Cerita dari Calon Jurnalis Gagal


Hello, guys!

Ceritanya hari ini aku mau bahas hal-hal yang ada  kaitannya sama Hari Pers Nasional. Bukan yang berat-berat, tapi seputar pengalaman aku jadi calon jurnalis (yang gagal) waktu itu. Nah, setelah resign dari salah satu kantor media online yang sedang naik daun itu, sekarang aku alhamdulillah sudah bekerja lagi. Ya, kayaknya aku emang cocoknya kerja yang cuma di balik meja, di depan laptop, dan mikir serta nggak banyak omong ini itu.

Sekitar 4 tahun lalu, waktu baru awal-awal masuk kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi, aku langsung berpikir mau jadi apa setelah lulus.

Kerja di TV?
Kayaknya seru, pasti ketemu artis terus. Hahaha. 

Kerja di periklanan?
Boleh juga, tapi harus punya ide kreatif gitu.

Jadi wartawan?
Asik nih, apalagi wartawan wisata, bisa jalan-jalan mulu kan.

Humas?
Bisa, bisa. Kan bisa kerja kantoran.

Segudang keinginan mampir di kepalaku waktu itu. Pertimbangannya masih belum yang berat-berat. Nyaris semua yang aku bayangkan adalah hal-hal manis, belum pahitnya, dan belum juga mendengar keluh kesah orang-orang yang sudah malang melintang di dunia itu, terlebih kalau dia jatuh karena terjebak.

Memilih pekerjaan pada akhirnya jadi sebuah pikiran tersendiri. Ternyata salah jurusan kuliah di awal bisa menjadi bumerang juga waktu akan melamar pekerjaan. Ya, aku nggak bilang kalau aku salah jurusan, meski selama kuliah, ilmu yang bisa aku serap hanya seputar hal-hal yang aku suka; seperti fotografi, film, pers, media massa, psikologi komunikasi, dan tidak termasuk dengan mata kuliah politik yang sungguh membuat aku pusing setiap kali masuk kelas.

Pernah dapet doa kayak gini :)

Waktu itu, aku menetapkan diri ingin menjadi seorang jurnalis setelah lulus. Aku ingat ada tulisanku di tembok kamar kos yang mengatakan kalau aku mau jadi jurnalis. Disitu tentu saja aku masih berpikir tentang hal-hal manis yang bisa aku dapatkan ketika menjadi seorang jurnalis atau wartawan. Tetapi, pikiran itu hampir bubar jalan ketika aku mendelegasikan diri masuk ke UKM Pers kampus. Rasanya, sungguh kayak mau mati setiap kali suruh liputan dan wawancara ke orang lain. Padahal itu masih magang. Kacau, kan?

Menjelang lulus, aku masih penasaran dengan profesi jurnalis. Meski tau kalau kondisiku adalah seorang introvert, ,tapi aku masih mau coba sampai batas mana aku bisa. Dan nekatlah aku melamar profesi wartawan di Tribun Solo. Menjalani tes demi tes, aku berhasil lolos sampai tahap wawancara. Saat itu perasaan senang cukup membuat aku bahagia. Siapa juga yang nggak senang bisa lolos tes kerja padahal belum wisuda? Tapi sayangnya karena ada misscommunication antara aku dan pihak Kompas yang menaungi Tribun Solo perihal jadwal wawancara, akhirnya aku batal datang ke lokasi wawancara. Hilang sudah kesempatan itu.

Aku sabar. Mungkin belum rezekinya. Padahal kota Solo enak banget. :(

Lalu, aku akhirnya apply sana sini sebelum wisuda. Tujuanku masih sama, aku ingin profesi sebagai jurnalis. Jadi, hampir semua lowongan sebagai jurnalis aku apply, salah satunya ke Kumparan yang memang lagi buka lowongan besar-besaran. Aku bahkan awalnya nggak tau kalau Kumparan itu media online yang baru berdiri kurang dari satu tahun. Wow. Baiklah, mencoba startup tidak ada salahnya.

Dari total 24ribuan CV yang masuk, aku lolos dalam 1000 orang yang diundang untuk mengikuti tes tertulis. Senang bukan main memang dan berharap bisa lolos sampai jadi jurnalis beneran. Tes tulis di Kuningan City, aku melihat Kumparan bukan lagi kayak kantor berita yang saklek dan menakutkan. Kesan pertamaku pada mereka tentunya sangat fun dan friendly. Kayaknya asik banget kalau beneran bisa kerja di sana.

