A HALF NOVEMBER

November 14, 2018



Selalu ada yang terjadi di luar ekspektasi. Termasuk di bulan November ini.


November yang sudah berjalan setengahnya dan membuatku merasa tidak melakukan hal-hal berarti selain mengurus blog ini—yang lebih banyak kuabaikan daripada aku isi. Terlihat dari jumlah tulisan yang hanya 2 postingan selama 2 minggu. Itupun ditolong dengan tulisan untuk blogtour yang bersifat kewajiban dan satu tulisan hasil #NulisKamisan yang juga menjadi kewajiban.

Aku merasa tidak lagi bisa konsisten dan disiplin dengan diriku sendiri. Apa yang ada di kepala rasanya cuma jadi sesuatu yang menggebu di satu waktu, kemudian hilang keesokan harinya.

November diawali dengan momen ulang tahun sahabat laki-laki yang sudah lama tidak bertemu. Setelah terakhir kali menelepon di bulan Oktober lalu, kami memang tidak begitu banyak bicara melalui chat. Hanya hal-hal penting saja karena dia punya kesibukan, tidak sepertiku yang tidak punya kesibukan tapi terus berusaha menyibukkan diri.

Momen-momen di November yang juga menyita pikiran adalah tes CPNS. Hal ini merupakan salah satu yang membuatku punya motivasi lagi untuk belajar, terutama soal hitung menghitung angka yang sudah lama aku tinggalkan. Dan rasanya masih sama, adrenalin terpacu ketika menemukan soal yang dianggap mudah, tapi tak tahu cara menjawabnya. Ya, ternyata rasanya masih sama kayak dulu sewaktu aku begitu mencintai matematika dan kimia.

Aku ingin berkali-kali menghela napas panjang jika itu bisa membuang berbagai macam pikiran buruk. Ada sangat banyak ketidaksesuaian di pikiranku yang dikatakan oleh orang-orang.

Waktu itu ketika aku bilang tidak lolos dalam tes SKD CPNS, mereka menganggapnya sepele dan mengatakan hal yang membuatku hilang respek. "Paling yang diterima orang dalem dan pake duit." Sebelumnya ketika aku bilang sedang menunggu tes CPNS pun mereka malah bertanya, "Pake duit nggak?"

Oh, please...

Aku tahu kalau stigma semacam itu selalu ada di masyarakat, tapi kenapa orang-orang selalu percaya bahwa semua hal bisa diraih dengan uang "pelicin"? Kadang aku ingin muruskan pemikiran-pemikiran semacam itu, tapi siapalah aku ini. Cuma beban negara.

Aku paham praktik KKN semacam itu pasti ada, tapi tidak bisakah orang-orang itu berpikir untik tidak mewajarkan hal tersebut? Heran aja, setiap ada kaitannya sama pemerintahan pasti mereka selalu bilang, "Ah, paling pake duit atau ada orang dalem." Persetan. Aku nggak ingin ada di lingkaran setan semacam itu. Sejak dulu aku selalu ingin membuktikan kalau aku bisa meraih apa yang aku dengan usaha murni.

Herannya kenapa orang mudah sekali terjebak dalam lingkaran setan semacam itu sih? Sungguh ketika aku sempat ditawari untuk bekerja tapi harus membayar terlebih dahulu, aku merasa ingin menangis. Bukan karena tidak sanggup membayar, tapi hal itu sungguh bertentangan dengan nurani yang sebenarnya. Saya selalu merasa ada yang salah dengan itu semua.

November kali ini... entah saya harus bagaimana lagi menghadapinya.


Kamar,
November 2018.

You Might Also Like

0 comments