[Review + Giveaway] Blog Tour "Drama Mama Papa Muda"


"Kalau nggak nikah muda, barangkali saya belum mencapai titik ini. Titik yang sekaranag saya syukuri betul karena biar pun remeh, tapi inilah hal yang saya impikan. Inilah pencapaian-pencapaian yang dulu saya doakan,"Pungky Prayitno. (Hlm. 23).

Prolog

Saya kenal Mbak Pungky sekitar tahun 2014 akhir atau 2015 awal (lupa tepatnya). Saat itu ia sudah jadi blogger hits karena berhasil memenangkan Srikandi Blogger 2014. Semua warga kampus tahu berita ini, bahkan saat saya di kelas, dosen saya pun memberitakannya lagi. FYI, saya adik kelas jauhnya Mbak Pungky. Hahaha. Dulu awal tahu Mbak Pungky, saya cuma kenal, tapi dia nggak kenal saya. Sedih.

Dan, saya tahu Mas Topan karena dia salah satu reporter di SatelitPost (koran lokal di Purwokerto). Itu pun saya tahu dari senior di pers kampus. FYI juga, beliau ini kakak kelas jauh saya di kampus. Mas Topan dan Mbak Pungky ada di jurusan yang sama dengan saya: Ilmu Komunikasi.

Untuk Jiwo, anak lelaki yang usianya sudah hampir 5 tahun, saya kangen banget sama bocah nguwil satu itu. Pertama kali ketemu pas kami sama-sama trip ke Desa Kalilunjar. Waktu Mama dan Papanya Jiwo sibuk motret demi konten blog dan instagram, saya sebagai yang paling muda disuruh nemenin Jiwo main game. Hahaha. Jadi pengasuh sementara. Tapi Jiwo tuh lucu banget dan kritis banget kalo nanya. Sumpeh deh!

Mendengar kabar terbitnya buku Drama Mama Papa Muda bikin saya merasa awur-awuran kesenangan bukan main. Soalnya saya pembaca setia blog Sujiwo.com dan ngefans banget dengan tulisan mereka berdua. Lebih seneng lagi pas dikabarin sama Mbak Ayun, editor buku Drama Mama Papa Muda, kalau saya jadi salah satu host blog tour buku ini. Padahal udah siap-siap mau PreOrder waktu itu. Hahaha.


Tentang Buku



Judul: Drama Mama Papa Muda

Penulis: Pungky Prayitno dan Topan Pramukti

Editor: Ayun

Tata Sampul: Amalina Asrari

Penerbit: Laksana

Tebal: 232 halaman

Judulnya aja udah Drama Mama Papa Muda, jelas dong mereka masih muda. Menikah memang jadi babak kehidupan tersendiri bagi Pungky dan Topan. Dalam buku ini terdapat 4 bagian yang menceritakan drama kehidupan setelah menikah sampai punya anak bernama Sujiwo Arkadievich—yang kemudian dipanggil Jiwo.

Menikah muda itu ternyata nggak pernah ada di pikiran Mbak Pungky, awalnya. Dalam bagian Drama Mama Muda, Mbak Pungky banyak bercerita kalau ia geuleuh abis liat teman yang nikah muda.

"Dulu, saya anti banget sama yang namanya nikah muda. Pokoknya kalau ada teman yang bilang pengen nikah padahal masih muda, saya pasti jadi setannya. Saya komporin kalau nikah muda itu nggak bakal enak. Jangan, deh, pokoknya jangan." (Hlm. 18)

Mungkin karena sering ngomporin temennya biar nggak nikah muda itulah akhirnya Mbak Pungky kena "karma". Sampai ia menikah dan punya anak di usia 22 tahun. Gokil nggak tuh?

