Perihal Memulai Hidup Baru

January 05, 2018



Hiduplah dengan damai, tanpa perlu menyimpan dendam.

Tahun 2018 sudah memasuki hari kelima, tetapi aku masih belum memberikan perubahan apapun dalam hidupku. Memulai hidup yang baru bukan berarti ada hal besar yang harus dilakukan. Bukan juga membuat targetan super tinggi untuk hari-hari berikutnya. Bagiku, memulai hidup yang baru sama seperti ketika aku mulai menulis di halaman buku yang baru. Sedangkan, buku yang lama bisa disimpan saja di rak.

Memulai hidup baru tentu nggak akan sama seperti kehidupan seorang bayi yang baru lahir. Hidupku, hidupmu, dan hidup kita hari ini adalah serangkaian perjalanan yang baru untuk diri kita. Perjalanan baru yang dipenuhi oleh pengalaman-oengalaman dari masa yang lalu.

Suatu hari aku membuka buku diary atau iseng-iseng membaca tulisan lama di blog ini. Hasilnya, aku punya banyak pemikiran unik di masa itu yang tidak lagi terulang di masa kini atau cerita-cerita klasik remaja yang membuatku geleng-geleng kepala. Sekarang aku sudah amat jarang melakukannya karena merasa tidak pantas lagi menuliskan hal-hal semacam itu. Padahal katanya, menulis adalah terapi, maka menulislah apa saja.

Membuka catatan lama seperti membaca sebuah pelajaran sejarah. Kita bisa belajar banyak hal. Mengambil hikmah dari segala penderitaan dan ujian yang sudah berhasil kita lewati. Kalau-kalau di depan sana ada fase yang mirip, kita seharusnya tahu langkah apa yang kita pilih agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Itu sebabnya, masa lalu hanya perlu disimpan dengan baik karena sewaktu-waktu kita butuh untuk berkaca, melihat diri kita yang dulu. Melihat apa saja yang pernah kita hadapi dengan baik.

Life must go on, right? Orang-orang beranggapan kalau masa lalu itu harus dihapus, aku juga berpendapat demikian. Tetapi, tidak semua masa lalu harus dihapus. Hal-hal yang baik dan menyenangkan; hal-hal yang memberikan pelajaran; hal-hal yang membuat kita hidup lebih baik lah yang harus disimpan.

Ketika hidup yang baru akan dimulai, hati dan pikiranmu juga harus mampu mengikuti.

Tahun 2017 banyak memberiku pelajaran berharga soal menghargai seseorang. Siapapun itu, baik yang terlihat secara langsung, atau yang diam-diam berada di belakangku untuk memberi dukungan. Salah satunya adalah soal menghargai kepergian orang lain. Berkali-kali aku menemukan titik yang sama, tetapi belum juga sadar kalau aku seharusnya bisa lebih legowo untuk membiarkan seseorang pergi dan menikmati hidupnya. Berkali-kali aku membiarkan diriku ikut larut di kehidupannya, sehingga kebebasan yang dimilikinya masih terikat olehku.

Setelah menyadari ada sebuah kesalahan fatal dalam caraku, aku lantas berpikir ulang: apakah aku akan begini terus? Aku harus bisa melepaskannya dengan baik, bukan dengan dendam yang makin memperkeruh suasana.

Kadang-kadang aku membenci orang-orang yang tidak bisa melepaskan orang lain dengan sempurna, tetapi ternyata aku sendiri melakukannya. Melepaskan seseorang ternyata tidak mudah. Kalau-kalau masih merindu, itu cuma efek samping. Aku harus tetap berusaha pergi pelan-pelan dan menahan semua rindu.

Jadi, maukah kamu memulai hidup baru denganku? :)

Itu status facebook-ku di awal tahun lalu. Harusnya hari ini pun aku sudah bisa lagi membuat rencana-rencana baru di hidupku. Semoga Allah merestui, semoga hari-hari kalian menyenangkan.

Salam hangat,


Tiwi.

Cileungsi, 5 Januari 2018.
00:15

You Might Also Like

2 comments

  1. waduhh pertanyaa itu untuk siapa Mbak ? jadi Ge'er nich....hehehh.

    ReplyDelete