Dibayari atau Membayari?

May 10, 2019


Ketika pergi bersama teman atau saudara, siapa yang lebih sering membayar tagihan? Kamu atau teman/saudaramu?


Jawaban dari setiap orang tentu berbeda. Banyak faktornya, termasuk soal kondisi keuangan, jenis kelamin, dan segi usia—yang satu ini merupakan pengalaman pribadi karena biasanya yang lebih tua akan sering membayar tagihan ketika pergi bersama.

Saya akan memulainya dengan beberapa cerita dalam hal membayar tagihan ini, mostly soal makanan, ya.

Cerita #1
Suatu hari, saya pergi bersama seorang teman lelaki. Kami dekat, tapi bukan dengan hubungan romantis pada umumnya. Kami memesan makanan yang berbeda di suatu kedai. Setelah selesai makan, teman lelaki saya langsung beranjak mendekati penjual dan memberikan selembar uang yang cukup untuk membayar tagihan makan kami berdua.

Melihat hal tersebut, saya pikir ia akan menalangi uang makan kami dulu, baru kemudian saya membayar kepadanya. Sebab biasanya supaya tidak rjbet saja. Dengan santai saya menyerahkan uang makan kepadanya.

"Nggak usah," katanya. Saya mengernyitkan dahi. Kenapa? Dia bilang ingin membayari sesekali.
*

Cerita #2
Saya dan teman lelaki lainnya janjian untuk makan dan nonton film di bioskop. Saat itu, teman saya belum membawa uang cash. Maka, saya sengaja membayar tiket bioskopnya tanpa ada pikiran untuk meminta ganti padanya. Saya pikir tidak masalah kalau membayarinya tiket bioskop sekali itu saja.

Selepas nonton, ia mengembalikan uang tiket nonton kepada saya. Bukan lagi 50:50, melainkan dana utuh yang secara tidak langsung saya jadi dibayari olehnya. Pun saat makan malam, ia memilih untuk membayar tagihan makan dengan uangnya.
*

Cerita #3
Ketika janji ketemuan dengan sahabat laki-laki, kami tidak pernah saling sungkan. Apa yang kami makan, ya tagihannya dibagi dua. Kami saling membayari hanya pada momen-momen tertentu saja. Kalau dia ingin mentraktir saya, dia akan bilang. Begitupun sebaliknya. Tapi dia tidak pernah secara sukarela membayari tagihan ketika kami bertemu. Hahaha.
*

Cerita #4
Suatu ketika saya dan salah satu teman perempuan sedang makan siang di kedai makan dekat kampus. Kami tentu saja memilih untuk membayar masing-masing. Namun ketika saya tau ia sedang belum dapat kiriman dari orangtuanya, saya tidak segan membayari makanannya. Baik ia ganti atau tidak, itu nggak masalah. Toh, saya masih ada uang sisa. Mentraktir makan teman sekali-kali bukan hal yang berat.

Dan itu berlangsung beberapa kali. Meski demikian ia juga tak segan untuk mentraktir saya di lain waktu jika ia sedang banyak uang. Hahaha. 
*

Cerita #5
Ini mungkin anomali dari 3 cerita di atas. Kalau laki-laki di cerita sebelumnya lebih memilih membayari, nah kalau yang ini lebih suka minta dibayari. Ya, tidak setiap hari sih, tapi seringkali demikian.

Misalnya, ketika saya mengajak salah satu teman lelaki untuk makan, pasti ia akan menjawab, "Bayarin, ya?" Jika saya sedang pegang uang lebih, tentu akan saya iyakan. Namun jika tidak, dia akan berhutang dulu. Sama saja, kan? Hahaha.
*

Cerita #6
Pergi bersama orang yang lebih tua dari usia kita tentunya menjadi peluang yang bagus. Misalnya pergi dengan orangtua, kakak, ataupun saudara yang lebih tua. Tagihan makan ataupun printilam yang kita beli pasti dibayari. Gampangnya, orang yang lebih tua biasanya punya rasa tanggung jawab kepada yang lebih muda.

Hal ini terjadi ketika saya pergi bersama adik. Seringnya ia tidak mengeluarkan uang sama sekali, dan sudah bisa dipastikan siapa yang akan membayar semua tagihan, kan? Begitupun ketika saya pergi bersama saudara yang lebih tua, seperti om, bibi, kakak sepupu, dan lainnya. Meski saya punya uang sendiri, mereka tetap membiarkan diri mereka membayari segala tagihan. Kecuali, saya bertindak sebagai tuan rumah. Bukankah tuan rumah harus menjamu tamunya?

Tapi lain hal kalau sudah di luar. Keadaan seperti ini biasanya nggak lantas jadi mutlak. Bisa aku yang dibayari, bisa fifty-fifty alias patungan, atau bisa juga mereka yang membayari.
___

Kesimpulan cerita pertama sampai ketiga di atas sebenarnya adalah sebuah pertanyaan bagi saya. Kenapa mayoritas laki-laki selalu ingin membayari semua tagihan ketika sedang bersama perempuan? Padahal belum tentu si perempuan mau dibayari.

