[Book Review] Rooftop Buddies by Honey Dee

October 17, 2018



Judul: Rooftop Buddies | Pengarang: Honey Dee | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun Terbit: Agustus 2018 | Tebal Buku: 264 hlm. | ISBN: 978-602-038-819-9


BLURB

Buat Rie, mengidap kanker itu kutukan. Daripada berjuang menahan sakitnya proses pengobatan, dia mempertimbangkan pilihan lain. Karena toh kalau akhirnya akan mati, kenapa harus menunggu lama?

Saat memutuskan untuk melompat dari atap gedung apartemen, tiba-tiba ada cowok ganteng berseru dan menghentikan langkah Rie di tepian. Rie mengira cowok itu, Bree, ingin berlagak pahlawan dengan menghalangi niatnya, tapi ternyata dia punya niat yang sama dengan Rie di atap itu. 

Mereka pun sepakat untuk melakukannya bersama-sama. Jika masuk ke dunia kematian berdua, mungkin semua jadi terasa lebih baik. Tetapi, sebelum itu, mereka setuju membantu menyelesaikan “utang” satu sama lain, melihat kegelapan hidup masing-masing… Namun, saat Rie mulai mempertanyakan keinginannya untuk mati, Bree malah kehilangan satu-satunya harapan hidup.
---

Apa yang akan kamu lakukan ketika di usia ke-17 kamu malah mengidap kanker dan divonis tidak akan hidup lebih lama lagi? Apakah kamu akan punya niat mengakhiri hidupmu seperti yang dilakukan Rie?

Rooftop Buddies. Judul yang unik ketika mengetahui bahwa ini kisah dua orang yang ingin mengakhiri hidupnya dengan terjun dari lantai atas apartemen. Saya kira Rooftop Buddies akan bercerita tentang orang-orang yang gemar menyendiri di atap gedung. Hehehe. Penyebutan Rooftop Buddies bermula ketika Rie berniat menjatuhkan diri dari atap gedung, tetapi niatnya terhalang karena melihat sosok lain yang juga ingin bunuh diri di tempat yang sama dengannya.

Alih-alih terjun masing-masing, ia dan lelaki itu—namanya Bree—malah mengobrol dan saling membuat janji untuk mati bersama. Dengan niat yang saya pikir sangat konyol, mereka menamakan diri mereka "Rooftpp Buddies" setelah sebelumnya sempat memikirkan nama "Suicides Buddies" sesuai dengan tujuan mereka berada di sana.

Rie (17) merasa tidak masalah kalau harus mati saat itu juga. Toh ia akan mati nanti karena kanker. Lebih cepat lebih baik, pikirnya. Sedangkan Bree (23) memiliki permasalahan rumit yang masih jadi misteri di awal buku ini. Sebelum mati, mereka berdua berjanji untuk tidak saling mendahului alias nggak boleh ada yang mati duluan. Pokoknya bareng! Nah, sebelum bunuh diri inilah Rie punya 10 wishlist yang ingin ia capai. Di posisi ini, Bree ternyata dengan sukarela—karena sudah terlanjur janji juga—mau membantu Rie mewujudkan keinginan-sebelum-mati-miliknya itu.

"Bunuh diri itu perbuatan menyakiti diri sendiri. Tuhan melarang itu. Agama pun pasti melarang itu. Banyak sekali roh yang tidak bisa lahir ke dunia, Mbak. Nah, kenapa orang yang diberi hidup malah minta mati? Padahal saat mati kita ditanya Tuhan untuk apa kehidupan hang sudah diberikan pada kita." (Hlm. 194)


Kasus bullying yang kental

Pesan utama dalam buku ini mungkin digambarkan dari kasus bullying yang dialami oleh Rie semasa SMP. Rie bukan orang yang sama lagi ketika berada di SMA. Sejak SMP, ia dibully oleh suatu geng di sekolahnya karena penampilan fisik yang buruk. Dengan tekad yang kuat akhirnya Rie melanjutkan SMA di Jakarta dan memilkki penampilan fisik yang berbeda dengan di SMP.