Buku ini membuat saya berpikir, dengan bahasa yang ringan, saya berkali-kali bergumam, "Oh iya ya" atau "Tuh kan gini harusnya", sampai di ada bab-bab tertentu yang membuat saya terenyuh sekaligus takut. Iya, pembahasan PPD (Postpartum Depression) yang sungguh menyentuh batin saya. Kaget sekaligus tidak menyangka kalau Mbak Pungky pernah terserang PPD yang ternyata bisa menyerang siapa saja, khususnya ibu pascamelahirkan.

 Mas Topan, dalam salah satu tulisannya bilang,

"Saya mohon, dengan sangat, kalau sampai itu terjadi, tetaplah di sana. Tetaplah di sisi perempuan yang kalian ikat dengan janji suci, peluk dia, dan ikutlah berjuang. Bertahanlah, wahai para ayah. Saya bersumpah atas nama Tuhan, bahwa pospartum depression bukanlah hal yang mudah untuk dilewati sendirian. Perempuan yang memelukmu sambil beruarai air mata benar-benar butuh pertolongan." (hlm. 80-81)

Selain itu ada satu tulisan yang saya sangat-sangat suka. Judulnya "Sini Nak, Sama Bapak." Jujur saja, ini tulisan yang saya anggap sebagai bentuk protes para Ayah yang seringkali dianggap tidak bisa mengurus anak. Juga hujatan kepada Ibu yang "tega meninggalkan anaknya bersama bapaknya". Sungguh saya benar-benar terharu membaca ini. Anak itu kan bukan hanya milik Ibunya, tapi juga milik Ayahnya. Kenapa pula kita harus takut kalau anak kita diurus oleh Ayahnya.

"Kamu itu anak Bapak. Mengurus kamu itu tugas Ibu, mengurus kamu juga tugas Bapak. Membesarkan kamu itu tanggung jawab Ibu, membesarkan kamu juga tanggung jawab Bapak. Mengasuh kamu itu amanah dari Tuhan untuk Ibu, mengasuh kamu juga amanah dari Tuhan untuk Bapak." (Hlm. 88)

Sungguh membaca buku ini memang penuh drama, kadang sedih, terus terharu, terus seneng, terus ngakak, terus mikir. Nikah muda itu banyak indahnya, tapi lebih banyak dramanya, gitu kata mereka. Apalagi di bab terakhir, Drama Dua Hati, yang ada pembahasan soal selingkuh-pelakor-dan mantan. Duh, nggak kuat saya mah. Keren pisan!!!
---

GIVEAWAY!


Setelah baca review singkat dari saya, kamu udah tertarik buat baca buku ini belum? Sumpah ini sih recommended banget buat kalian semua, baik yang belum menikah, sedang mempersiapkan pernikahan, atau yang sudah punya anak sekalipun. Soalnya, semua rupa-rupa drama ada di sini. Gimana caranya hidup tanpa pakai pembantu, hidup sederhana saat ekonomi tidak stabil, semua diceritakan dengan ringan dan... menginspirasi.

Nah, saya ada satu buku Drama Mama Papa Muda gratis untuk satu orang yang beruntung. Nih langsung ikutin ketentuannya, ya.

1. Domisili di Indonesia.
2. Follow akun Twitter @divapress01, IG @penerbitdivapress, atau like FB Penerbit DIVA Press, juga follow @afriantipratiwi.
3. Bagikan tautan giveaway ini di medsos. Boleh mention saya dan/atau penerbitnya, boleh juga tidak.
4. Tulis nama, akun Twitter/IG, dan domisilimu di kolom komentar, diikuti jawaban pertanyaan ini.

Salah satu tulisan dalam buku ini berjudul "Jiwo Nggak Usah Sekolah". Apakah kamu setuju? Jika iya, kenapa? Jika tidak, pendidikan seperti apa yang akan kalian berikan kepada anak? Apakah pendidikan konvensional seperti yang sudah ada, atau pendidikan semacam sekolah alam, atau bagaimana? Kasih alasannya ya.

