Memimpikan Kehidupan

May 14, 2018

Pagi ini, saya sedang duduk di kantor yang sudah nyaris 4 bulan menerima saya sebagai karyawannya.  Dalam 4 bulan itu juga saya hanya belajar sedikit sekali dalam hal fashion dan busana. Sejujurnya ini bukan bidang saya, kalau mau dibilang saya buta sama sekali soal fashion. Tetapi baiknya, job desc saya bukan sebagai orang berkecimpung langsung dengan fashion, melainkan berhubungan dengan konsumen langsung. Bisa jadi ini memang posisi yang sesuai dengan jurusan kuliah yang saya ambil dulu.

Apakah saya sudah puas? Jawabannya tentu belum.

Saya pernah membayangkan banyak hal soal pekerjaan. Menjadi editor, jurnalis, sampai wirausaha. Saya memang terlalu banyak berkhayal atau mungkin bermimpi terlalu muluk, padahal usahanya nol atau mungkin hanya 1 dari 100. Jadilah sampai hari ini saya masih di posisi yang sama, belum beranjak kemana-mana.

Kuping kanan dan kiri saya sering mendengar banyak pepatah yang mengatakan kalau kamu nggak akan tau sesuatu kalau kamu nggak mencobanya. Apakah berguna jika hanya berkhayal? Apakah berguna jika hanya memimpikannya? Sesungguhnya tidak.

Ketika saya menulis ini, saya sedang ada di titik jenuh yang sama seperti dulu. Saya betah berlama-lama di jalur yang sama sekaligus tidak betah berdiam diri di jalur yang sama. Sebuah kontradiksi, kan? Ya, itulah saya. Seringkali suka pada suatu hal sampai kurun waktu yang lama, kemudian ketika bosan saya harus benar-benar pergi dari sana.

Sampai detik ini saya masih memimpikan suatu kehidupan yang serba menyenangkan: hidup di suatu kota kecil yang damai, pekerjaan rumahan yang tidak menuntut stress, punya anak-anak yang lucu, rumah sederhana, dan sering jalan-jalan. Begitulah keinginan.

Saya masih memimpikannya dan berusaha mewujudkannya.


Cikeas, gerah banget.
14 Mei 2018. 14:24

You Might Also Like

0 comments