A Deep Talk on Saturday Night

January 25, 2019

Ilustrasi. Photo by me.

Malam minggu biasanya saya habiskan di rumah saja tanpa agenda apapun. Ya biasanya memang cuma nonton tv, gogoleran, main hape atau paling banter nonton film di laptop. Tapi, malam minggu terakhir di 2018 kemarin saya habiskan di sebuah mall dengan salah seorang sahabat. Yap, saya pergi bertemu Adit.

Kalau yang belum tau dan mungkin mau tau, saya sudah kenal dan temenan sama Adit ini sejak hampir 12 tahun lalu. Dan bagusnya kami masih keep in touch sampai sekarang. Meski lebih sering ngobrol via Whatsapp, tapi kami juga sesekali mengagendakan diri untuk bertemu dan ngobrol ngalor ngidul.

Sama seperti malam itu, kami bertemu tanpa agenda apa-apa. Intinya ketemu dan mau ngobrol-ngobrol aja. Untungnya dia menawarkan makanan gratis untuk malam itu alias saya ditraktir. Asik bukan? Hahaha.

Sama seperti kebanyakan malam minggu, mall biasanya dipadati oleh orang-orang yang juga menghabiskan akhir pekan. Itu sebabnya ketika kami masuk ke restoran sushi, kami hanya mendapat tempat di smoking area alih-alih di dalam. Tidak masalah sebenarnya, mengingat Adit bukan seorang perokok aktif.

Setelah memesan, kami kemudian bernostalgia membahas masa-masa di waktu lalu yang lebih banyak kami tertawakan saat itu. Topik obrolan kami pada akhirnya merujuk pada "Siapa teman SMP kita yang udah nikah?"

Ya, ada beberapa teman yang sudah menikah, namun banyak juga yang lebih memilih berkarir terlebih dahulu. Termasuk Adit. Ia bilang akan menikah 3-4 tahun dari sekarang ketika saya tanya perihal kapan ia mau menikah.

"Lu pernah kepikiran nggak sih apa yang lu pengenin ketika mau menikah dan sudah menikah?"

"Hm, apa ya? Nikah itu butuh persiapan sih... Soal anak, soal ngurus rumah tangga..." jawab saya nggak nyambung.

"Kalo gua nih ya. Misal gua sama lu, gua pasti mau lu itu sejahtera. Gua nggak cuma tanggung jawab sama keluarga baru gua, tapi juga sama keluarga gua, ortu dan lainnya. Makanya nikah tuh nggak asal nikah." Saya cuma manggut-manggut menyimak jawabannya. "Nah, lo belom jawab pertanyaan gua, We."

Saya mingkem. Lalu mikir. Meski sama sahabat sendiri, kadang saya nggak pintar mengutarakan pendapat. "Mungkin gue mau tetep kerja. Minimal punya penghasilan sendiri lah. Jadi nggak harus nunggu uang dari suami."

Tiga sampai empat tahun dari sekarang ya? Mungkin itu memang waktu ideal untuk saya menikah mengingat keadaan finansial saya saat ini masih terbilang miris. Jangankan memikirkan pernikahan yang resepsinya butuh biaya banyak, memikirkan diri sendiri saja saya masih sulit. Setuju dengan perkataan Adit, bahwa menikah itu nggak pernah mudah.

Bagi saya, menikah nggak cuma soal nyadong (menengadahkan tangan/meminta) duit sama suami, tapi bagaimana caranya saya bisa me-manage uang itu—dan uang bersama kalau ada—untuk kehidupan berumah tangga. Bagi Adit, menikah itu artinya ia harus memiliki tanggung jawab lebih selain keluarganya sekarang.

Sambil menyantap sushi dan berpikir soal masa depan yang masih jadi misteri, akhirnya obrolan kami mengalir pada satu titik baru hang saya minati: investasi. Kebetulan Adit sudah mulai menabung saham. Saya pun tertarik, tapi belum bisa memulai sebab dananya masih minim. Hehehe.

Saya tidak begitu paham mengenai investasi saham. Membaca pun rasanya tidak paham-paham juga. Akhirnya malam itu Adit bersedia menjelaskan secara sederhana agar saya mengerti alur investasinya. Ternyata menarik juga. Pertama-tama kamu harus membuka rekening saham. Ia lalu memberikan saya info mengenai sekolah pasar modal yang bisa saya ikuti sekaligus untuk membuka rekening saham baru.

Setelah rekening dibuka, kamu bisa membeli saham setelah mengisi saldo uang. Nah belinya ini ternyata nggak bisa satuan, harus 1 lot alias 100 lembar saham. Sejauh ini menarik karena saham memberikan keuntungan yang cukup lumayan untuk tabungan jangka panjang. Tapi ya resiko kerugiannya juga bisa cukup besar. Saham tidak berbeda jauh dengan berbisnis, dimana keuntungannya bisa sangat besar, begitupun dengan kerugiannya. Maka dari itu harus memperhatikan naik-turun saham di bursa efek.

Saya semakin tertarik, tapi belum paham bagaimana cara mengelolanya. Lalu Adit pun memperlihatkan rekeningnya pada saya. Hm, semakin menarik. Jujur saja, saya bukan tipe orang yang paham ekonomi dan bisnis. Makanya punya teman yang paham beginian tuh seneng banget. Bisa ditanya-tanya dan nggak pelit buat menjelaskan.

Obrolan malam itu tentunya berkesan buat saya. Sebab, saya jadi punya ilmu baru meski belum paham betul. Setidaknya saya ngerti dikit-dikit. Nanti kalau ada apa-apa ya bisa cari di google atau tanya-tanya lagi. Semoga rezeki selalu lancar deh buat kami. Soalnya mau investasi tapi belum punya dana itu bikin sedih. Huhu.

Jadi, siapa yang sudah paham investasi saham? Ajarin saya dong. Hehehe

Kamar, 2019.

You Might Also Like

2 comments

  1. Belum mendalami, baru paham dasarnya doang.

    ReplyDelete
  2. Coba tonton film The Wolf of Wall Street, Wi. Tapi ada beberapa adegan nganu, sih. Saya pernah memainkan game-nya yang kayak monopoli. Bedanya kan monopoli itu beli tanah di sebuah negara, lalu bangun rumah dan hotel. Ini yang dibeli saham gitu. Uangnya kagak nyata. Perlu dicairkan dulu, tapi ada beberapa kondisi atau syarat gitulah. Kayaknya kalau main saham harus pinter-pinter ambil risiko. Butuh intuisi yang jitu. Tahu kapan harus jual, kapan harus beli.

    ReplyDelete