Giveaway ini berlangsung dari tanggal 19 Maret - 25 Maret 2018. Pemenang selambat-lambatnya akan diumumkan pada 27 Maret 2018.

Selamat mencoba dan semoga beruntung!



Salam,

Afrianti Eka Pratiwi.

Comments

  1. Tentang nggak usah sekolah, aku berkali-kali ngomong tentang ini sama suami. Finally kami akan memilih metode Home Schooling untuk anak-anak.

    Tapi bukan secara konvensional atau dalam artian semua mata pelajaran dipelajari, tapi kami akan lebih fokus pada minat dan bakat apa yang sudah terlihat dari anak-anak.

    Jadi misalnya anak pertama minatnya di matematika, ya kami akan fokusi dia belajar matematika saja. Untuk mata pelajaran lainnya tidak wajib bisa. Bahkan tidak dipelajari pun tak apa.

    Karen kami berpikir mereka LEBIH BUTUH untuk mempelajari apa yang mereka sukai saja. Karena itu bisa menyenangkan mereka. Alhasil nantinya tidak ada cerita bahwa mereka malas belajar. Dan tentu saja hal ini akan memudahkan mereka.

    Di samping itu, saya sebagai ibunya juga ingin mereka lebih banyak mengenal alam. Ini sebenarnya terinspirasi dari kisah Totto Chan. Jadi sebisa mungkin mereka tidak hanya belajar di dalam rumah. Melainkan juga sesekali ke luar rumah untuk menikmati alam sembari memberikan mereka pengetahuan baru.

    Ade Delina Putri
    Ig: @adedelinaputri
    Domisili: Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya Mbak sharingnya. Semoga anak-anak Mbak bisa tetap cerdas dengan caranya sendiri.

      Semoga beruntung! :)

      Delete
  2. Nama : yokko cesoeria lubis
    Akun twitter : yo_yamakaze_lubis
    Domisili : banda aceh

    Saya tidak setuju jika anak tidak sekolah. Karena sekolah adalah bekal mereka untuk meraih cita-cita.
    Pendidikan konvensional dan alam. Karena penggabungan keduanya pasti menyenangkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, ada rekomendasi untuk sekolah semacam itu kah kak?

      Terima kasih sudah ikutan yaa. Semoga beruntung! :)

      Delete
  3. Sekolah atau tidak senada dengan memilih pendidikan formal atau homeschooling untuk anak. Menurut saya itu tergantung situasi dan kondisi anak dan juga orang tua. Kalau memang anak lebih nyaman belajar secara homeschooling dan orang tua pun mampu untuk memfasilitasi dan mengarahkan, maka pilihan untuk tidak bersekolah formal itu tepat. Karena sebenarnya yang harus paling mengerti kebutuhan anak dan membimbing anak sebagai madrasah utama itu orang tua. Namun jika pada faktanya orang tua tidak mampu untuk homeachooling, bukan hal yang buruk juga untuk memilih jalur pendidikan formal. Dalam hal ini saya lebih sepakat memilih sekolah alam untuk anak usia dini dari pada sekolah konvensional karena kesamaan visi dan misi sekolah dengan keluarga.

    Nama: Zaleha
    IG: @zaleha_r
    Domisili: Palangkaraya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas sharingnya ya kak. Semoga keinginannya untuk menyekolahkan anak di sekolah alam bisa terwujud.

      Semoga beruntung! :)

      Delete
  4. Tergantung anak lebih nyaman sekolah formal atau tidak, tetapi saya prefer ke sekolah formal karena anak butuh untuk berinteraksi dan juga asupan informasi yang tidak hanya sedikit sumber yang dia dapat. dengan adanya itu, anak akan dapat menyeimnangkan informasi ataupun tahu mana yang baik untuk dirinya sendiri.

