Lika Liku Laku

August 10, 2018



Di antara yang laku, pasti ada yang berliku-liku.

Mengadaptasi judul dari sebuah tulisan seorang kawan bernama Triana, saya juga ingin menuliskan laku saya mengenai hal yang sama: romansa masa muda.

Sudah sejak lama orang-orang tau kalau saya tidak pernah punya pacar. Namun, setiap kali saya bilang hal itu, mereka akan berdecak tidak percaya. "Masa sih?" atau "Ah, yang bener?" Sebab, sejak masuk kuliah saya seringkali memposting foto dengan beberapa lelaki yang notabene memang teman saya. Entah sedang makan berdua atau pergi ke suatu tempat berdua. Ya memang berdua, tapi kami tidak ada hubungan apapun.

Saya sadar betul laku saya yang demikian akan menimbulkan banyak salah paham. Sudah pernah kejadian waktu itu ketika seorang teman berkata pada saya, "Kamu kok  nempel sana-sini sama banyak cowok sih?". Duh, hati saya nyeri banget dengar kalimat itu. Lalu saya mengingat lagi, apakah yang saya publikasikan terlalu berlebihan?

Kemudian, sampai hari ini saya berhenti memposting apapun tentang kedekatan saya dengan siapapun.


Laku #1: Menyoal Pacaran
Kalau ditanya mau pacaran apa enggak, jujur aja saya mau-mau engga-engga. Tapi sejak zaman kelas 6 SD dimana ada teman sekelas yang pacaran, saya sudah begitu banyak melihat konflik yang bikin malas pikiran saya. Kalau dilihat senang-senangnya sih mungkin bisa jadi motivasi, tapi ketika berantem? Jadi lebih motivasi diri aja buat nggak pacaran. Kalau dibilang alim pun, saya biasa-biasa aja. Keluarga saya juga biasa-biasa aja. Intinya selama sekolah saya memang tidak boleh berpacaran dan saya juga gak minat sih. Nah, kalau sudah lulus sekolah, baru boleh pacaran, tapi nyatanya saya tetap tidak begitu berminat sama hubungan bernama pacaran ini.

Jadilah sampai hari ini saya begini-begini saja. Asik berteman dengan siapa saja. Pergi berdua sama teman perempuan atau laki-laki juga gak masalah, yang penting tau batasan. Saya bukan tipe orang yang milih-milih temen aslinya. Asal asik diajak main, hangout, ngobrol, ya matilah kita berkawan. Saya juga bukan tipe orang yang gengsian ngajak pergi orang. Kalau memang teman lelaki yang saya ajak pergi mau, ya sudah, kami akan pergi berdua. Kalau dia menolak, ya saya ajak kawan lainnya. Sesederhana itu. Jadi, kalau suatu hari ada yang pernah lihat saya posting foto berdua dengan lelaki yang berbeda-beda, ya mereka semua teman saya.


Laku #2: Nyaris Jadi PHO
Punya banyak teman lelaki pun tidak selamanya membuat saya merasa enjoy. Selain sering dinyinyiri, saya juga nyaris dianggap PHO (perusak hubungan orang). Ya gimana, niat ingin ramah dan membantu teman, malah dikira mau merusak hubungan. Duh, apakah saya terlalu baik?

Alih-alih dilabrak, saya jadi makin sadar diri ketika ingin mengajak/diajak teman lelaki pergi berdua. Bukan karena nggak ada teman perempuan yang bisa diajak pergi lho, ya, tapi karena memang saat itu hanya orang itu yang bisa menemani pergi. 

Laku #3: Dekat Dengan Siapa?
Banyak, kalau yang kamu tanya adalah teman.
Beberapa, kalau yang kamu tanya adalah seseorang yang membuat saya tertarik.

Omong kosong sebenarnya kalau saya tidak ingin punya seseorang yang bisa mendengarkan sebanyak mungkin ocehan saya sampai sesederhana mengucapkan selamat pagi dan selamat malam setiap hari. Singkatnya, omong kosong kalau saya tidak mau punya hubungan lebih dari teman dengan lelaki yang saya suka. Tidak ingin pacaran, bukan berarti saya sudah siap ditaarufi lalu menikah. Bukan begitu juga. Hanya saja, saya merasa ketika dekat dengan laki-laki yang saya suka, saya selalu bersikap terburu-buru. Berpikiran terlalu jauh apakah dia akan jadi teman hidup di masa depan? Sehingga apa yang ada saat itu tidak bisa saya nikmati.

Sedikit-sedikit saya jadi paham kalau keberadaan para lelaki di hidup saya kadang hanya sebagai pemeran figuran seperti dalam cerita. Bukan berarti mereka tidak penting, tapi kadang hanya ada di saat tertentu dan kemudian harus diikhlaskan. Waktu kan terus berjalan, jadi kalau yang mau pergi tapi ditahan-tahan, ya kasihan. Jadi, kini sayapun ingin pelan-pelan saja kauak lagu Kotak, nggak perlu buru-buru. Sebab, perasaan itu kan tumbuh seiring waktu, biar saja Tuhan yang tau apakah kita akan hidup bersama atau cuma berkenalan dalam suatu keadaan.

Saya senang bisa berbagi banyak hal dengan kamu yang pernah singgah di hidup saya. Jadi, untuk kamu juga yang entah siapa, jika sekarang atau nanti kamu dekat dengan saya, kamu perlu tau, hidup saya ya begini. Saya cuma ingin bisa berbagi apapun itu dengan kamu.

Yah, begitulah kira-kira gambarannya. Semoga tidak ada lagi yang salah paham. Lika-liku yang rumit. Menjadi laku itu mudah, tapi menjaga laku itu yang kadang sulit.

Apakah kalimat saya yang terakhir sudah seoerti kata-kata bijak milik motivator? Hehehe.


Semarang, Agustus 2018.

You Might Also Like

0 comments