SMA saya belajar bersama di rumah. Total 6 orang; 2 laki-laki dan 4 perempuan. Itu—kalau tidak salah ingat—kedua kalinya rumah saya didatangi teman laki-laki. Setelah terakhir kali saat saya masih SD, itupun hanya nyamper saya untuk kerja kelompok di rumah teman lainnya.

Respon ibu saya terhadap teman-teman, tentu biasa saja. Seperti ibu-ibu lain yang suka bertanya ini itu sekadarnya, kemudian berlalu. Saya pikir itu permulaan yang bagus untuk saya, mengingat tidak pernah ada teman laki-laki yang datang ke rumah walau untuk belajar kelompok. Padahal waktu itu saya punya sahabat lelaki yang cukup dekat.

Saya tidak pernah berani mengajak teman laki-laki saya main ke rumah. Meski konteksnya cuma teman, ada ketakutan tersendiri. Takut ditanya macam-macam yang berujung ceramah panjang. Kalimat, "Sekolah dulu yang bener, baru pacaran." seolah-olah membuat pagar tersendiri untuk saya. Padahal...

siapa juga yang pacaran? Nggak ada.

Realita bahwa saya nggak pacaran aja diceramahin panjang lebar, bikin saya males bawa teman laki-laki ke rumah. Apalagi kalau pacaran? Tausiyah berjam-jam mungkin.

Bukan cuma soal membawa teman laki-laki ke rumah, pergi hanya berdua dengan teman laki-laki saja pulangnya diinterogasi. Oke, ini bukan menggiring opini bahwa ibu saya jahat, tapi memang saya saja yang kadang bebal dan nggak takut kualat. Pergi berdua dengan teman laki-laki pernah saya lakukan, meski bilangnya pergi ramean. Ehehehehe.

Hanya sebatas itu. Saya juga mau masa muda saya nggak polos-polos amat.  Hahaha.

My mom told me about relationship as often as she can. Hanya agar saya paham kalau berkomitmen dengan orang lain itu nggak mudah. Namun, yang saya tangkap belakangan lebih seperti doktrin atau hanya berdasar pada pengalaman beliau zaman dulu. It couldn't relate with mine.

Sampai akhirnya saya kembali lagi ke rumah setelah merantau, saya memberanikan diri bicara jujur kalau teman laki-laki saya akan datang ke rumah. Sejauh ini, aman-aman saja. Mengingat dulu sekali kalau mau ketemuan dengan teman laki-laki, saya akan menyuruh teman saya itu menunggu di depan gang. Hahaha.

Setelah saya lulus kuliah, keadaan berbalik. Ibu yang dulu melarang saya pacaran, sekarang menjadi yang paling heboh kalau teman laki-laki saya ada yang jemput ke rumah. Pertanyaan-pertanyaan pun membombardir saya.

"Itu siapa? Teman apa pacar?"
"Rumahnya dimana?"
"Teman sekolah? SMP? SMA? Apa kuliah?"
"Kuliahnya dimana?"
"Dia udah punya pacar?"
"Memang kalo pergi berdua sama Mbak nggak dimarahin pacarmya?"
"Main kemana aja tadi? Ngapain aja?"

Saya kadang menjawabnya singkat saja dan lebih banyak bilang, "Nggak tau, Ma." Kalimat pamungkas saya selanjutnya adalah, "Cuma temen, Ma." Sengaja saya tekankan kata "Teman".

Belakangan ibu sering bertanya kenapa tidak ada teman laki-laki yang datang ke rumah padahal di kampus saya selalu maim dengan rombongan yang lebih banyak laki-lakinya ketimbang perempuan. Ya, buat apa juga kalau setiap ada teman laki-laki yang main ke rumah selalu dianggap pacar saya? Nanti kalau saya ngajak orang yang berbeda-beda dikira saya punya banyak pacar. Padahal...

SATU AJA NGGAK ADA!

Meski demikian, saya nggak menyalahkan ibu atas sikapnya yang seperti itu. Saya cuma ingin tidak diinterogasi macam-macam kalau ada teman laki-laki yang datang ke rumah. Ya, sisi lain otak saya juga membenarkan bahwa ibu sangat selektif terhadap teman laki-laki saya. Siapa yang pada akhirnya bisa menularkan sikap positifnya pada saya, bukan malah menjerumuskan saya pada hal-hal yang negatif.

Nggak apa, sungguh saya bersyukur jika demikian. Cuma dalam benak saya, ibu masih terlalu kepo dengan urusan yang seharusnya bisa saya handle sendiri. Sikap ibu yang demikian yang pada akhirnya membuat saya enggan bercerita lebih banyak mengenai perasaan saya dan segala kesulitan di pikiran saya.

Besok hari, mungkin, saya baru menyadari kalau apa yang selalu diucapkan ibu adalah hal yang baik untuk saya. Walaupun caranya selalu tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Padahal saya juga ingin bisa lebih terbuka pada ibu. Padahal saya juga ingin ibu seperti ibu-ibu lain yang selow aja kalau ada teman laki-laki anaknya main ke rumah bahkan sampai nginep! Hahahaha. Tapi nggak apa-apa, I know my mom loves me with her own way.

Akhir kata, kalau suatu hari saya mengajak kamu ke rumah, bersikaplah dengan sopan dan berusahalah menyenangkan ibu saya, ya!

Cileungsi, pagi ke-26 Juli.
07:59.

You Might Also Like

2 comments