[Book Review] Catatan Orang Gila by Han Gagas

May 11, 2019


Judul: Catatan Orang Gila | Pengarang: Han Gagas | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit: Cetakan pertama, Oktober 2014  |Tebal Buku: 184 hlm. | ISBN: 978-602-03-0904-0


Sebuah kumpulan cerpen memang paling asik dibaca sekali duduk. Atau paling tidak, kamu nggak perlu penasaran dengan cerita kelanjutannya jika tidak menyelesaikannya dalam sekali duduk. Sebuah kumpulan cerpen memang kadang tidak punya keterikatan satu sama lain. Yang ada hanya tema yang menampungnya dalam satu wadah.

Catatan Orang Gila, sebuah buku kumpulan cerpen yang saya beli—dan mungkin wajib kamu beli juga bila menyukai genrenya—karena melihat seorang teman membelinya. Penulisnya, Han Gagas, jujur saja belum pernah saya ketahui keberadaannya bahkan karya-karyanya. Jadi, ini karya pertamanya yang saya baca.

Sebagai buku kumpulan cerpen, Catatan Orang Gila memiliki 17 cerita pendek di dalamnya dan semua cerita pendek itu pernah diterbitkan di media nasional Indonesia. Mungkin sebagian dari kalian pernah juga membacanya. Sebagai permulaan, sebelum membaca cerita pertamanya, kamu akan lebih dulu tertohok dengan kalimat persembahannya.

Dunia waras orang-orang gila
Dunia gila orang-orang waras

Untuk yang suka dengan genre psikologi, tapi nggak suka yang terlalu banyak mikir, Catatan Orang Gila adalah pilihan yang pas. Sebab, kamu akan disuguhi cerita-cerita dari sudut pandang orang yang dianggap "gila".

Jujur saja, berawal dari kalimat terakhir persembahannya, cerita-cerita di dalamnya jadi sangat mengubah pola pikir. Bisa jadi kamu akan bergumam, "Ini dia yang gila atau gue yang mulai kurang waras, ya?" Sedetik kemudian kamu bingung apakah yang kamu baca itu fiksi atau kenyataan.

Pola pikirmu tidak akan berubah sampai di sana. Cerita-cerita yang dituturkan bisa jadi memberimu pandangan lain mengenai orang gila. Saya ingat sekali, dulu ada tetangga saya yang dianggap kurang waras dan selalu diolok-olok oleh anak lelaki, sedangkan anak perempuan selalu berlari menjauh ketika ia mendekat.

Kini pemahaman itu berubah seiring waktu, bahwa orang gila bukan untuk dicemooh atau dihindari, melainkan diperlakukan layaknya manusia biasa. Sebab, penyakit mental di tubuhnya bukan keinginannya, kan? Lalu, mengapa kadang kita yang mengaku waras seringkali merasa lebih baik dari mereka yang dianggap gila?

Ya, mungkin sayapun tidak serta merta berani mendekati orang gila di jalanan, tapi bukan berarti harus mengolok-olok dan membuatnya semakin tersudut dan terkucilkan, kan?

Selain genrenya yang menjadi favorit, saya menyukai buku ini dari segi gambar sampul yang sederhana. Entah kenapa, sejak awal pun sampulnya sudah menarik rasa penasaran saya.

Cerita Orang Gila - Kisah dari Bangsal Rumah Sakit Jiwa... Recommended!

Rate: 4/5

You Might Also Like

0 comments