    Nama : Sintya
    Twitter : @jjplifeu
    Domisili : Brebes - Purwokerto

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas sharingnya ya kak. Semoga beruntung! :)

      Delete
  5. Nama : Beatrix P. Lee
    Twitter : @GryElp
    Instagram : @lee.zhentian
    Domisili : Medan, Sumut

    Jawaban saya :
    Tentu saja tidak. Anak harus sekolah. Bagaimanapun itu, karena anak adalah segalanya, penerus keluarga. Seandainya saja kita orang tua tidak mampu, tetap harus kita pertahankan supaya anak bisa sekolah, bisa mendapat pengetahuan dan lebih pintar, maju dari orangtuanya. Pendidikan yang akan saya berikan cukup yang konvensional saja. Tetapi jika ekonomi mendukung maka saya sekolahkan di sekolah internasional. Selain itu juga saya bekali dengan les, seperti bahasa Inggris atau Mandarin, supaya kelak dengan kemampuan berbahasa asing anak bisa berpeluang banyak kerja di luar negeri. Lain dari les tersebut selebihnya hanya untuk mengembangkan hobi anak. Jika anak sudah agak besar dan hobinya mulai terlihat barulah hobinya dikembangkan di tempat khusus pengajaran hobinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah ikut giveawaynya ya kak, semoga keinginannya terwujud.

      Semoga beruntung! :)

      Delete
  6. Nama : Ulfatul Khabibah
    Twitter : @UlfaKha99
    IG : ulfa.faul
    Domisili : Surakarta
    “Jiwo Nggak Usah Sekolah” merupakan makna yang sudah jelas bahwa orangtua dari Jiwo tidak menginginkan anaknya berpendidikan dan mempunyai wawasan luasb atas ilmu yang didapat dari instansi negara yang bernama sekolah.
    Pendidikan bagi setiap manusia itu penting, baik anak-anak sampai dewasa membutuhkan pendidikan agar dimasa mendatang kita tidak termakan oleh pesatnya teknologi dan pengetahuan. Dan juga tidak mudah tertipu daya oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
    Nantinya jika saya mempunyai anak, saya akan memberi pendidikan dalam lingkup sekolah umum bukan di homeschooling. Karena apa, jika anak kita di didik dalam lingkup yang lebih sempit maka dengan sendirinya mereka bisa menjadi sulit bersosialisasi dan juga tidak mempunyai pengalaman atas kejadian-kejadian yang anak-anak biasa lakukan. Dan lebih parahnya bisa jadi anak tersebut memiliki kepribadian yang introvert terhadap lingkungan sekitarnya.
    Dan nantinya, saya akan mengarahkan anak saya pada bidang apa yang mereka minati atau yang mereka sukai. Saya akan menyekolahkan anak saya di sekolah konvesional, yang terdapat banyak mata pelajaran. Namun saya tidak akan menuntut semua mata pelajaran tersebut dikuasai oleh anak saya. Karena setiap anak mempunyai kemampuan di bidangnya sendiri-sendiri. Alasan saya mengapa menyekolahkan di sekolah yang sistemnya konvesional karena dengan begitu mereka juga mengetahui sedikit pengetahuan yang mungkin nantinya akan bermanfaat di masa yang akan datang. Atau nantinya mereka menemukan masalah yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan pada sekolah konvesional.
    Apapun yang kita pelajari selagi itu bermanfaat nantinya akan berguna di masa mendatang yang akan memudahkan kita dalam suatu hal. Contoh saja jika kita tidak mengerti arah, pasti kita kesulitan kemana akan menuju tanpa arah yang tak tertuju.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah terima kasih sharingnya ya kak. Semoga keinginannya terwujud.
      Goodluck :)

      Delete
  7. Nama : Rigita Cahyani
    Twitter/IG : @Rigita2110/@gitchan.suzumonta
    Domisili : Surakarta

    Yang belum nikah boleh ikutan kan?

