Surat Untuk Bumi yang Telah Melabuhkan Hatinya


Kisah kita sangat indah
Hingga perlahan berubah
Kau yang terlalu pengalah
Hadapiku yang pemarah*

"Saya terima nikahnya Winny Rianti (bukan nama sebenarnya) binti *nama bapaknya* dengan mas kawin seperangkat alat solat dibayar tunai!" kalimat itu keluar dalam satu tarikan nafas dari mulutmu. Aku lantas tersenyum, kamu sudah dimiliki orang lain tepat beberapa menit yang lalu.

Senyum perempuan di sebelahmu tidak pernah lepas menghiasi bibirnya. Sampai kalian berdua diantar untuk duduk ke pelaminan, aku masih ada di kursiku. Menatapmu dari jauh seperti yang aku lakukan dulu. Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi selain menatapmu selama mungkin, sebelum aku benar-benar tidak bisa melakukannnya lagi.

Matamu kemudian bertumbukan dengan mataku... dan kamu tersenyum sembari menganggukkan kepala pelan.

Seketika ingar-bingar suasana berubah jadi hening di kepalaku, menarikku kembali pada masa lalu.

Kadang kurasa bersalah
Kenapa dulu berpisah
Kini kau telah menikah
Namun rasa belum punah*
---

Selalu ada seseorang yang
teristimewa tak tergantikan*

Hai, Bumi, kamu adalah kenangan masa remaja yang menyenangkan untukku. Kenangan paling mendewasakan yang bisa aku kenang sampai hari ini. Selain soal patah hati, kamu adalah seseorang yang membawaku untuk bisa menghargai dan mengikhlaskan. Mempelajari banyak hal, sampai pada titik belajar menabung untuk akhirat.

Hari-hari itu menjadi momen lengkap dalam hidupku. Setiap kali kamu bermain bola bersama anak-anak di kebun belakang rmasjid, aku selalu memerhatikanmu dari jendela belakang rumahku. Hanya untuk melihatmu tertawa gembira.

Ku hanya rindu kita yang dulu
Tidak bermaksud curi hatimu*

Aku ingat. dua hari sebelum pernikahanmu, kamu mengirimi pesan di instagram. Isinya singkat saja, bertanya soal undangan yang dititipkan pada salah seorang tetangga. Aku lagi-lagi hanya tersenyum dan berterima kasih karena kamu masih mengingatku dan mengundangku ke acara pernikahanmu.

Hari ini, Bumi, berkurang lagi umurmu. Semoga apa yang kamu inginkan, bersama juga istrimu bisa terwujud. Semoga apa yang kamu lakukan hari ini dan hari-hari selanjutnya selalu menjadi berkah. Ada banyak doa yang ingin kupanjatkan untukmu, tapi cukuplah begini saja. Sebagai teman yang baik, aku cuma bisa melakukan ini.

Kau tlah dengannya
Aku pun juga, sama.*

Hari sudah larut ketika aku mendengar sebuah kabar bahwa istrimu sudah sedang mengandung anakmu. Selamat ya, semoga kelak menjadi anak yang sholeh/sholehah.

Terima kasih sudah pernah ada di lingkaran hidupku.

*lirik lagu Belum Punah - Fiersa Besari

Comments

Popular posts from this blog

Perihal Memulai Hidup Baru