[Book Review] Supernova #4: Partikel by Dee Lestari

September 15, 2018


Judul: Supernova #4: Partikel | Pengarang: Dee Lestari | Penerbit: Bentang Pustaka | Tahun Terbit: April 2012 | Tebal Buku: 500 hlm. | ISBN: 978-602-8811-74-3


Membaca buku ini dua kali membuat saya menemukan detail-detail lain dari kisah Zarah. Dengan antusias yang sama seperti menyelami telaga mimpi yang pernah saya idam-idamkan, buku ini ibarat cambuk—yang melecut dua hal sekaligus: kegagalan saya dan semangat untuk meraih mimpi itu kembali. Kehidupan Zarah sedikit banyak memengaruhi pola pikir saya ketika membaca buku keempat dari seri Supernova. Tentunya, ini merupakan buku favorit saya.

Dimulai dari kisah ayah Zarah, Firas, yang merupakan tinggal di Batuluhur, Bogor, dibesarkan di pesantren dan menjadi dosen di IPB. Sampai di titik ini, saya merasa memiliku kedekatan kultur budaya yang sama dengan Firas. Tinggal di Bogor,, tetapi gagal masuk IPB. Ironis memang. Ketika Zarah lahir, ada yang saya kagumi dengan cara Firas mendidik anaknya. Metode "belajar dari alam" ia terapkan karena tidak percaya dengan sekolah konvensional yang menurutnya sama sekali tidak memberikan perkembangan apapun.

Dan ya, saya setuju dengan Firas untuk hal satu itu. Zarah berhasil menjadi anak cerdas di atas rata-rata teman seusianya karena ayahnya juga cerdas. Metode pemgelajarannya sangat tepat karena ia pun cukup punya ilmu yang munpuni untuk itu semua. Berbeda ketika orangtua berlaku sebagai guru tapi tak punya modal apa-apa untuk mengajari anaknya. Bagi saya, semuanya bergantung pada orangtua jika ingin menerapkan metode belajar seperti yang didapat Zarah.

Masa kecil Zarah tak pernah lepas dari belajar dengan ayahnya. Banyak hal yang diajarkan Firas agar Zarah tak perlu masuk sekolah. Meski begitu, Ibu, Abah dan Umi (kakek-nenek Zarah) tetap ingin Zarah bersekolah seperti anak-anak pada umumnya. Firas menolak dengan keras, Zarah pun sependapat dengan Ayahnya. Ia hanya ingin diajar oleh ayahnya.

"Alam dan kita adalah satu, Zarah. Ketika kita percaya kepada alam, maka alam akan melindungi kita. Alam akan berbicara kepada kita dengan bahasa tertentu." - (hlm. 64).

Firas terobsesi pada fungi. Semua jenis fungi ia teliti. Kemudian saya jadi ingat pelajaran biologi—serta seseorang yang juga punya minat pada jamur. Ketika membaca buku ini pun saya nggak banyak paham soal fungi dan jenis-jenisnya, tapi saya sangat menikmati betapa banyak tumbuhan yang diciptakan untuk memberikan manfaat pada manusia. Sayangnya, manusia terlalu takit untuk bereksperimen, terlalu malas untuk mencari inovasi, dan terlalu takut mengambil risiko. Termasuk soal bukit jambul.

Penelitian Firas ke bukit jambul menghasilkan banyak hal, terutama soal fungi yang spesiesnya langka dan harusnya dilindungi. Tapi, percaya atau tidak, masyarakat Batuluhur menganggap bukit jambul adalah bukit keramat berpenunggu. Padahal sains telah membuktikan bahwa ada jenis tumbuhan yang memang hanya bisa hidup di satu tempat, tapi tidak bisa di tempat lain. Apabila bukit jambul dijadikan ladang seperti lainnya, pertanian di Batuluhur hanya akan sampai disitu-situ saja; tidak berkembang.