    Kalo menurut saya pendidikan konvensional itu penting, apalagi dgn anak2 yg kapasitas otaknya masih dapat menampung banyak hal dan memori. Pendidikan agama juga penting untuk menanamkan keyakinan dirinya sejak kecil. Namun, selain pendidikan konvensional, anak juga bisa belajar apa yang mereka sukai dengan memberikan mereka kursus sejak kecil untuk mengembangkan bakat dan minat mereka supaya ketika nanti dia tidak memiliki kemampuan lebih di bidang akademik, dia bisa percaya diri dgn kemampuan non akademik lainnya. Menerapkan sebuah penjurusan pada anak bukanlan sesuatu yg bijak menurutku karena di masa depan pengetahuannya akan sempit apalagi teknologi sudah semakin maju dan persaingan global semakin ketat. Justru anak kecil diberikan banyak pengetahuan, apa saja, karena justru memberikan banyak hal pada anak kecil akan membuatnya memiliki ingatan di masa depan walaupun sedikit lupa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapapun boleh ikutan kok kak. Mau udah nikah/belum hehehe.
      Terima kasih sudah sharing yaa. Semoga keinginannya bisa terwujud,
      Good luck! :)

      Delete
  8. Nama : Riza Putri Cahyani
    Twitter : @Zhaa_Riza23
    Domisili : Bogor
    Jawaban : Kalau aku punya anak nanti aku tetap ingin anakku sekolah. Tapi bukan sekolah konvensional pada umumnya, aku ingin memberikan dia pendidikan karakter islami di sekolah alam. Seperti yang orangtuaku berikan padaku. Aku ingin dia bebas berekspresi. Di sekolah alam berbasis islami, para siswa tdk dituntut untuk menguasai semua mata pelajaran, siswa juga tdk pernah diberikan pr. Kegiatan seperti tadabur alam, tracking, camping, market day, fun day, farmer day, cooking day, dan sederet kegiatan luar ruangan lainnya melatih motorik anak. Mereka juga bisa mengikuti banyak ekstrakukikuler sesuai keinginan mereka. Banyaknya kegiatan seperti itu membuat anak memiliki banyak pengalaman sehingga ia bisa mengekspresikan diri dan ingin menhadi apa nantinya. Selain itu, tahsin, tahfidz, shalat berjamaah, dan kegiatan berbasis islami lainnya juga diseimbangkan sehingga anak mengenal Allah SWt sejak dini. Bahkan aku merasakan bahwa di sekolah yg menyeimbangkan pendidikan dunia dan agamanya, anak kecil saja sudah dibiasakan shalat dhuha. Aku ingin anakku menjadi ahli surga yang berilmu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah keren ya kak, jadi based on personal experience, Jadinya udah tau anak bakal diberikan pendidikan seperti apa ya. Semoga terwujud ya kak.
      Goodluck :)

      Delete
  9. Nama: Monica Indah
    Twitter: @monicaindah5
    Domisili : Bogor
    Jawaban: Guru dan pendidik yang pertama bagi seorang anak adalah orang tua nya khususnya ibu. Saya setuju apabila ada orang tua yang tidak ingin menyekolahkan anak nya di sekolah formal, karena banyak pelajaran dan didikan yang bisa didapatkan di luar bangku sekolah formal, namun kembali pada kesepakatan orang tua apakah mereka mampu untuk melakukan itu. untuk saya sendiri, saya tetap ingin menyekolahkan anak di sekolah formal, karena disana nantinya dia bisa berinteraksi dengan teman- teman dan gurunya, belajar menghargai perbedaan dan bersosialisasi dengan lingkungan di sekitarnya. tidak lupa juga sebagai orang tua, saya harus mengajarkan anak saya nantinya tentang ilmu dan pendidikan agama serta memberikan contoh yang baik bagi mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sharingnya ya kak :)
      Semoga beruntung!

