Tentang Lagu dan Kamu


Sudah lebih dari satu bulan ini saya selalu tidur di atas jam 12. Entah jam 1 atau jam 2 dini hari mata saya baru bisa merem, tubuh saya mungkin sudah rebah sejak pukul 10, tapi belum juga pergi ke alam mimpi. Ya, kalau dikasih mimpi pun maunya yang bagus-bagus, jangan mimpi dikejar hantu atau dikejar pembunuh kayak yang pernah saya alami beberapa waktu lalu. Untungnya cuma mimpi, saya jadi nggak harus ketakutan di dunia nyata.

Waktu itu saya sempat bermimpi tentang seseorang yang sudah lama saya sukai. Mimpi yang mungkin saja distimulasi oleh lagu bertema rindu yang saya dengar sebelum tidur. Di dalam mimpi saya, dia mengajak saya pergi ke rumahnya, tetapi kami tidak hanya berdua. Ada satu orang lagi yang ikut bersama kami, seorang perempuan—teman sekelas saya sewaktu kuliah. Tidak ada pembicaraan yang berarti di dalam mimpi. Hanya ada satu kalimat yang saya ingat: dia mempertanyakan keseriusan saya. Seketika saya sadar dan ingin bertanya, apakah di matanya saya tampak tidak seserius itu?

Saya belum menemukan jawabannya karena lagi-lagi itu cuma mimpi. Namun, itu satu-satunya mimpi tentang dia—sepanjang yang saya ingat—yang mempertanyakan keseriusan saya. Sebelumnya, tidak pernah ada kalimat itu. Paginya saya bertanya pada Ica, apakah mimpi itu sebuah pertanda? Lalu ia mengirimkan sebuah gambar yang berisikan tulisan, "Jika memimpikan seseorang, tandanya ia sedang rindu padamu." kurang lebih seperti itu. Saya ingin percaya, tapi tidak juga munafik kalau belum tentu dia yang disana rindu pada saya.

Saya merunut ulang sebelum mimpi itu terjadi. Pasti ada pemicu yang saya lakukan sebelum saya tidur. Dan saya baru ingat, sebelum tidur saya sempat chatting dengan salah seorang teman yang isinya membicarakan dia. Ditambah lagi saya mendengarkan salah satu lagu yang membuat stimulus hadirnya dia di dalam mimpi semakin kuat. Lagu dari Sheila on 7 yang berjudul Tunggu Aku di Jakarta masih tetap jadi lagu harapan untuk saya.

Kalau kamu, pernahkah mengalami hal seperti saya? Kenapa lagu bisa memjadi pemicu terjadinya mimpi?

Mungkin bukan hanya mimpi, tapi lagu-lagu yang saya dengar selalu mengarah pada banyak orang. Misalnya, ketika saya mendengar lagu Bondan Prakoso, maka saya akan selalu ingat pada satu orang di masa lalu yang pernah hadir mengisi hari-hari saya. Atau ketika mendengar lagu dari Fiersa Besari, saya akan ingat pada kisah romansa saya yang tidak berlanjut ke jenjang manapun meski saya dan seseorang itu saling memiliki rasa yang sama. Cukup banyak hal yang bisa saya pikirkan ketika mendengar lagu, termasuk ketika mengendarai motor.

Larangan menggunakan ponsel saat berkendara pernah saya abaikan. Saat itu saya sedang mengendarai motor sendiri, tanpa takut ada apa-apa, saya memasang earphone dan memutar lagu dengan volume yang bisa membuat saya tetap terjaga dan fokus. Bagi saya, mendengar lagu bukan cuma untuk pengantar tidur, tapi juga untuk membuat fokus. Itu sebabnya saya lebih suka mendengar lagu saat berkendara karena saya rentan hilang fokus. Kalau hal itu tidak bisa, mungkin saya akan berusaha berbicara pada diri saya sendiri hanya agar saya tetap terjaga. Tapi, bukankah itu malah bikin saya kayak orang nggak waras? Bicara sendiri di atas motor? Hm.

Mendengar lagu sebelum tidur adalah sebuah kebiasaan. Saya jarang ketiduran ketika mendengar lagu. Malahan, pikiran saya selalu terbang kemana-mana. Lebih seringnya ke masa depan. Jangan pikir saya bisa meramal masa depan, ya. Saya cuma memikirkan masa depan seperti apa yang saya mau. Tidak jarang saya memikirkan banyak orang yang entah akan masuk di lingkaran saya selanjutnya. Hal-hal bahagia maupun menyakitkan bisa jadi tetap saya pikirkan. Tak ubahnya menulis cerita, kehidupan kan nggak selalu bahagia dan berjalan sesuai rencana. Tapi, kenapa rasanya menyenangkan sekali ketika membayangkan masa depan?

Jadi, kalau lagu bisa membawa saya pada kejadian masa lalu dan menggiring saya ke (bayangan) masa depan (yang saya mau), kenapa saya harus bermimpi soal dia berulang kali? Padahal saya tidak bisa mengatur mimpi saya sendiri. Duh, ini pertanyaan retoris yang sudah pasti jawabannya. Ya karena saya suka dia. Mau lagu apapun pasti bayangan dia yang muncul, kan? Lalu pelan-pelan menyelinap ke alam mimpi karena saking rindunya.

Lalu, apakah saya harus mengikhlaskan lagu Tunggu Aku di Jakarta-nya Sheila on 7 dan menukarnya dengan lagu Forget Jakarta milik Adhitia Sofyan? Hanya agar saya bisa lupa dengan dia yang bahkan sampai saat ini tidak peduli pada saya?

Hm, entahlah. Saya butuh jawaban, tapi saya tidak berani bertanya. Itu sebabnya saya cuma bisa menikmati ketersesatan ini, kan?

Kamar, Juli 2018.
01:38.

Comments

  1. Wqwqwq. Sering juga tuh. Badan udah rebah dari pukul sebelas malam. Tapi baru betul-betul nyenyak pukul satu atau lebih.

    Soal mimpi, saya akhir-akhir mimpiin seseorang yang nggak jadi-jadi ketemu padahal udah janjian dari bulan puasa. Terakhir kami ketemu, kalo nggak salah puasa tahun lalu. Kayaknya ini saya ceritain yang kita kopdar bareng Kak Agus. Haha. Entahlah dia kangen juga atau saya aja. Yang jelas, itu sungguh menyebalkan karena mimpi itu dia telah jadi milik orang lain. Mungkin efek saya dengerin lagu I Will-nya Chelsy yang OST Ao Haru Ride.

    Kalo naik motor, sekarang udah nggak dengerin lagu lagi pakai earphone. Nggak tau kenapa berusaha tertib lalu lintas. Halah. Tapi ngomong sama diri sendiri di motor gitu asyik, sih. Bisa merenung banyak hal. Nggak gila kok. Justru bagi saya itu biar tetep waras dari gilanya lalu lintas di Jakarta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya sih, aku juga udah jarang pake earphone karena tau betapa resikonya sangat besar. Kalo ngomong sendiri di atas motor sih masih sering dilakukan. Demi menjaga kewarasan gagahh.

      Btw aku suka juga itu lagu I Will. Pas nonton animenya juga sedih :((

      Delete
  2. Mungkin maksud yg mengatur mimpi perlahan tinggalin musik itu😇

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin ya mas. Atau nanti dicoba ganti pake murotal gitu jali ya?

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perihal Memulai Hidup Baru