Jujur saja, saya tidak menolak dibayari, tapi ketika saya benar-benar ingin membayar tagihan itu sendiri dan mereka memaksa untuk membayarnya dengan uang mereka, seringkali saya malah merasa telah sangat merepotkan. Toh, kalau saya sedang benar-benar dalam krisis ekonomi, saya akan bilang secara jujur atau meminta untuk dibayari dulu dan menggantinya di lain waktu.

Sedangkan untuk cerita keempat, sebagai sesama perempuan, kami lebih prefer untuk membalas budi. "Dia pernah bayarin saya, maka suatu saat saya juga mau bayarin dia." Sederhanannya begitu.

Untuk cerita kelima.... itu hanya akan terjadi kalau mereka benar-benar tak punya duit buat beli makan sendiri. Kemudian cerita keenam sangat bergantung pada situasinya.

Tapi ini hanya pengalaman pribadi, ya. Bukan secara umum meskipun pasti ada kemungkinan hal ini terjadi di banyak orang. Perihal dibayari atau membayari ini kadang jadi rumit buat saya. Saat saya sedang nggak punya uang banget, teman main nggak ada yang peka dan berinisiatif untuk ntraktir. Sedangkan saat saya mampu membayar sendiri, mereka keukeuh akan membayari. Kadang di sini saya merasa tidak enak hati dan serba salah serta merasa punya hutang. Meskipun dibayari oleh orang lain itu sangat enak.

Jadi, apa ceritamu?


Cileungsi, 8 Mei 2019.
01:01

You Might Also Like

6 comments

  1. cerita 1-3, kupernah ngebahas ini ama Dike dan Eci di Twitter. Biasanya tergantung pengalaman dan tujuan saat itu, sih, makanya lelaki mau membayari. Seperti aku yg punya pengalaman makan bareng ama lawan jenis terus bayar sama2, eh di hari2 berikutnya beberapa kali disindir "nggak peka, lambat, lemot, masa ngebiarin cewe ngebayar" ya kan jadinya tertohok yak... makanya biar simple sekalian aja ngebayarin. Kan nggak enak juga nanyain, "kamu type perempuan yg dibayarin atau yang bayar sendiri2." udh jelas bakal dijawab bayar sendiri walopun semua org suka dibayari. akibatnya, klo tujuannya PDKT, jadilah pertanyaan itu penghalang besar dan malah orgnya gak mau makan bareng lagi.

    dan banyak pengalaman dna pertimbangan lainnya tergantung lelakinya masing2. intinya, nggak mau ribet dan disindir ke depannya. ama buat naikin nilai diri klo tujuannya PDKT. semacam itu.

    tapi kalo tau orangnya, udah temen, tau keadaan sesama sobat misqueen, ya, nggak bakal sungkan nagih buat bayar maisng2. ahahahaha...

    btw, kalo lagi bokek dan diajak makan bareng, atau terlanjur udah makan bareng, bilang langsung lagi bokek nggak masalah sih, ya. aku beberapa kali begitu soalnya. entar kalo ada, ya diganti. dan nggak masalah. tergantung temen yg makan bareng kali ya...

    ini kan makan bareng biar senang gitu ya ada yang nemenin, ini kenapa jadi berujung gaenak perkara bayar membayarnya.... tau ah, mau beli treuk aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoalah jadi karena suka disindir ga peka makanya memilih untuk membayari yaa? Wkwk. Mungkin itu emang trik untuk pdkt yang baik kali ya hahaha. Soalnya nanti dikiranya ga modal ngajakin anak orang jalan atau makan eh bayar sendiri2. Wkwk.

      Delete
    2. kalau dibayarin karena emang niat bayarin, ya udah gue mau aja dibayarin. tapi kalau kayak kasusnya haw, enggak banget deh. dan berkaca dari kasusnya haw, kayaknya gue juga mikir-mikir lagi kalau ke depannya ada lawan jenis bilang mau bayarin haha.

      kalau gue sih selama ini kalau sama temen selalu tergantung kesepakatan. ada yang patungan pas mau bayar, ada yang satu orang yang bayarin, ada yang gantian bayarnya. kalau sama pasangan juga gantian. misal pas sarapan gue yang bayar, pas makan siangnya gantian. wkwk.

      Delete
    3. Nah kayaknya kalo mau aman sih apa apa emang harus diomongin ya perihal bayar membayar ini. Supaya gak ada tuh kejadian kayak yang Haw bilang.

      Kesian juga misal cowo ga bayarin malah dianggap ga peka. Wkwk

      Delete
  2. Replies
    1. Hei, terima kasih. Nanti aku kunjungi balik yaa :)

      Delete