      Delete
  10. Nama : Samuel Edward
    Akun Twitter : @SammyAddward
    Domisili : Kota Bandung, Jawa Barat
    Jawaban : Tidak setuju! Sekolah adalah tempat pendidikan. Jadi, bukan hanya tempat menimba ilmu. Di sekolah, anak bukan hanya akan belajar ilmu pengetahuan. Lebih jauh lagi, dia akan belajar bersosialisasi dengan orang lain. Juga bisa belajar mengenal lingkungan & alam saat dalam perjalanan pergi & pulang. Dan, yang terpenting, di sekolah, anak harus dibentuk karakternya agar berdisiplin, taat aturan, hormat pada yang lebih tua, menghargai orang lain, tepat waktu, tahu sopan-santun, beretika dalam bergaul & berinteraksi, kritis & tidak mudah mempercayai siapapun namun tetap menghormati apapun pendapat orang & siapapun yang mengemukakannya, mawas diri, waspada terhadap segala kemungkinan, tangguh, menghargai waktu, menghargai uang, bertoleransi, menghormati otoritas, dan tahu batasan (mana yang hak, mana yang kewajiban, dan mana yang bukan keduanya).
    Terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kak sudah sharing. Semoga beruntung yaaa :)

      Delete
  11. Nama Idris Hasibuan
    Akun Twitter @hasibuan271
    Domisili : Jakarta
    Jawaban : Tidak setuju, karena sekolah adalah salah satu tempat pendidikan, dan bisa bergaul dan menambah jiwa sosial. Klo memang mau homescoling juga seolah2 nanti si anak gak punya teman dan terbatas bangat. Sayang kan.,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siaaap. Makasih sudah ikut giveawaynya kak. Semoga beruntung :)

      Delete
  12. Nama: Bety Kusumawardhani
    Twitter: @bety_19930114
    Domisili: Surakarta

    Jawaban:
    Wajib sekolah donk. Aku lebih memilih sekolah konvensional karena anak secara tidak langsung akan mampu bersosialisasi, belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan menghargai keberagaman. Hal ini bisa menumbuhkan rasa empati, tanggung jawab, percaya diri dan keberanian saat maju berhadapan dengan banyak orang. Jangan sampai minat bakat anak berbanding terbalik dengan keberanian anak. Kalau mengembangkan minat dan bakat, orang tua bisa memasukkan si anak ke kursus tertentu sesuai minat bakatnya.

    Aku pikir di sekolah konvensional pun, setiap mata pelajaran nantinya juga bermanfaat untuk ke masa depan si anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya sharingnya. Semoga beruntung :)

      Delete
  13. nama ; Farida Endah
    Twitter/Ig ; @farida_271
    domisili ; Pacitan Jawa Timur

    jawaban : Harus sekolah lah, kan sekolah hukumnya wajib juga. meskipun aku belum punya anak, tapi aku sudah punya gambaran tentang bagaimana kelak aku menyekolahkan anak ku, semoga kelak suami aku setuju dengan rencanaku ini. aku ingin nanti anak ku sekolah dasarnya di sekolah pada umumnya ( bisa sekolah dasar negeri/swasta, sekolah alam ataupun sekolah terpadu) aku ingin anak ku bisa belajar di sana, karena sekolah tidak hanya tentang pelajaran matematika, bahasa indonesia, ipa tapi juga ada tentang toleransi, tentang saling berkenalan, berteman bersosialisasi, dsb nya, baru kemudian pas SLTP aku ingin masukkan anak ku ke pondok pesantren. karena aku pernah baca bahwa usia yang pas untuk seseorang anak berjauhan dari orang tuanya adalah saat usia 14/15 tahun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terima kasih ya kak sharingnyaa. Semoga keinginannya terwujud.
      Good luck :)

      Delete
  14. Nama: Hanat Futuh Nihayah
    Akun Twitter: @hanatfutuh
    Domisili: Banyumas