Salah satu anggota geng tersebut, Kiran, digambarkan telah menjadi seorang ibu—MBA, btw—dan tampak menyesal ketika tidak sengaja bertemu dengan Rie yang sengaja ingin datang ke sekolah lamanya demi misi balas dendam. Sedangkan anggota geng lainnya masih tetap eksis di sekolahnya dan tetap menganggap Rie adalah seorang pecundang. Nyatanya Rie belum bisa membalas apa yang mereka perbuat. Dan disinilah Bree membantunya.

"Mungkin apa yang terjadi sama aku ini karena aku dulu nyakitin kamu. Aku sadar. Bahkan Lisa, Vina, Wien pada ninggalin aku. Pengkhianat! Cuma nempel pas aku tenar. Begitu aku bunting mereka jenguk pun enggak. Ketemu aja melengos."
"Karena dengan cara seperti irulah kalian berteman. Temanmu adalah siapa dirimu." (Hlm. 56)

Bully memang sangat menjatuhkan mental, ya? Terlihat walaupun Rie punya penampilan yang jauh berbeda dari sebelumnya, ia tetap belum punya power untuk beradu argumen dengan geng tersebut. Entah karena trauma atau memang power dari geng tersebut lebih kuat daripada dirinya sendiri.
***

Selama membaca Rooftop Buddies, saya bisa menikmatinya. Meskipun ada banyak yang ingin saya tau, tapi tidak ada di buku ini. Ya, soal penyakit kanker Rie yang dijelaskan sangat sedikit, serta Rumah Kanker yang akhirnya menampung Rie di sana. Penggambaran soal rumah kanker ini jujur saja kurang dalam dan cuma ada di beberapa bab terakhir.

Soal Bree, dia salah satu karakter favorit saya. Tapi saya menyayangkan keinginan bunuh dirinya yang hanya dilandasi oleh patah-hati-karena-pacarnya-nikah-sama-bapaknya. Ya, meskipun di sini bisa dibilang dia mendukung ibunya yang disakiti sama bapaknya, tapi seharusnya pemikirannya bisa lebih jauh daripada yang saya kira. Dia laki-laki mandiri yang seharusnya bisa membawa ibunya punya kehidupan lebih baik. Soal perempuan? Cari lagi dong. Kamu keren dan kece dan punya kerjaan mapan. Kenapa soal cewek aja bisa sampai mau bunuh diri, sih? Hm.

Ini dia penampakan Bree, karakter favorit saya :)



"Aku selalu membayangkan tetesan air hujan di jendela itu sedang berlomba. ada yang berhenti dan ada yang terus meluncur sampai ke bawah."
"Kenapa harus berlomba?"
"Untuk mencapai tanah, lalu berubah lagi menjadi hujan baru."
"Bagaimana yang nggak ikut perlombaan? Yang hanya berhenti menjad tetes air di kaca?"
"Dia menyerah. Dia nggak jadi apa-apa. Dia nggak akan berubah jadi hujan baru. Dia akan terus menempel di maca sampai kering dan terlupakan." (Hlm. 186)

Genre Young Adult pada novel ini seharusnya bisa lebih membawa energi positif bagi pembaca. Memang sih, endingnya cukup membahagiakan dan predictable, tapi saya masih kurang sreg dengan penyelesaiannya yang begitu saja. Rie dan Bree nggak jadi mati dan hidup menjadi pasangan yang saya pikir agak kurang cocok. Hehehe. I'm sorry. Mereka memang lebih cocok jadi sahabat atau kakak-adek-ketemu-gede daripada jadi pasangan. Chemistry-nya lebih dapet disitu.

Overall, saya suka bahasanya yang ringan. Beberapa plot terasa menghibur karena ada humor-humor khas anak muda atau adegan-adegan sederhana yang bikin hati jadi hangat. Hahaha.

RATE: 3/5

Cileungsi, 17 Oktober 2018.

You Might Also Like

0 comments