You're try then you know.
Setelah menjalani tes tulis—yang salah satu pertanyaannya adalah tanggal pernikahan Hamish dan Raisa—email kejutan itu muncul. Aku masuk dalam 449 orang yang lolos ke tahap wawancara. Di sini aku takut banget karena biasanya kalau wawancara aku bakal jawab seadanya yang mereka tanya. Intinya aku nggak bisa "menjual diriku" ke mereka dengan bagus karena rasa groginya tinggi banget. Jadi, pas wawancara berlangsung (6 orang kandidat sekaligus dengan 5 pewawancara) aku ditanya paling sedikit dan jawab paling sedikit juga. Sampai di luar ruangan, aku sudah pasrah karena aku nggak pede sama diriku sendiri. Instingku bilang kalau si pewawancara cuma tanya sedikit tentang diirmu, maka mereka gak tertarik sama kamu.

Pasrah dengan hasilnya, aku sudah siap-siap mencari lowongan kerja baru. Sampai di pertengahan Oktober, aku dikabari kalau aku lolos dan langsung disuruh tandatangan kontrak. Alhamdulillah, kataku waktu itu. Aku beneran jadi jurnalis. Jadi kayak apa yang aku mau dan aku bayangkan selama ini. Saat itu, aku benar-benar bersyukur sama Allah karena sudah memberi kesempatan untuk aku mencoba bekerja jadi jurnalis.

Lalu, jadi jurnalis itu enak nggak sih?

Enak kalau kamu memang sanggup, suka, dan punya passion di situ. Kenyataannya, aku hanya senang menulis, tapi tidak terlalu punya passipn jadi wartawan. Belum lagi sisi introvert aku mendominasi sekali, sehingga ketika bertanya pada narasumber aku cenderung seadanya. Pertanyaan standar yang pada akhirnya nggak bisa menggali informasi apa-apa. Perasaan takut, malu, dan bingung mau tanya apa ke narasumber itu aku rasakan setiap hari ketika diberikan tugas liputan lapangan. Sampai setiap hari itu pula ketika pulang liputan aku selalu ingin menangis dan merasa nggak cocok sama profesi ini. Akhirnya aku memilih mundur, daripada memaksakan diri bertahan.

Ternyata jadi jurnalis itu nggak gampang. Kerja serba cepet, harus siap lari-larian ngejar narasumber, atau bahkan nunggu sampai ngantuk, dan yang terpenting—dan belum bisa aku lakukan—harus punya pikiran kritis supaya nggak gampang dimanipulasi atau digiring opininya.

Aku inget salah satu kutipan ini pas ODP di Kumparan, "Eagles fly alone, ducks fly together". Kutipan itu mengajarkan kalau menjadi jurnalis itu harus seperti elang yang berani dan mandiri, jangan seperti bebek yang harus rombongan kalau nyari berita.

Aku salut banget sama mereka yang benar-benar punya passion jadi jurnalis. Mereka tau apa yang harus mereka kerjakan. Dan hari ini, aku mau mengucapkan selamat Hari Pers Nasional untuk semua pewarta berita dimana pun kalian berada. Tetap jadi orang-orang yang tangguh dan memberikan informasi yang akurat sesuai fakta untuk masyarakat  di belahan dunia manapun.


Sincerely,

Calon jurnalis gagal :)

Comments

  1. Wiiiih keren bgt nih bisa ttd kontrak kumparan, tp ya gmn kl bukan pasionnya susah sih ya mau dipaksa juga.. Yg penting semangat yak :)

    ReplyDelete
  2. Pengalaman yang berharga, We ;)
    Semangat terus. Kerja emang paling enak kalau ngikutin hobi haha (one of my life goals).

    ReplyDelete
  3. Pengalaman yang berharga, We ;)
    Semangat terus. Kerja emang paling enak kalau ngikutin hobi haha (one of my life goals).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener hehehe. Kamu juga semangat. Semoga nemu kerjaan yang sesuai sama hobi yaaa :)

      Delete
  4. Pengalaman yang mengenalkan siapa diri sendiri sebenarnya. Kalau tidak pernah mencoba mana tau passionnya sesuai atau tidak. Keren mbak pengalamannya.

    Salam kenal jg :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thankyou kak :)

      Memang harus dicoba dulu biar tau ya. Hehe

      Delete
  5. Kalo saya ikut tes tertulis dan ada pertanyaan tentang tanggal nikah Hamis dan Raisa gitu, kayaknya kagak akan lolos. Saya jarang banget cari tau info soal berita-berita selebritas. :(

    Terus sekarang kerja di mana, Wi? Sekilas baca grup katanya udah gajian. :p Di daerah Depok atau Jakarta?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha saya paling ngga bisa jawab pertanyaan soal Kpop :(

      Kerja di CIbubur, Yog. Belum gajian tapi wkwk. Baru masuk bulan Februari.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perihal Memulai Hidup Baru