Meanwhile, This Morning.

July 12, 2019


Kau menyelamiku terlalu dalam, bahkan di saat aku belum siap untuk membukanya sendiri. Waktu-waktu yang demikian terjaga, pola-pola yang kuatur, lalu berubah berantakan. Hari ini, aku berusaha menyusunnya kembali, dengan kata-katamu semalam.


Pagi, dan segala sesuatunya terasa membingungkan. Terbangun dan berpikir bahwa semua itu akan mudah dilakukan, ternyata belum sepenuhnya jadi sugesti di otakku. Mestinya aku mencoba lebih keras lagi, ya? And here I am.

Ingin memulai dengan kalimat sederhana—yang aku anggap picisan, seperti:

Salvador Dali was wrong, he isn't drugs. You are.

tapi tidak jadi. Masih terlalu aneh buatku.

Lantas, aku memulainya dengan mencoba cara lain yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Mengirimimu lirik lagu. Bagiku ini hal baru, sangat baru untuk memulai percakapan. Katanya, hal-hal sederhana semacam ini bisa membawa kita pada pembicaraan yang lebih panjang dan serius.

Aku pikir, dulu, hal-hal semacam in tidak perlu dilakukan. Buat apa? Cuma buang-buang waktu. Namun, pantas saja aku seringkali jadi membosankan dan tidak tahu harus bicara apa. Pun denganmu akhir-akhir ini. Sayangnya, kau masih mau mencari tahu solusi agar aku tidak lagi jadi membosankan dengan siapapun.

Hari keduabelas dan aku tidak ingin ini berjeda. Berusaha sebisa mungkin membangun percakapan ternyata sangat sulit buatku. Selama ini, aku selalu mendapat tempat sebagai si penanya dalam suatu hubungan. Aku terus menggali tanpa pernah diberi ruang untuk menjabarkan apa keinginanku.

Aku senang mendengarkan bahkan ketika denganmu. Kalau kau pernah lihat suatu video animasi dimana seseorang menyerap habis kesedihan/masalah orang lain dan berjalan menemui orang lain untuk mendengarkan masalah-masalah lainnya, mungkin aku seperti itu. Aku selalu sibuk mendengarkan tanpa merasa perlu memperdengarkan masalahku.

Sudah pasti aku salah dalam hal ini. Tidak ada manusia yang tidak pernah berbagi masalah, kan? Sayangnya, aku terlanjur larut di zona semacam ini.

Sama seperti sebelumnya. Aku selalu mendengarkan apa yang orang bicarakan tentang hidupnya, prestasinya, kebahagiaannya, bahkan sampai masalah dan kesedihannya. Namun, aku tidak berniat membagi milikku kepadanya karena ia tidak terlihat sungguh-sungguh ingin mendengar. Dan aku tidak ingin ceritaku hanya dianggap angin lalu. Nggak, aku nggak mau seperti itu. Daripada begitu, aku memilih untuk tidak membaginya sama sekali.

Ini berbeda denganmu yang tiba-tiba saja "memaksaku" untuk bercerita banyak hal. Mendengarku dengan sungguh-sungguh. Tidak tahu kenapa, tapi aku merasa tidak apa-apa membaginya denganmu. Merasa tidak akan dihakimi, merasa akan baik-baik saja. Meskipun, sisi gelap di sekitarku masih membayangi. I'm swear. Ini bukan cuma kiasan.

"Tell me your interest," adalah satu kalimat yang membuatku takut. Jujur saja, ketika membicarakan kesukaan, aku selalu berpikir bagaimana kalau kita ternyata berbeda jauh dalam hal kesukaan? Apakah suatu hubungan akan tetap berjalan? Apakah nantinya kau akan tetap memaklumi dan berusaha memahami hal itu? Sorry, I'm being overthinking again.

Pada akhirnya aku berusaha kembali untuk menghargai pertanyaanmu—atau permintaanmu—untuk memberitahukan kesukaanku. We're tottally different in music taste, aren't we? But, you said that it's okay. Seketika itu ketakutanku memudar, sedikit.

Kau ingat waktu kita bahas soal zodiak? Kau dan aku amat bertolak belakang. Banyak perbedaan, banyak sekali. Tapi, artikel-artikel zodiak itu bilang kalau kau dan aku bisa berkolaborasi dengan baik. Hahaha kadang ini lucu buatku, aku jarang sekali peduli pada hal-hal yang berkaitan dengan zodiak.

Dari sana kemudian aku mencoba paham, ada hal-hal diluar kebiasaanku yang bisa aku pelajari. Bahkan ketika kau memberitahuku sesuatu yang aku anggap tidak harus dibagikan pada orang yang baru dikenal, kau dengan santai membaginya padaku. Entah saat itu aku menilainya seperti apa. But, it is shows who you really are, right?

Banyak hal yang mungkin masih aku tahan di dalam pikiran karena tidak tahu bagaimana caranya untuk bicara. Lagi-lagi ketakutan yang sama, tapi aku akan terus mencobanya. Hari ini, esok, dan seterusnya. Semoga tidak hanya di awal saja. Semoga kau tidak bosan mengajakku bicara.

Last but not least, I take a chance for being a reason to make you stay. Terima kasih banyak. Jangan bosan, ya.

Cileungsi, pagi ini.

P.S. I miss your laugh, anyway.

You Might Also Like

1 comments