    Jawaban: kalau saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Sebagai (calon) Ibu (eaaak, masih jomblo jadi calon dulu kali ya ��), saya memilih untuk menyekolahkan anak. Ya pokoknya anak itu harus dapat pendidikan. Ngapake "education is a key to change world be better." Atau setidaknya meubah sikap agar tidak terlalu micin. *Ditonjok bakul micin*

    Sebenarnya, perihal pendidikan seperti apa saya belum bisa menjawab. Ya kali kan aku belum bersuami. Katanya kalau sudah bersuami, apa apa harus berdua, gak cuma tidurnya doang, tapi semuanya berdua. Perihal pendidikan untuk (calon) buah hati pun harus dipikirkan matang matang berdua. Yhaaa begituh.

    Eitsss, wait wait kak Affff. Demi dapatin buku ini. Saya mau kasih tahu jawaban saya yang nantinya jadi jawaban juga pas diskusi sama suamik. Saya pilih sekolah formal untuk pendidikan anak saya nantinya. Melalui sekolah formal, anak saya nantinya akan mendapatkan pembelajaran yang tidak hanya teori saja tetapi juga akan mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana bersosialisasi dengan banyak orang, lebih bisa menghargai karakter orang yang berbeda-beda. Di sekolah formal tentunya juga anak akan cenderung kritis dan kompetitif ya kan dalam belajar. Bukankah hidup itu sebuah kompetisi? *Tsaaaaa itu yang saya rasakan selama 17 tahun sekolah. Meski di samping kelebihan sekolah formal, pasti juga terdapat kekurangan, saya dan suamiku akan menutup kekurangan-kekurangan tersebut dengan peran kami sebagai orang tua. *Eaaaa.

    Lalu saya minta pada kamu yang baca ini semoga mendoakan saya lekas bertemu dengan calon papa dari anak-anak saya nantinya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Hanat. Kamu lucu ya ternyata. Terima kasih ya sudah ikutan giveaway ini. Semoga nanti pas diskusi sama suami nggak sampe lempar-lemparan micin ya. *eh

      Semoga beruntung! :)

      Delete
    2. Benernya aku mau jadi komika tapi kadang ngelawaknya nanggung kak. Garing 😬 makanya seneng banget dibilang lucu kek gicu sama kak Afri 😆 anw, thankyou kaaak y'r de fes yg bilang aku lucu. Semoga bisa meet up ! Dan dapat bukunya 😀

      Delete
  15. Nama : Tiya Fitriyani
    Twitter : @TFy_97
    Domisili : Bandung, Jawa Barat
    Jawaban saya : Saya tidak setuju dengan pernyataan diatas. Seorang anak berhak mendapatkan pendidikan dan pendidikan sangatlag penting bagi seorang anak. Jika nanti saya sudah menikah dan memiliki seorang anak, saya akan memberikan dia pendidikan yang baik di sekolah konvensional + agama agar anak dapat belajar bersosialisasi dengan orang lain, serta mendapatkan pendidikan agama agar anak memiliki moral dan perilaku yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sharingnya disini ya kak.
      Semoga beruntung :)

      Delete
  16. Nama : Dinan Wiyantika
    Twitter : @dinan_wiyantika
    Domisili : Sleman,DIY

    Jawaban : Aku tidak setuju, karena menurutku pendidikan itu sangat penting bagi perkembangan pola pikir anak. Ya memang keluarga adalah tempat pertama untuk belajar, namun anak juga perlu bersosialisasi dengan lingkungan luar. Kelak aku tidak akan memaksakan jenis pendidikan apa yang akan aku berikan pada anak-anakku, aku akan memberikan kebebasan pada mereka sesuai dengan kenyamanan mereka. Karena jika dipaksakan akan mengganggu psikis mereka. Mereka akan tertekan dan mungkin saja akan memberikan efek negatif pada kegiatan belajar mereka.
    Asalkan pendidikan yang mereka pilih itu baik untuk masa depan mereka dan nyaman, aku akan selalu mendukung mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siaaaap. Terima kasih ya kak sudah sharing dan ikut giveaway ini.
      Semoga beruntung :)

