Yang Datang, Lalu Hilang

March 31, 2019



Apa kamu pernah bertukar pesan dengan seseorang yang belum pernah kamu temui? Apa kamu pernah didatangi orang baru yang menyelami hidupmu, lalu ia pergi? Apa kamu pernah merasa ada yang hilang saat seseorang pergi?


Aku pernah.
__

Kata-katanya adalah remah terakhir yang kulahap bersama detik waktu yang bergerak menghabisi hari. Pura-pura tak peduli, ternyata sebuah kesalahan.

Aku tak pernah membatasi diri pada siapapun, termasuk orang baru. Ada satu orang yang hadir tiba-tiba dalam kolom sebuah pesan. Ia bilang, ia menemukan blog pribadiku tanpa sengaja. Membaca benerapa tulisan dan mungkin berakhir di tulisan ketika aku mengulang tahun.

Ia bukan orang yang kukenal, tapi ketika kutahu ia membaca blogku, tentu ada rasa terima kasih untuknya. Sebab, aku tidak pernah berharap banyak ada yang mau membaca sebagian isi pikiranku yang tidak penting.

Lalu ia banyak bertanya mengenai aku. Hal-hal seputar tulisan, relawan di salah satu event, sampai pada akhirnya menuju hal pribadi. Kutanggapi dengan santai dan seadanya.

Remah-remah itu seharusnya sudah habis, tapi ternyata aku sengaja menyisakannya. Ia mengirim pesan hampir setiap hari. Bertanya apapun yang ia suka, dan aku tetap menjawabnya. Demi rasa sopan.

Aku tak keberatan menjawab apapun yang ia tanyakan. Hanya saja, pikiranku berkali-kali bertanya: untuk apa?

Ada hal-hal yang tak kumengerti dalam beberapa pesan yang ia kirimkan: "Nanti kalo kita ketemu"  atau "Ibumu dimana?" atau "Nanti saya ngobrol dulu sama bapakmu." Ragu-ragu, aku bertanya apa maksudnya dengan itu? Ia cuma menjawab, "Bukan apa-apa." Meski masih penasaran, aku melewatkannya begitu saja.

Pesan-pesannya masih sering masuk di kolom pesan media sosial. Pernah suatu hari ia bertanya nomor Whatsappku, tapi tak pernah kuberi. Alasanku tentu saja karena kami baru saja kenal.

Dulu pun ada beberapa orang yang sempat meminta nomor ponselku tanpa pernah aku temui. Hari-hari pertama berpindah tempat di Whatsapp terlihat menyenangkan, tapi lama-lama hanya jadi saling lihat WA status. Terlalu lucu untuk diingat. Dan aku tak ingin menambah daftar orang hanya untuk kegiatan semacam itu. Aku punya alasanku sendiri.

Suatu siang, ketika kami masih bertukar pesan. Ia meminta tolong untuk mengirimkannya sebuah buku sebagai hadiah seseorang yang berulang tahun di tanggal 1 April. Ia tahu aku menjual buku. Kuterima tawarannya dan memilihkan sebuah buku yang bisa dibaca laki-laki.

Selama buku itu dikirim, kami masih sering bertukar pesan. Ada satu hari jeda saat kami tidak melakukannya. Aku pikir, untuk apa kami setiap hari bertukar pesan? Toh kami hanya dua orang yang baru kenal. Aku juga tak ingin terlalu sering bercakap dengannya karena takut nanti merasa ada yang hilang jika tidak melakukan hal itu lagi.
---

Sabtu siang ia datang lagi ke kolom pesan kami. Ia bilang kalau bukunya sudah sampai, lalu berpamitan. Kupikir kata-katanya waktu itu hanya bercanda. Ia memang pernah bilang, "Nanti saya hentiin (red—chatnya) kalau bukunya udah sampai."

Ternyata ia benar-benar melakukannya. Ia tutup akun media sosialnya dan mengucapkan selamat ulang tahun untukku,  padahal aku belum ulang tahun. Lalu ia cuma menjawab, "Biarkan saya jadi orang yang pertama."

Saat ini akunnya sudah tidak bisa kutemukan lagi. Hanya sisa kolom pesan kami yang masih ada. Ia datang, lalu hilang. Jadi, cuma begitu, hei estehgulamanis?

Cileungsi, akhir Maret 2019. 1:15

P.S. Kamu masih hutang penjelasan ke saya kenapa April yang jadi bulan spesial kamu itu membuat saya masuk ke daftar tiga perempuan yang kamu ingat setelah ibu dan ponakan perempuanmu. Padahal saya yakin ada banyak orang yang kamu kenal lahir di bulan April.

You Might Also Like

2 comments