"Kita, manusia, adalah virus terjahat yang pernah ada di muka Bumi. Suatu saat nanti, orang-orang akan berusaha meyakinkanmu bahwa manusia adalah bukti kesuksesan evolusi. Ingat baik-baik, Zarah. Mereka salah besar. Kita adalah kutukan bagi Bumi ini. Bukan karena  manusia pada dasarnya jahat, melainkan karena hampir semua manusia hidup dalam mimpi. Mereka pikir mereka terjaga, padahal tidak. Manusia adalah spesies yang paling berbahaya karena ketidaksadaran mereka." (Hlm. 71)
---

Kehidupan Zarah dimulai lagi ketika ayahnya menghilang di bukit jambul. Ia terpaksa harus sekolah karena tidak ada lagi yang mengajarinya di rumah. Sekolah baginya hanya mengkotak-kotakkan apa yang sudah ia pelajari. Semua anak harus sesuai standar. Tidak boleh ada pertanyaan-pertanyaan kritis. Tidak boleh ada yang lebih pintar dari gurunya. Kekesalan Zarah baru saya rasakan ketika mengingat betapa pendidikan saat ini pun demikian adanya.

Lulus dari SMA dengan akselerasi, Zarah mendapatkan hadiah ulang tahun ke-17 berupa kamera DSLR. Saat itu ia langsung belajar memotret dengan Pak Kas, salah seorang teman ayahnya yang berprofesi sebagai tukang foto keliling. Sampai suatu ketika Zarah mendapat kabar kalau dirinya menang lomba kontes foto, padahal ia tak pernah mengirimkannya. Dan terbanglah ia ke Tanjung Puting. Sebuah tempat yang juga sangat ingin saya kunjungi.

Ayah pernah bilang, manusia ibarar anak yang lupa keluarga dan sanak saudara. Ia menyangka dirinya yatim piatu di Bumi ini. Ia lupa telah bersepupu dengan orangutan, simpanse, gorila. la lupa bersaudara jauh dengan pohon. Satu-satunya yang perlu disembuhkan dari manusia adalah amnesianya. Manusia perlu kembali ingat ia diciptakan dengan  bahan baku dasar yang sama dengan semua makhluk di atas  Bumi. (Hlm. 227) 

Berbulan-bulan di sana, menjadi ibu asuh orangutan. Saya seketika iri dengan Zarah. Apa yang bisa saya lakukan untuk sampai di sana dan menjadi relawan di sana? Hidup Zarah semakin membaik. Tinggal di areal hutan taman nasional, ia memilih untuk mengabdikan dirinya menjadi ibu asuh bagi Sarah, orangutan yang ditinggal mati induknya karena perburuan liar. Hingga suatu hari tawaran menjadi Wildlife Photographer menghampirinya melalui Paul Daly. Ini keren banget, saya pikir.

"Bagi saya, fotografi wildlife adalah jembatan bagi orang banyak untuk bisa mengenal rumahnya sendiri. Bumi ini." Paul Daly (hlm. 253)

Zarah sukses menjadi seorang Wildlife Photographer yang melanglang buana hingga di ibu kota Inggris. Ia "kabur" dalam pencarian Ayahnya sampai ia menemukan petunjuk tentang seseorang yang memberinya kamera Nikon Limited Edition. Seseorang itu pula yang membawanya pada sebuah petunjuk tentang keberadaan ayahnya.

Seri Supernova yang satu ini memang sedikit banyak mengungkap tentang biologi dari segi pengenalan fungi yang menjadi topik utama. Fungi ataupun enteogen yang kemudian menjadi "pintu gerbang" seseorang bisa masuk ke alam spiritualnya. Saya takjub sekali ketika membacanya. Apakah reaksinya akan sama seperti yang ditorehkan di dalam buku ini? Setidaknya buku ini memacu saya untuk mencari tahu lebih banyak lagi soal fungi dan kasus-kasus misteri seperti ufo dan fenomena crop circle yang banyak saya tidak mengerti.

Dengan naifnya, manusia berusaha mengembalikan hutan seperti sedia kala. Di mataku, kegiatan ini cuma simbolis, sekadar pelipur bagi rasa bersalah kita yang telah merampas sedemikian banyak dari alam. Sama seperti Ayah, aku percaya cuma alamlah yang punya kekuatan menyembuhkan dirinya sendiri. Dengan atau tanpa kita. (Hlm. 190)

Sekian ulasan dari saya. Kalau penasaran bisa langsung baca bukunya yaaa.

RATE: 4/5

You Might Also Like

0 comments