[Nulis Kamisan] S04E02: GALAU

October 11, 2018



PECAH
Ada sesuatu di pikiranmu yang membuncah
---

Bernapas...


Kenapa manusia harus bernapas dengan udara? Kenapa tidak dengan air? Aku suka air. Aku ingin bisa bernapas di dalam air. Aku suka kedalaman. Dan aku suka menyendiri di kedalaman. Tekanan air mulai menghimpit dadaku, padahal pikiranku sedang jernih-jernihnya seperti air. Aku terpaksa mendorong tubuhku ke permukaan demi menghirup udara lebih banyak, kemudian kembali ke dasar. Menyendiri di kedalaman, lagi.

Berada di kedalaman membuatku nyaman. Aku hanya mendengar dengung-dengung tidak jelas serta bunyi gemeletuk air yang dihasilkan dari gelembung-gelembung udara yang keluar dari mulutku. Pikiranku tentu saja menjadi hal utama keberadaanku di sini. Di dalam sini, aku tak perlu mendengar suara-suara bising banyak orang berbicara. Sebab, yang kudengarkan hanya pikiranku sendiri.

Aku tidak pernah menghitung berapa lama aku menenggelamkan diri di dalam air. Semakin lama, semakin baik bagiku. Tetapi aku selalu tahu kapan waktunya aku menghirup udara dan harus muncul ke permukaan untuk itu. Padahal, ada banyak ketenangan yang kudapat ketika berada di bawah air, termasuk keinginan untuk memisahkan nyawa dari ragaku sendiri. Namun, hal itu tak pernah terjadi selama aku masih punya kesadaran dan refleks untuk menghirup udara, bukan menelan air banyak-banyak.

Sekali lagi, aku mendorong tubuhku ke permukaan untuk memberi asupan oksigen bagi paru-paruku.

"Are you okay?" seru salah satu temanku ketika melihatku muncul dari dalam air.

"Yeah! Seperti yang lo lihat," jawabku.

"Lima menit, lebih. Gue pikir lo nggak bakalan muncul lagi. Kalo beneran kayak gitu, gue udah siap panggil orang-orang buat nolongin lo," tuturnya lagi. Ia seperti tak terbiasa dengan kebiasaanku "menenggelamkan diri" ketika sedang suntuk.
.
"Nope. Nggak perlu sampai segitunya. Otak gue masih sadar buat napas pake oksigen, bukan pake air." Aku buru-buru menuju meja tempatku menaruh botol minuman dan segera menenggaknya hingga tandas.

Kolam renang perumahan ini memang sepi di hari biasa. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk "menenggelamkan diri". Biasanya aku hanya pergi sendiri, tapi kali ini salah satu teman kuliahku ikut bersamaku. Ia hanya ingin berenang, bukan melakukan ritual sepertiku barusan.
***

Sembuhkan lukamu yang membiru
Serpihan hatimu yang berdebu★

Gerimis turun membasahi bumi di sekitarku. Menyapa lembut rinduku yang tandus sejak beberapa bulan belakangan. Aku sedang berdiri di sebuah halte yang kini ramai oleh kerumunan pegawai yang baru pulang kantor. Ya, aku hapal rutinitas ini sedari dulu. Pergi dan pulang di jam yang sama. Naik angkutan yang sama. Rute yang sama. Orang-orang yang kemungkinan besar juga sama. Wajah-wajah lelah yang sama juga menghiasi sebagian raut mereka.

Pandanganku berpindah-pindah. Dari wajah orang-orang, jalanan yang hujan, jam tanganku, sampai ke layar penunjuk kedatangan bus. Telingaku berdenging. Ada banyak suara yang masuk ke telingaku. Termasuk yang satu itu.

"Ya Allah, tiap hari gue kudu begini? Pergi pagi buta, pulang udah gelap. Remuk badan gue lama-lama." Salah seorang perempuan berucap pada temannya.

"Ya namanya juga cari duit. Banting tulang lah." Teman perempuannya menanggapi.

"Pengen deh gue duduk manis di rumah aja, terus duit ngalir. Apa gue nikah aja ya sama orang tajir?" tanyanya lagi.

"Janganlah, bego. Lu pikir nikah gampang. Kalo udah nikah kan lo nggak bisa duduk manis doang. Pasti lo ngurusin rumah sama anak juga kali," seru temannya lagi.

Aku mencoba memfokuskan pendengaranku pada kedua perempuan tadi, namun pembicaraan orang lain menyeruak masuk ke telingaku lebih dulu.

"Kenapa cari kerja sekarang susah, ya?" gumam seorang laki-laki pada temannya.

"Dari dulu kali, Bro!"

"Gue udah lulus dari kapan tau, tapi belom dapet kerjaan yang beneran."

"Emang lo sekarang ngapain?"
.
"Freelance, tapi duitnya ga seberapa."

