Sekarang, Bukan Takdir Kita Bertemu di Semarang

September 07, 2018


Apa kamu pernah merasa sangat ingin bertemu dengan seseorang? Apa kamu pernah begitu ingin  membuat momen yang sama dalam waktu yang berbeda? Apa kamu pernah segelisah ini ketika gagal bertemu seseorang?

Aku pernah.
***

Suara riuh rendah orang-orang menyapa telingaku tanpa aba-aba. Beberapa dari mereka akan menuju kota yang sama denganku. Aku kembali, menaiki si ular besi,menuju kota yang baru pernah aku singgahi satu kali, tanpa pernah menjelajahinya. Namun, kali ini dari Ibu Kota, bukan lagi dari kota rantau seperti dulu.

Senja merambat naik ke pusara langit. Tanpa hujan, kenangan tetap membabi buta menyerangku lewat cerahnya petang itu. Pemandangan selama perjalanan memaksaku untuk menyerah pada keadaan; tercekat pada kubangan masa lalu yang sungguh sialan. Aku rindu, tapi tidak ingin aku katakan.

Kutulis pesan pada seseorang, "Aku menuju kotamu."

Tidak banyak harapku untuk mendapat balasan darinya, tetapi akhirnya datang juga. "Silakan."

Hanya itu, tanpa tambahan kalimat apapun. Aku menghela napas panjang. Mengetahui jawaban singkatnya, aku seharusnya tidak kaget lagi karena memang seperti itulah dia. Tapi rasanya ada yang berbeda ketika aku mulai mengharap balasan lain selain yang biasa ia lakukan. Entahlah, seakan-akan perilakunya menambah daftar kenangan yang semakin panjang tanpa bisa aku cegah.
***

Berharap bertemu seseorang dan mewujudkannya dalam waktu singkat ternyata tidak mudah. Suasana kereta yang penuh nyatanya mampu meredam kegemasanku padanya. Entah seberapa kuat keinginan untuk bertemu itu seakan berubah ketika aku sudah berada dalam perjalanan. Kupikir ia serius saat mengiyakan tawaranku untuk bertemu, tetapi responnya hari itu sangat bertolak belakang dengan sebelumnya.

Aku tiba di kotanya dengan perasaan gundah yang semakin merekah. Pukul 10 malam yang dingin, di stasiun yang sama seperti setahun lalu ketika ia menjemputku di tempat itu. Merelakan waktu tidurnya demi menyambutku sebagai tamu. Stasiun Semarang Tawang malam itu masih  ramai, jalanan kota yang penuh dengan lampu-lampu juga semakin menawan. Semakin kulewati, semakin momen dengannya tak lepas dari ingatan.

Aku menghela napas, lagi.

Benar kata orang, bertemu seseorang yang ada di satu kota yang sama terkadang lebih sulit dibanding berbeda kota. Padahal jarak kami nyaris mendekat. Menyebalkan memamg, tapi aku tidak lagi bisa melakukan apa-apa. Setelah kalimat singkatnya hari itu, aku tidak lagi berani mengajaknya bertemu. Aku tahu betapa sibuknya ia setiap harinya. Terlalu banyak waktu berharga yang harus ia sisihkan jika aku memaksanya bertemu.

Beberapa hari di kotanya, aku berusaha menikmati kota itu dengan cara lain. Ia pernah bilang padaku begini, "Tujuanmu kan ke Semarang, ya bersenang-senanglah." Maka aku turuti kata-katanya; bersenang-senang. Ia sama sekali tak bertanya padaku apakah kami akan bisa bertemu atau tidak. Aku mulai menerapkan prinsip "gengsi nanya duluan" seperti yang sering dilakukan perempuan-perempuan lainnya. Sebab aku sudah mengajaknya di awal, tapi responnya tidak sesuai harapan, maka aku tidak lagi menyinggung hal itu.

Hari terakhir aku di kotanya, tak juga aku menghubunginya selain pamit pulang. Ya, kami sama sekali tidak bertemu. Rasanya aku ingin membalikkan semua kalimatnya waktu itu. Dia bilang bisa bertemu, tapi nyatanya tidak. Dia bilang kapan saja mau bertemu asal di Semarang, dia bersedia. Kenyataannya dia sibuk  dengan pekerjaannya. Mungkin ia memang tidak ingin bertemu aku. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan bertemu lagi, selain pertemuan pertama atau mungkin itu satu-satunya pertemuan kami?

Mungkin kita tak ditakdirkan bertemu lagi di Semarang. Ya, mungkin begitu.


Gombong, September 2018.

NB: Pasti abis ini saya dibilang lebay saya dia. Atau dibilang "Perasaanmu doang kali yang gitu". Terus di-"Dah sana, aku mau tidur."-in.

Kesal gak kalian? Ah, mungkin saya doang.

Baca juga: Percakapan Singkat di Dalam Mobil

You Might Also Like

6 comments

  1. kadang ada yg dekat, rindu, namun susah bertemu.

    ada yg jauh, rindu, tiba-tiba ada di depan matamu.

    memang bukan tentang jarak sih ya, tapi soal perasaan antar dua orang. dan benar2 ribet.

    ReplyDelete
  2. Iya perasaan dua orang inu memang ribet ya kak :(

    ReplyDelete
  3. Aduh tulisannya :")
    Sabar, Kak. :")

    ReplyDelete