      Delete
  17. Nama : Akarui Cha (Acha)
    Twitter : @Akarui_Cha
    IG : @akarui.cha
    Domisili : Cibinong, Bogor

    Sebelum menjawab, saya mau cerita dulu, kalau papa saya itu doktor, lulusan s3 yang buat banyak orang, papa saya itu kerennya sungguh Allahu Akbar, tapi bagi beliau, nggak ada apa apanya. Juga, buat saya. Titel cuma embel embel yang kadang berharga, kadang nggak juga.

    Walaupun titel papa saya berderet, saya nggak serta merta termasuk ke dalam golongan orang yang menjunjung tinggi agar anak wajib sekolah tinggi, sampai ketinggian terbangnya, lalu lupa mendarat lagi dan pulang.

    Apa gunanya, jika suatu hari di saat dia memasuki usia sekolah nanti, anak saya hanya berangkat sekolah untuk bermain dengan teman-temannya, lalu bersaing mengejar nilai sehingga jadi juara kelas? Keren? Hebat?

    Apa gunanya orang tua di rumah kemudian, kalau anaknya yang juara kelas itu, malah lupa mengembangkan kemampuan lainnya di rumah, dan lupa soal mengembangkan keahlian lainnya? Bebenah rumah, misalnya. Masak, misalnya. Bersosialisasi, misalnya.

    Lalu ... waktu buat main sama mama papa berkurang sudah, demi les ini itu, karena ingin jadi juara?

    Saya mendukung anak agar sekolah, harus. Tapi bukan sekolah yang mengejar pengetahuan dengan jam belajar yang padatnya amit amit. Persaingan mengejar nilai yang amit amit.

    Sebab "sekolah" itu, sebaiknya di rumah. Gurunya? Ya orangtuanya. Teman bermain di waktu istirahat belajar? Orangtuanya juga.

    Makanya, buat saya, nikah muda itu macam masih kecebong, tapi udah dibuang ke kancah peperangan dua suku kodok untuk mempertahankan teritorinya. Ditambah, punya anak di usia muda, bikin detak jantung suka mendadak menggila. Kita jadi "sekolah" buat para bocil kita itu lho.

    Sekolah boleh, tapi "sekolah" sangat dibutuhkan anak anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah panjangnyaa. Terima kasih kak acha sudah sharing dan ikutan giveaway ini.
      Semoga berhasil yaaa :)

      Delete
  18. Nama : Salsabila Ainurrohman
    Akun IG: sabilaainur
    Domisili : Tasikmalaya

    Kalo denger dari judulnya "Jiwo Ngga Usah Sekolah", i absolutely disagree (cuman ngga tau juga sih karena belum baca tulisannya jadi belum tau pesan seperti apa yang ingin disampaikan Mba Pungky dan Mas Topan hehe).


    Sekolah itu sangat penting buat anak, mau itu sekolah formal, homeschooling atau metode pendidikan lainnya.

    Kalo aku pribadi, ngebayanginnya sih anak ku ntar mau tek sekolahin di sekolah formal berbasis Islam. Kenapa formal? Karena disitu sistem pendidikannya udah jelas, jadi nanti anak lebih gampang buat ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu anak juga bisa belajar sosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Nilai plus lagi kalo gurunya punya metode belajar dengan alam.

    Trus kenapa berbasis Islam? Ya supaya anak bisa belajar hidup islami sejak dini. Ngga kaya aku gitu udah segede gini pengetahuan Islamnya masih segitu-gitu aja haha.

    Harapannya supaya anak bisa menyeimbangkan kehidupan sosialnya di dunia dan bisa bawa bekal cukup untuk akhiratnya. hehehe

    Semoga kesampean Aamiin

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perihal Memulai Hidup Baru