Pagimu yang terluka
Malammu yang menyiksa
Hal yang ingin kaulupa
Justru semakin nyata★

Gerimis masih panjang ketika busku sudah datang. Pikiranku yang gamang berubah jadi tegang ketika memikirkan masa depan yang masih remang-remang. Aku harus apa?
***

Sepuluh menit lebih sedikit. Aku melakukan ritualku lebih lama dari biasanya. Simpul-simpul pikiranku belum juga saling mengurai. Lompat sana, lompat sini. Dari hal yang satu ke hal yang lain. Pekerjaan. Uang. Karir. Pencapaian. Hidup. Seolah-olah keberadaanku kali ini memang tidak sesuai sistem.

Lahir - Sekolah - Bekerja - Mati

Bisa tidak ya kalau step "bekerja" dilewati saja? Atau mungkin seharusnya dari awal aku tidak perlu masuk ke sistem yang semacam itu? Katanya empat tahap itu sudah yang paling sederhana, tapi kenyataannya tak sederhana-sederhana amat. Malah cenderung rumit.

Aku mengingat lagi percakapan di halte bus tempo hari. Orang yang sudah bekerja, ingin santai di rumah. Orang yang sudah keseringan santai di rumah, malah ingin cari kerja. Kenapa mereka tidak bertukar posisi saja?

Lebih dari separuh usiaku saat ini kuhabiskan untuk bersekolah. Mencari ilmu sampai jenjang yang lebih tinggi, katanya. Entah setinggi apa rasanya aku tidak percaya kalau orang-orang yang sudah sekolah tinggi bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Aku lebih suka kedalaman. Mencari ilmu sampai ke dasar dari yang paling dasar. Kenapa harus tinggi? Kenapa bukan dasar? Entahlah.

Orang-orang berlomba-lomba mencari pengakuan tertinggi, tapi tidak pernah paham esensi dasar dari pengakuan itu sendiri. Seolah-olah mereka yang punya jabatan tinggi atau apapun yang mereka ukur dengan materi bisa menjadi satu hal yang membanggakan. Lantas di titik yang sama, orang dengan pemahaman dasar menjadi alien dalam kelompoknya sendiri. Dianggap tidak sepadan, tidak seragam, tidak sevisi dan semisi.

Aku mengamati lagi diriku di depan cermin setelah pikiran-pikiran absurd tadi menyeruak dan berbicara padaku. Kutatap lekat-lekat wajahku. Dan bicara pelan-pelan.

"Seandainya kamu tahu sesuatu, apa kamu bisa bicara? Seandainya kamu bisa bicara, apa kamu akan didengar?"

Aku menggeleng lemah.
***

Suatu hari di dalam perkumpulan.

Orang-orang menatapku lekat, mendengarku berbicara apa saja. Seolah-olah aku tahu banyak hal. Ya, aku memang tahu banyak dari buku-buku, dari internet, darj obrolan orang yang tak sengaja kudengar. Aku membicarakan apa yang aku tahu, lantas bertanya tentang hal yang tidak aku tahu. Kami bertukar informasi seperti penjual dan pembeli di pasar pagi. Tanya-jawab-tanya-jawab. Begitulah siklusnya.

Sampai pada satu pertanyaan untukku dan aku menjawabnya, lantas mereka tidak lagi memberiku atensi tinggi seperti sebelumnya.

"Mbaknya sekarang kerja di mana?"

"Oh, saya belum kerja kok."

Aku lantas tersenyum dan bertanya lagi pada diriku sendiri. Apakah manusia selalu begini? Menganggap rendah manusia lain yang menurutnya punya status sosial di bawahnya. Menganggap enteng manusia lain ketika tidak punya jabatan tinggi. Menganggap tidak penting pikiran seorang manusia yang menurutnya tidak kompatibel.

Kenapa hidup yang sederhana harus jadi rumit karena pikiran manusia? Kenapa hidup yang tadinya mudah berubah jadi sulit hanya karena persepsi orang lain? Kenapa simpul pikiran manusia begitu banyaknya sampai tidak bisa dimengerti bahkan oleh dirinya sendiri?
***

Mengunci ingatanmu
Menahan masa lalu
Memori yang membisu
Harapan yang berdebu★


Aku kembali menyendiri di kedalaman. Kali ini berniat untuk tidak kembali ke permukaan. Entah, mungkin aku tidak akan bisa selama pikiranku masih waras. Sayangnya, kali ini dorongan ke dalam sana lebih kuat daripada untuk bertemu manusia lain yang pikirannya  sama rumitnya denganku.

Apa mungkin?

"Mungkin apa?" Sebuah suara muncul tiba-tiba di pikiranku.

"Aku ingin di sini saja, sampai besok pagi mungkin." kataku menjawabnya.

"Tidak perlu, aku akan membantu."

"Oke." Aku tertidur dan diriku yang lain mendorong tubuhku ke permukaan untuk bernapas kembali.[]

★ 
Lagu berjudul Mengunci Ingatan oleh Barasuara
---

Kamar
10 Oktober 2018

You Might Also Like

2 comments